Senin, 28 Maret 2011

Cari Calon Istri, Seorang Pria Buat Sayembara Digital

Jakarta - Seperti kisah dalam dongeng kerajaan, seorang pria asal San Fransisco, Amerika Serikat (AS), membuat sebuah sayembara untuk mencari calon istri. Uniknya, sayembara yang dibuatnya disesuaikan dengan zaman digital saat ini.



Chas McFeely, bujangan berusia 40 tahun, berencana menikah tahun depan. Untuk mencari pendamping hidupnya, McFeely lantas punya ide untuk membuat sebuah situs kencan dimana dia adalah satu-satunya kandidat yang 'available'.



Beralamat di Hookchasup.com, situs ini berisi semua hal tentang McFeely dan bagaimana cara memikatnya. Barang siapa yang bisa mencarikan calon istri untuknya, berhak mendapatkan hadiah uang tunai USD 10.000.






Bagaimana caranya? Sangat mudah ternyata. Siapa saja yang tertarik mengikuti sayembara ini hanya perlu bertindak seperti mak comblang, yaitu dengan memperkenalkan McFeely kepada wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta.



Nah, jika pada akhirnya nanti McFeely memutuskan menggandeng wanita itu ke pelaminan, sang mak comblang berhak atas USD 10.000.



agar tidak terjadi simpang siur saat klaim hadiah nantinya, pengacara McFeely menyebutkan uang tersebut diserahkan kepada mak comblang yang benar-benar mengontak McFeely ketika memperkenalkan calon istri untuknya.



Contohnya, jika seseorang memposting tautan soal sayembara McFeely di halaman Facebooknya, dan orang lain membacanya serta mengontak McFeely untuk diperkenalkan pada calon istri, maka orang yang mengontak MCFeely yang berhak atas hadiah itu, bukan orang yang memposting tautan sayembara pada halaman Facebooknya.



Sejak dibuat pada awal Maret silam, McFely mengaku sudah ada banyak orang yang berusaha mencarikan calon istri untuknya. "Inbox saya sangat penuh sekarang," ujarnya berseri-seri.



Apakah Anda juga tertarik mencarikan jodoh untuknya?

Mengharukan, Detik-Detik Terakhir Nabi Muhammad SAW Menjelang Ajal

'Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."



Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.



"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.



Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.



Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.



Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"."Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.



"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.



Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. " Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.



"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang."Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."



Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.



"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.



"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.



Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya."Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii!" - "Umatku, umatku, umatku"




BAHAYA LEUKIMIA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1      Latar Belakang Masalah
Perubahan Jaman berkembang pesat, perkembangan pada teknologi bermacam-macam, perkembangan teknologi makanan juga tidak kala berkembangnya. Perkembangan ini dibuktikan dengan berbagai macam campuran kimia berbahaya dalam makanan. Dulu kehidupan manusia sangat alami, makan makanan yang bergizi dan dari alam, tetapi sekarang berbagai campuran zat kimia berbahaya dimasukkan dalam makanan dan banyak diproduksi. Dengan penggunaan berbagai zat kimia ini menimbulkan banyaknya penyakit. Salah satunya adalah penyakit leukimia ini, penyakit ini juga timbul karena banyaknya zat kimia dalam tubuh manusia.
Masalah tentang penyakit ini mendorong penulis untuk menulis makalah berjudul “ Bahaya Leukimia”
1.2      Rumusan Masalah
1.2.1        Pengertian Leukimia
1.2.2        Bahaya Leukimia
1.2.3        Faktor Pendorong terjadinya Leukimia
1.2.4        Upaya Pengobatan
1.2.5        Upaya Pencegahan
1.2.6        Dimanakah asal mula penyakitnya
1.3      Pembahasan Masalah
1.3.1        Pengertian Leukimia
1.3.2        Bahaya Leukimia
1.3.3        Faktor Pendorong Terjadinya Leukimia
1.3.4        Upaya Pengobatan
1.3.5        Upaya Pencegahan



1.4      Tujuan Pembahasan
Di negara kita sudah banyak orang terkena penyakit leukimia. Memang sebagian sudah tidak dapat diselamatkan. Tetapi bagi yang belum stadium akhir masih bisa diobati. Oleh karena itu kita yang tidak terserang penyakit itu harus lebih waspada dengan mengikuti cara seperti di makalah ini
BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Arti Penyakit Leukimia
Leukimia dalam Bahasa Yunani leukos “ Putih” aima “ darah “ atau lebih dikenal dengan kanker darah. Leukimia ( Kanker Darah ) adalah sejenis penyakit adalah sejenis penyakit kanker yang menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone marrow). Sumsum tulang atau bone marrow ini didalam tubuh manusia memproduksi tiga type sel darah, diantaranya sel darah putih (berfungsi sebagai daya tahan tubuh melawan infeksi ), sel darah merah (berfungsi membawa oksigen ke dalam tubuh) dan platelet (bagian kecil sel darah yang membantu proses pembekuan darah).
Leukimia umumnya muncul pada diri seseorang sejak di masa kecilnya. Sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas memproduksi sel darah putih yang berkembang seara abnormal . Normalnya sel darah putih yang berkembang secara abnormal. Normalnya sel darah putih memproduksi ulang bila tubuh memerlukannya atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri. Tubuh manusia akan memberikan tanda / signal secara teratur kapankah sel darah diharapkan berproduksi kembali,
Pada kasus leukimia ( kanker darah), sel darah putih tidak merespon kepada signal / tanda yang diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan tidak terkontrol (abnormal) akan keluar dari sumsum tulang & dapat di temukan di dalam darah ferifer / darah tepi jumlah sel darah putih yang abnormal ini bila berlebihan dapat mengganggu fungsi normal lainya, sel Leukimia mempengaruh hemopoisis proses pembentukan sel darah normal dan imunitas tubuh.
2.1.1        Jenis Leukimia
1.      Leukimia Miolegenus Akut
AML mengenai sel sistem hematopeotopik yang kelak berdiferensi ke semua sel Mieloid : monosit, granulosit, eritrosit, dan trombosit semua kelompok usia dapat terkena : insedensis meningkat sesuai bertambahnya usia, Merupakan leukimia non Limfostik yang paling sering terjadi.
2.      Leukimia Mielogenius Kronis
CML juga dimasukkan dalam sistim keganasan dalam sistem miroid namun lebih banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan, CML jarang menyerang orang dibawah 20 tahun. Manifestasi mirip dengan gambaran AML tetapi tanda & gejala lebih ringan. Pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun, peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa, limpa membesar.
3.      Leukimia Limfositik Akut
ALL dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada anak laki-laki lebih banyak di banding perempuan, puncak Insiden usia 4 tahun, setelah usia 15 ALL jarang terjadi Manifestasi limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum tulang & jaringan perifer. Sehingga mengganggu perkembangan sel normal.
4.      Leukimia Limfositik Kronis
CLL merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 s/d 70 Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala, baru terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain.
2.1.2    Tanda & Gerak Leukimia
Gejala Leukimia yang dapat ditimbulkan umumnya berbeda diantara penderita, namun demikian secara umum dapat digambarkan sebagai berikut :
1.      Aktivitas                       : Kelelahan, kelemahan,malaise, kelelahan
 otot
2.      Sirkulasi                       : Palpalasi, takikardi, murmur jantung,
 membran mukosa pucat
3.      Eliminasi                       :diare, nyeri tekan perianal, darah merah,
 terang,fases hitam, penurunan, haluaran
 urin.

4.      Integritas Ego               : Perasaan tak berdaya, menarik diri, takut,
  Mah terangsang
5.      Makanan/ cairan           : anoreksia, muntah, perubahan rasa, faring
  itus, penurunan Berat Badan
6.      Neusonsori                   : Penurunan koordinasi, disorientasi, pusing
  kesumatan,parestisia,aktivitas kejang, otot
  mudah terenggang.
7.      Pernafasan                    : nafas pendek, batuk, dispeneu, takipneu,
  ronkhi, gemericik, penurunan bunyi nafas.
8.      Keamanan                    : gangguan penglihatan, perdarahan spontan
  tidak pembesaran nodus limfe terkontrol,
 demam, infeksi, kemerahan, purpura.
9.      Seksualitas                   : perubahan libido, perubahan menstruasi
 , impotensi,menoragia.
2.2    Faktor Pendorong Terjadinya Leukimia
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi  terdapat faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukimia yaitu :
1.      Faktor Genetik : virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen ( T-cell Leukimia- Lynphoma virus / HTLV)
2.      Radiasi ionisasi : lingkungan kerja, pranatal, pengobatan kanker sebelumnya.
3.      Terdapat zat-zat kimiawi seperti benzen, arsen, klomramfenikol, fenilbutazor, dan agen anti dan agen anti neoplastik.
4.      Obat-obat imunosupresif, obat karsinogenik, seperti diethylshilbestrol
5.      Faktor Herediter, misalnya kembar monozigot.
6.      Kelainan Krosom : sindrom bloom’s, trisomi 21 (sindrom down 3) , Trisomi G ( Sindrom Klinefelter’s), Sindrom Faconi’s Krisom Philadelphia positif, Telangicktasis ataksia




2.3    Bahaya Leukimia
Leukemia merupakan salah satu jenis penyakit kanker yang dimulai pada sumsum tulang, yang merupakan jaringan lunak di tulang yang bertanggung jawab untuk memproduksi sel darah merah , sel darah putih , dan platelets . Beberapa sel dapat yang mengubah menjadi leukemia sel , yang selanjutnya membagi menjadi lebih sehat sel . Sumsum tulang yang membuat sel belum banyak dikenal sebagai blasts, yang pada orang yang sehat akan menjadi lymphocytes . Namun, ini tidak blasts mengembangkan biasanya menjadi sel darah putih. Sel-sel yang abnormal kemudian mengambil tempat di benak biasanya dikhususkan untuk sehat sel, dan menghambat penciptaan sel-sel baru. Proses ini dapat mengakibatkan pengurangan sel darah merah dan perkembangan anemia, serta pengurangan sel darah putih yang mengarah ke sistem kekebalan lemah. Sebagai kanker tulang sumsum menciptakan lebih banyak sel-sel leukemia, sel-sel sehat mendorong mereka keluar dan menggantikan mereka , sehingga sulit untuk darah berfungsi dengan baik dan yang mengarah ke masalah medis yang semakin menjadi serius . Gejala-gejala untuk setiap jenis leukemia memang bervariasi yang pada umumnya : termasuk gejala demam dan panas dingin , kelelahan , sering infeksi , kehilangan nafsu makan dan berat , bengkak Kelenjar getah bening, mudah bruising atau pendarahan, sesak nafas, sakit tulang, malam sweats dan perdarahan masuk ke kulit . Dan maka dengan itu pengobatan untuk leukemia mungkin termasuk kemoterapi , radiasi dan semacam terapi biologi .
2.4    Upaya Pencegahan
Pemeriksaan Penunjang
1.      Hitung Darah Lengkap : menunjukkan normasotik, anemia normositik.
2.      Hemoglobulin   : dapat kurang 10 gr / 100 ML.
3.      Retikulosit         : jumlah biasanya rendah
4.      Trombosit          : sangat rendah




2.5    Upaya Pengobatan
Penanganan / pengobatan kasus penyakit leukimia biasanya di mulai dari gejala yang muncul seperti anemia, perdarahan dan infeksi. Secara garis besar penanganan dan pengobat leukimia bisa di lakukan dengan cara single atau gabungan seperti :
1.      Chemotherapy
2.      Therapy radiasi, Metode ini sangat jarang sekali digunakan
3.      Transplantasi bone morrow (sumsum tulang)
4.      Pemberian obat-obatan tablet & suntik
5.      Tranfusi sel darah merah dan platelet

BAB III
KESIMPULAN

            Demikian pemaparan serta upaya-upaya penanganan bahaya Leukimia yang telah digalakkan di berbagai lapisan masyarakat.
            Dengan harapan semoga dengan pemaparan sederhana ini dapat membantu pembaca dalam penanganan penyakit Leukimia.
Dari Pemaparan yang telah kami tulis dapat kami simpulkan :
1.      Leukimia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam sumsum tulang dan limfa nadi (Reves.2001) sifat khas Leukimia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sumsum tulang menggantikan elemen sumsum tulang normal. Juga terjadi proliferasi di hati, limfa dan nodus limfatikus dan invasi organmon hematologi, seperti meninggal,traktus gastrointesial, ginjal & kulit.
2.      Tanda & gejala Leukimia
1.      Anemia
2.      Perdarahan
3.      Terserang infeksi
4.      Nyeri tulang dan persendian
5.      Nyeri perut
6.      Perkembangan jaringan lympa
7.      Kesulitan bernafas (osypnea)
3.      Penyebab Leukimia
1.      Radiasi
2.      Leukemogenik
3.      Hereditas
4.      Virus Genetik


DAFTAR PUSTAKA


Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Leukimia



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Saat kelahiran adalah saat yang membahagiakan, tidak terlupakan, atau pengalaman yang tidak menyenangkan yang ingin dilupakan. Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial yang ibu dan keluarga menantikannya selama Sembilan bulan. Untuk itu, Indonesia telah mencanangkan Making Pregnancy Safer (MPS) sebagai strategi pembangunan kesehatan masyarakat menuju Indonesia sehat 2010 yang tujuan globalnya adalah menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. Hal itu dapat diwujudkan melalui tiga pesan kunci MPS yaitu, setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, setiap komplikasi obstetric dan neonatal mendapat pelayanan yang adequate, dan setiap perempuan usia subur mempunyai akses terhada pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran (www.google.com).
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (Manuaba, 2002).
Ada beberapa jenis persalinan yang dikenal dalam dunia kedokteran, yaitu persalinan normal dimana bayi keluar melalui vagina tanpa menggunakan alat, persalinan dengan bantuan yaitu pengeluaran bayi melalui vagina dengan bantuan tindakan atau dikeluarkan melalui perut dengan operasi SC, persalinan dengan vacum/forcep menggunakan penjepit dan mangkok khusus dari plastic atau logam untuk mengeluarkan bayi, dan persalinan dengan induksi biasanya dilakukan bila kehamilan sudah lewat waktu normal atau sudah mencapai 42 minggu (Iis Sinsin, 2008).
Sectio caesarea adalah proses persalinan yang dilakukan dengan cara mengiris perut hingga rahim seorang ibu untuk mengeluarkan bayi. Operasi ini dilakukan ketika proses persalinan normal melalui jalan lahir tidak memungkinkan karena komplikasi medis (www.litbang.depkes.2009).
Sectio caesarea tergolong sebagai salah satu pengalaman hidup paling berat dan operasi ini meninggalkan bekas yang sulit hilang. Resiko kematian ibu karena mengalami bedah sesar adalah tiga kali resiko kematian ketika menjalani persalinan normal, namun memang ibu tersebut memang sudah beresiko dalam kehamilan (wikipedia, 2007).
Keadaan cemas pada pasien yang akan dilakukan operasi dapat dicegah atau diturunkan melalui pendidikan kesehatan, sebagian ahli menitikberatkan dasar pendidikan, mengatakan bahwa manfaat dari pendidikan kesehatan adalah agar klien yang dibantu bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya yang berhubungan dengan kesejahteraan mental. Semua petugas kesehatan telah mengakui bahwa pendidikan kesehatan itu penting untuk menunjang program-program kesehatan yang lain. Akan tetapi pada kenyataannya pengakuan ini tidak didukung oleh kenyataan. Artinya dalam program-program pelayanan kesehatan kurang melibatkan pendidikan kesehatan. Meskipun program itu mungkin telah melibatkan pendidikan kesehatan tetapi kurang memberikan bobot.
Berdasarkan data yang di dapat di Rumah Sakit Sumber Waras Kertosono dari bulan Januari 2008 – Maret 2009 terdapat 396 kasus SC (80%), 37 kasus partus normal (7,47%), 16 kasus kuretage (3,2%), dan 46 kasus lain-lain seperti HPP, abortus imminens, cysta, hysterectomy (9,29%).
Kecemasan pada pasien pre operasi dapat menimbulkan berbagai dampak yang serius. Kecemasan bisa meningkatkan resiko pembedahan, meningkatkan kebutuhan akan anastesi dan sedative, serta memperlama proses penyembuhan. Kecemasan pada umumnya akan terjadi pada setiap pasien yang kemungkinan akan cacat atau kematian (Syamsu Hidayat R, 2005). Selain itu kecemasan juga dipengaruhi faktor-faktor lainnya seperti perbedaan usia, maturitas, status kesehatan jiwa dan fisik, gender, makna yang dirasakan, pengalaman sebelumnya, nilai-nilai budaya dan spiritual, repon koping yang dipelajari, serta dukungan sosial dan lingkungan (Isaacs A, 2005). Berbagai dampak psikologis yang dapat muncul adalah adanya ketidaktahuan akan pengalaman pembedahan yang dapat mengakibatkan kecemasan yang terekspresi dalam berbagai bentuk seperti marah, menolak, atau apatis terhadap kegiatan keperawatan klien yang cemas sering mengalami ketakutan atau perasaan tidak tenang (Rorrock, 1999).
Operaso sectio caesarea ini memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungannya adalah proses melahirkan memakan waktu lebih singkat, rasa sakit minimal, tidak melukai jalan lahir. Sedangkan kerugiannya adalah resiko kematian empat kali lebih besar dibanding persalinan normal, darah yang dikeluarkanpun dua kali lipat dibanding persalinan normal (www.litbang.depkes.2009).
Semua petugas kesehatan telah mengakui bahwa pendidikan kesehatan itu penting untuk menunjang program-program kesehatan yang lain. Akan tetapi pada kenyataannya pengakuan ini tidak didukung oleh kenyataan. Artinya dalam program-program pelayanan kesehatan kurang melibatkan pendidikan kesehatan. Untuk itu penulis tertarik mengambil judul “Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Sectio Caesarea di Rumah Sakit Sumber Waras Kertosono”.

1.2.  Rumusan Masalah
Apakah ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi sectio caesarea?

1.3.  Tujuan Penelitian
1.3.1.  Tujuan Umum
Mempelajari pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi sectio caesarea.



1.3.2.  Tujuan Khusus
1.3.2.1.   Mengidentifikasi perubahan respon verbal dan gejala somatic pada pasien pre operasi sectio caesarea sebelum diberikan pendidikan kesehatan.
1.3.2.2.   Menganalisis tingkat kecemasan pada pasien pre operasi sectio caesarea sebelum diberikan pendidikan kesehatan.
1.3.2.3.   Mengidentifikasi perubahan respon verbal dan gejala somatic pada pasien pre operasi sectio caesarea sesudah diberikan pendidikan kesehatan.
1.3.2.4.   Menganalisis tingkat kecemasan pada pasien pre operasi sectio caesarea sesudah diberikan pendidikan kesehatan.
1.3.2.5.   Menganalisa pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi sectio caesarea.

1.4.  Manfaat Penelitian
1.4.1.  Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini sebagai bahan acuan dan tambahan karya tulis bagi perkembangan IPTEK pada umumnya tentang pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi sectio caesarea.


1.4.2.  Manfaat Praktis
1.4.2.1.   Bagi Institusi
Sebagai bahan masukan dan tambahan referensi tentang pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi.
1.4.2.2.   Bagi Masyarakat
Sebagai bahan informasi bagi masyarakat khususnya pada pasien pre operasi sectio caesarea akan pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap penurunan tingkat kecemasan.
1.4.2.3.   Bagi profesi bidan
Sebagai bahan masukan bagi petugas kesehatan dalam menerapkan dan menurunkan kecemasan pada pasien pre operasi.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Pendidikan Kesehatan
2.1.1. Pengertian Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan kesempatan yang berdasarkan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan dimana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, atau bagaimana caranya melakukan apa yang bisa dilakukan, secara perorangan maupun kelompok dan meminta pertolongan bila perlu (Depkes RI, 1995).
Pendidikan kesehatan adalah sebagai usaha atau kegiatan untuk membantu individu atau masyarakat dalam meningkatkan kemampuan untuk mencapai kesehatan yang optimal (Notoatmodjo, 1993).
Dalam perawatan, pendidikan kesehatan merupakan suatu bentuk intervensi keperawatan yang mandiri untuk membantu klien baik individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui kegiatan pembelajaran yang didalamnya perawat berperan sebagai perawat pendidik (Soliha dkk, 2002).
Pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikan di bidang kesehatan (Rineka Cipta, 2003).

2.1.2. Visi dan Misi Pendidikan Kesehatan
Visi umum pendidikan kesehatan tidak terlepas dari Undang-Undang Kesehatan No. 23/1992, maupun WHO yakni : meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan, baik fisik, mental, dan sosialnya sehingga produktif secara ekonomi maupun sosial.
Untuk mencapai visi tersebut, perlu upaya-upaya yang harus dilakukan yang disebut “misi”. Misi pendidikan kesehatan secara umum dapat dirumuskan menjadi 3 butir, yaitu :
1.      Advokat (advocate)
Melakukan kegiatan advokasi terhadap para pengambil keputusan diberbagai program dan sector yang terkait dengan kesehatan. Melakukan advokasi berarti melakukan upaya-upaya agar para pembuat keputusan atau penentu kebijakan tersebut mempercayai dan meyakini bahwa program kesehatan yang ditawarkan perlu didukung melalui kebijakan-kebijakan atau keputusan-keputusan politik.
2.      Menjembatani (Mediate)
Dalam melaksanakan program-program kesehatan perlu kerjasama dengan program lain dilingkungan kesehatan, maupun sector lain yang terkait. Oleh sebab itu, dalam mewujudkan kerja sama atau kemitraan ini, peran pendidikan kesehatan diperlukan.

3.      Memampukan (Enable)
Memberikan kemampuan atau ketrampilan kepada masyarakat agar mereka mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri secara mandiri. Hal ini berarti masyarakat diberikan kemampuan atau ketrampilan agar mereka mandiri dibidang kesehatan mereka. Misalnya : pendidikan dan pelatihan dalam rangka meningkatkan keterampilan cara-cara bertani, beternak, bertanam obat-obatan tradisional, koperasi dan sebagainya dalam rangka meningkatkan pendapatan keluarga. Selanjutnya dengan ekonomi keluarga yang meningkat, maka kemampuan dan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan keluarga juga meningkat.

2.1.3. Strategi Pendidikan Kesehatan
2.1.3.1.Strategi Global (Global Strategi) Menurut WHO, 1984:
a.       Advokasi (advocacy)
Bentuk dari kegiatan advokasi ini antara lain : lobying, pendekatan atau pembicaraan-pembicaraan formal atau informal terhadap para pembuat keputusan, penyajian isu-isu atau masalah-masalah kesehatan atau yang mempengaruhi kesehatan masyarakat setempat, seminar-seminar masalah kesehatan, dan sebagainya. Output kegiatan advokasi adalah undang-undang, peraturan-peraturan daerah, instruksi-instruksi yang mengikat masyarakat dan instansi-instansi yang terkait dengan masalah kesehatan.
b.      Dukungan sosial (social support)
Tujuan kegiatan ini adalah agar kegiatan atau program kegiatan kesehatan memperoleh dukungan dari para tokoh masyarakat (toma) dan tokoh agama (toga). Selanjutnya toma dan toga ini dapat menjembatani antara pengelola program kesehatan dengan masyarakat.
c.       Pemberdayaan masyarakat (empowerment )
Pemberdayaan ini ditujakan kepada masyarakat langsung. Sebagai sasaran primer atau utama promosi kesehatan. Tujuannya adalah agar masyarakat memiliki kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Pemberdayaan masyarakat ini dapat di wujudkan dengan berbagai kegiatan antara lain : Penyuluhan kesehatan, pengorganisasian, dan pembangunan masyarakat (PPM)
2.1.3.2. Strategi berdasarkan Piagam Ottawa ( Ottawa Charter )
Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa – Canada tahun 1986 menghasilkan piagam ottawa ( ottawa Charter), dan salah satunya rumusan strategi promosi kesehatan yang dikelompokkan menjadi 5 butir, yaitu :

a.       Kebijakan berwawasan kesehatan (healty public policy )
Kegiatan yang ditunjukan kepada para pembuat keputusan atau penentu kebijakan. Sehingga dikeluarkan atau dikembangkanya kebijakan-kebijakan pembangunan yang berwawasan kesehatan. Hal ini berarti bahwa setiap kebijakan pembangunan di bidang apa saja harus mempertimbangkan dampak kesehatanya bagi masyarakat.
b.      Lingkungan yang mendukung (supportive environtment)
Kegiatan ini untuk mengembangkan jaringan kemitraan dan suasana yang mendukung. Kegiatan ini diajukan kepada para pemimpin organisasi masyarakat serta pengelola tempat-tempat umum (public service). Kegiatan mereka diharapkan memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan non-fisik yang mendukung atau kondusif terhadap kesehatan masyarakat.
c.       Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health service)
Kesehatan masyarakat bukan hanya masalah pihak pemberi pelayanan (provider), baik pemerintah maupun swasta saja, melainkan juga masalah masyarakat sendiri (konsumer). Oleh sebab itu penyelenggaraan pelayanan kesehatan juga merupakan tanggung jawab bersama antara pihak pemberi pelayanan (provider) dan pihak penerima pelayanan (konsumer).
d.      Keterampilan individu (personal skill)
Kesehatan masyarakat adalah kesehatan agregat, yang terdiri dari kelompok, keluarga dan individu. Oleh sebab itu kesehatan masyarakat terwujud apabila kesehatan kelompok, kesehatan masing-masing keluarga, dan kesehatan individu terwujud. Oleh sebab itu meningkatkan keterampilan setiap anggota masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri (personal skill) adalah sangat penting.
e.       Gerakan masyarakat (community action)
Telah disebutkan di atas bahwa kesehatan masyarakat adalah perwujudan kesehatan kelompok, keluarga, dan individu. Oleh sebab itu mewujudkan derajat kesehatan masyarakat akan efektif apabila unsur-unsur yang ada dimasyarakat tersebut bergerak bersama-sama. Dengan perkataan lain meningkatkan kegiatan-kegiatan masyarakat dalam mengupayakan peningkatan mereka sendiri adalah wujud dari gerakan masyarakat (community action).



2.1.4.  Sasaran Pendidikan Kesehatan
Berdasarkan pentahapan upaya promosi kesehatan, maka sasaran dibagi dalam 3 kelompok sasaran, yaitu :
1.      Sasaran Primer (Primary target )
Sesuai dengan permasalahan kesehatan, maka sasaran ini dapat dikelompokkan menjadi, kepala keluarga untuk masalah kesehatan umum, ibu hamil dan menyusui untuk masalah KIA (kesehatan ibu dan anak), anak sekolah untuk kesehatan remaja, dan sebagainya. Upaya promosi yang di lakukan terhadap sasaran primer ini sejalan dengan strategi pemberdayaan masyarakat (empowerment).
2.      Sasaran Sekunder ( secondary  target )
Para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan sebagainya. Disebut sasaran sekunder, karena dengan memberikan pendidikan kesehatan kepada kelompok diharapkan untuk selanjutnya kelompok ini akan memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat sekitarnya. Upaya promosi kesehatan yang ditunjukkan kepada sasaran sekunder ini adalah sejalan dengan strategi dukungan sosial (social support )
3.      Sasaran Tersier (tertiary target )
Para pembuat keputusan atau penentu kebijakan baik di tingkat pusat, maupun daerah adalah sasaran tersier pendidikan kesehatan. Dengan kebijakan-kebijakan atau keputusan yang dikeluarkan oleh kelompok ini akan mempunyai dampak terhadap perilaku para tokoh masyarakat (sasaran sekunder), dan juga pada masyarakat umum (sasaran primer). Upaya promosi kesehatan yang ditujukan kepada sasaran tersier ini sejalan dengan strategi advokasi (advocasy).

2.1.5. Lingkungan Pendidikan Kesehatan
Dikenal dengan Tri Pusat Pendidikan :
2.1.5.1.Di dalam keluarga (informal)
Penanaman kebiasaan-kebisaan, norma-norma, dan sikap hidup sehat.
2.1.5.2.Di sekolah (formal)
Melanjutkan penanaman norma-norma hidup sehat kepada murid, juga memberikan pengetahuan kesehatan.
2.1.5.3.Di masyarakat (non formal)
Dilakukan melalui berbagai lembaga dan organisasi masyarakat. Berupa program-program kesehatan bersama (masyarakat).

2.1.6. Sub Bidang Keilmuan Pendidikan Kesehatan
1.      Komunikasi
Komunikasi disini diperukan untuk mengkondisikan faktor-faktor predisposisi. Kurangnya pengetahuan, dan sikap masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit, adanya tradisi, kepercayaan yang negatif tentang penyakit, makanan, lingkungan dan sebagainya, mereka tidak berperilaku sesuai  dengan nilai-nilai kesehatan. Untuk itu maka diperlukan komunikasi, pemberian informasi-informasi tentang kesehatan.
2.      Dinamika Kelompok
Dinamika kelompok adalah salah satu metode pendidikan kesehatan yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada sasaran pendidikan. Oleh sebab itu, dinamika kelompok diperlukan dalam mengkondisikan faktor-faktor predisposisi perilaku kesehatan, dan harus dikuasai oleh setiap petugas kesehatan.
3.      Pengembangan dan Pengorganisasain Masyarakat (PPM)
Untuk memperoleh perubahan perilaku yang diharapkan secara efektif diperlukan faktor-faktor pendukung yang berupa sumber-sumber dan fasilitas yang memadahi. Sumber-sumber dan fasilitas-fasilitas tersebut sebagian harus digali dan dikembangkan dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat harus mampu untuk mengorganisasikan komunitasnya sendiri untuk  berperan serta dalam penyediaan fasilitas-fasilitas. Untuk itu, maka para petugas kesehatan harus dibekali ilmu Pengembangan dan Pengorganisasian Masyarakat (PPM).
4.      Pengembangan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD)
PKMD  dasarnya adalah bagian dari PPM, bedanya PKMD ini lebih khusus, mengarah kepada kesehatan. PKMD pada prinsipnya adalah wadah partisipasi masyarakat dalam bidang pengembangan kesehatan. Filosofi dan PKMD adalah pelayanan kesehatan untuk mereka, dari mereka, dan oleh mereka. Disamping itu PKMD adalah bnetuk operasional dari Primary Health Care yang merupakan wahana untuk mencapai kesehatan internasional (Deklarasi Alma Atta). Oleh  sebab itu, semua petugas keshatan harus dibekali dengan PKMD ini.
5.      Pemasaran Sosial (social marketing)
Untuk memasyarakat produksinya (product) kesehatan baik yang berupa peralatan, fasilitas maupun jasa-jasa pelayanan perlu usaha pemasaran. Pemasaran jasa-jasa pelayanan ini menurut istilah dunia bisnis disebut pemasaran sosial (social marketing). Dalam rangka pendidikan kesehatan, pemasaran sosial diperlukan untuk intervensi pada faktor-faktor pendukung dan faktor-faktor pendorong dalam perubahan perilaku masyarakat.
6.      Pengembangan Organisasi
Agar institut kesehatan sebagai organisasi pelayanan kesehatan dan organisasi-organisasi masyarakat mampu berfungsi sebagai faktor pendudukung dan pendorong perubahan perilaku kesehatan masyarakat, maka perlu dinamis dari organisasi-organisasi tersebut. Oleh sebab itu, mahasiswa sebagai calon pertugas kesehatan harus menguasai ilmu pengembangan organisasi.
7.      Pendidikan dan Pelatihan (diklat)
Semua petugas kesehatan, baik dilihat dari jenis dan tingkatannya pada dasarnya adalah pendidikan kesehatan (health educator). Ditengah-tengah masyarakat petugas kesehatan adalah menjadi tokoh penutan dibidang kesehatan. Untuk itu maka petugas kesehatan harus mempunyai sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kesehatan.
8.      Pengembangan Media (Tekhnologi Pendidikan Kesehatan)
Dalam proses pendidikan kesehatan, agar diperoleh hasil yang efektif diperlukan alat bantu atau media pendidikan. Fungsi media dalam pendidikan adalah sebagai alat peraga untuk menyampaikan informasi atau pesan-pesan tentang kesehatan. Oleh karena itu, mahasiswa kesehatan harus menguasai tekhnik-tekhnik pengembangan media ini.
9.      Perencanaan dan Evaluasi Pendidikan Kesehatan
Untuk mencapai tujuan program dan kegiatan yang efektif dan efisien diperlukan perencanaan dan evaluasi. Perencanaan dan evaluasi program pendidikan kesehatan mempunyai kekhususan bila didandingkan dengan program dan evaluasi proram-program kesehatan yang lain. Hal ini disebabkan karena tujuan program pendidikan kesehatan adalah perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku sasaran yang memerlukan pengukuran khusus. Oleh sebab itu, meskipun mahasiswa telah memperoleh perencanaan dan evaluasi secara umum, mereka perlu diberikan perencanaan dan evaluasi pendidikan kesehatan.
10.  Antropologi Kesehatan
Perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial budaya. Untuk itu melakukan mendekatan perubahan perilaku kesehatan, petugas kesehatan harus menguasai berbagai macam latar belakang sosio budaya masyarakat yang bersangkutan. Oleh sebab itu, petugas kesehatan harus menguasai antropologi, khususnya antropologi kesehatan.
11.  Sosiologi Kesehatan
Latar belakang sosial, sruktur sosial dan ekonomi mempunyai pengaruh terhadap perilaku kesehatan masyarakat. Petugas kesehatan juga perlu mendalami tentang aspek-aspek sosial masyarakat dan oleh karenanya mereka harus menguasai sosialogi terutama sosiologi kesehatan.
12.  Psikologi Sosial
Psikologi adalah merupakan dasar dari ilmu perilaku, untuk memahami perilaku individu, kelompok maupun masyarakat, maka tidak lepas dari mempelajari psikologi. Dalam memahami perilaku masyarakat, psikologi sosial sangat diperlukan. Oleh sebab itu, semua petugas kesehatan harus menguasai psikologi, terutama psikologi sosial.
2.17.  Metode Pendidikan Kesehatan
2.1.7.1.  Metode pendidikan individual
Dalam pendidikan kesehatan, metode pendidikan yang bersifat individual ini digunakan untuk membina perilaku baru, atau seseorang yang telah mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Bentuk dalam pendekatan ini antara lain:
1.     Bimbingan  dan penyuluhan (Guidance  and Counseling)
Dengan  cara ini kontak klien dengan petugas lebih intensif, setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat dikorek, dan dibantu penyelesaiannya. Akhirnya klien tersebut akan dengan sukarela dan berdasarkan kesadaran, penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut (mengubah perilaku)
2.      Interview (wawancara)
Cara ini sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan. Wawancara antara petugas kesehatan dengan klien untuk menggali informasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubahan, untuk mengetahui apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat. Apabila belum maka perlu penyuluhan yang lebih  mendalam lagi.

2.1.7.2.  Metode pendidikan kelompok
1)    Kelompok besar
Yang dimaksud kelompok besar disini adalah apabila peserta penyuluhan itu lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk kelompok besar ini antara lain :
a.       Ceramah
b.      Seminar
2)    Kelompok kecil
Apabila peserta kgiatan itu kurag dari 15 orang biasanya kita sebut kleompok kecil. Metode-metode yang cocok untuk kelompok kecil ini antara lain :
a)      Diskusi kelompok
b)      Cerah pendapat (Brain Storming)
c)      Bola salju (Snow Balling)
d)      Kelompok kecil-kecil (Bruzz Group)
e)      Role Play (memakai peranan)
f)        Permainan simulasi (Simulation Game)  
2.1.7.3.  Metode pendidikan masa
Pada umumnya bentuk pendekatan/cara masa ini tidak langsung. Biasanya menggunakan atau melalui media massa. Beberapa contoh media ini antara lain :
a)     Ceramah umum (Public Speaking)
b)    Pidato-pidato diskusi tentang kesehatan melalui media elektronika baik TV maupun radio
c)     Simulasi, dialog antara pasien dengan dokter atau petugas kesehatan liannya tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan melalui TV atau radio.
d)    Sinetron “Dokter Sartika” didalam acara TV juga merupakan bentuk pendekatan pendidikan kesehatan masa.
e)     Tulisan-tulisan dimajalah atau Koran, baik dalam bentuk artikel maupun Tanya jawab/konsultasi tentang kesehatan antara penyakit juga merupakan bentuk pendekatan pendidikan kesehatan masa.
f)      Bill Board, yang dipasang dipinggir jalan, spanduk poster dan sebagainya adalah juga bentuk pendidikan kesehatan masa.

2.1.8.   Konsep Pendidikan Kesehatan
2.1.8.1.  Penerapan konsep pendidikan didalam kesehatan
2.1.8.2.  Konsep  dasar pendidikan, suatu proses belajar : belajar berperilaku  yang sesuai dengan norma kesehatan.
2.1.8.3.  Definisi : usaha atau kegiatan untuk membantu individu, kelompok atau masyarakat dalam meningkatkan kemampuan (perilakunya) untuk mencapai kesehatan secara optimal. 


2.1.9.   Proses Pendidikan Kesehatan
Dipengaruhi oleh faktor-faktor :
1.      Materi, bahan belajar
2.      Lingkungan
3.      Intrumental
4.      Subyek belajar : individu, kelompok, masyarakat.

2.1.10. Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan
2.1.10.1.   Ruang Lingkup Berdasarkan Aspek Kesehatan
a.       Pendidikan kesehatan pada aspek promotif
Sarana pendidikan kesehatan pada aspek promotif adalah kelompok orang  sehat. Selama ini kelompok orang sehat kurang memperoleh perhatian  
b.      Pendidikan kesehatan pada aspek pencegahan dan penyembuhan
Pada aspek ini upaya pendidikan kesehatan mencakup 3 upaya kegiatan, yakni :
1)      Pencegahan tingkat pertama (primary prevention).
Sasaran promosi/pendidikan kesehatan pada aspek ini adalah kelompok masyarakat yang berisiko tinggi (high risk), misalnya : kelompok ibu hamil dan menyesui, para perokok, obesitas, para pekerja seks, dan sebagainya. Tujuan promosi/pendidikan kesehatan pada kelompok ini adalah agar mereka jatuh sakit atau terkena penyakit.
2)      Pencegahan tingkat kedua (secondary prevention)
Sasaran promosi kesehatan pada aspek ini adalah para penderita penyakit kronis, misalnya : asama, diabetes mellitus tuberkolusis, rematik, tekanan darah tinggi, dan  sebagainya. Tujuan upaya promosi kesehatan pada kelompok ini adalah agar penderita mampu mencegah penyakitnya menjadi lebih parah.
3)      Pencegaha tingkat tiga (tertiary prevention).
Sasaran promosi kesehatan pada aspek ini adalah kelompok pasien yang baru sembuh (recovery) dari suatu penyakit. Tujuannya adalah agar mereka segera pulih kembali kesehatannya.
2.1.10.2.   Ruang Lingkup Berdasarkan Tatanan Pelaksanaan
a.       Promosi  kesehatan pada tatanan keluarga (rumah tangga)
Keluarga atau rumah tangga adalah unit masyarakat terkecil. Oleh sebab itu untuk mencapai perilaku masyarakat yang sehat harus dimulai di masing-masing keluarga.
b.      Pendidikan kesehatan pada tatanan sekolah
Sekolah merupakan perpanjangan tangan pendidikan kesehatan bagi keluarga. Sekolah terutama guru pada umumnya lebih dipatuhi oleh murid-muridnya. Kunci pendidikan kesehatan disekolah adalah guru, oleh sebab itu perilaku guru harus di kondisikan, melalui pelatihan-pelatihan kesehatan, seminar, lokarya, dan sebagainya.
c.       Pendidikan kesehatan di tempat-tempat umum
Tempat-tempat umum disini mencakup pasar, terminal bus, Bandar udara, tempat-tempat perbelanjaan, tempat-tempat olah raga, taman-taman kota, dan sebagainya. Tempat-tempat umum yang sehat, bukan saja terjaga kebersihannya, tetapi juga harus dilengkapi dengan fasilitas kebersihan dan sanitasi, terutama WC umum dan sarana air bersih, serta tempat sampah.
d.      Pendidikan di tempat kerja
Tempat kerja merupakan tempat orang dewasa memperoleh nafkah untuk keluarga. Lingkungan kerja yang sehat (fisik dan non fisik ) akan mendukung kesehatan pekerja atau karyawannya dan akhirnya akan menghasilkan produktivitas yang optimal. Sebaliknya lingkungan kerja yang tidak sehat serta rawan kecelakaan kerja akan menurunkan derajat kesehatan pekerjaanya, dan akhirnya kurang produktif.

e.       Fasilitas pelayanan kesehatan
Fasilitas pelayanan kesehatan ini mencakup rumah sakit (RS), puskesmas, poliklinik, rumah bersalin, dan sebagainya. Kadang-kadang sangat ironis, dimana rumah sakit atau puskesmas tidak menjaga kebersihan fasilitas pelayanan kesehatan. Keadaan fasilitas tersebut kotor, tidak ada air, tidak ada tempat sampah, dan sebagainya. Oleh sebab itu pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan merupakan sasaran utama promosi kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan ini.
2.1.10.3      Ruang Lingkup Berdasarkan Tingkat Pelayanan
a.       Promosi kesehatan (health promotion )
Dalam tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan dalam peningkatan gizi, kebiasaan hidup, perbaikan sanitasi lingkungan, kesehatan perorangan, dan sebagainya.
b.      Perlindungan khusus (specific protection )
Dalam program imunisasi sebagai bentuk pelayanan perlindungan khusus ini pendidikan kesehatan sangat di perlukan terutama di Negara-negara berkembang. Hal ini karena kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi sebagai cara perlindungan terhadap penyakit pada orang dewasa maupun pada anak-anaknya masih rendah.
c.       Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment)
Dikeranakan rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit, maka penyakit-penyakit yang terjadi di dalam masyarakat sering sulit terdeteksi. Bahkan kadang-kadang masyarakat sulit atau tidak mau di periksa dan diobati penyakitnya. Hal ini akan menyebabkan masyarakat tidak memperoleh pelayanan kesehatan yang layak. Oleh sebab itu pendidikan kesehatan sangat diperlukan pada tahap ini.
d.      Pembatasan cacat (disability limitation)
Kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan penyakit, sering kali mengakibatkan masyarakat tidak melanjutkan pengobatanya sampai tuntas. Mereka tidak melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang komplit terhadap penyakitnya. Pengobatan yang tidak layak dan tidak sempurna dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan menjadi cacat atau memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu. Oleh karena itu pendidikan kesehatan juga diperlukan pada tahap ini.
e.       Rehabilitas (rehabilitation)
Setelah sembuh dari penyakit tertentu, kadang-kadang orang menjadi cacat. Untuk memulihkan cacatnya tersebut di perlukan latihan-latihan tertentu. Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran orang tersebut, ia tidak atau segan melakukan latihan-latihan yang dianjurkan. Oleh sebab itu jelas pendidikan kesehatan diperlukan bukan saja untuk orang yang cacat tersebut, tetapi juga untuk masyarakat.

2.2. Konsep Dasar Cemas
2.2.1. Pengertian Cemas
Kecemasan adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah dan aktivitasi system saraf autonom dalam merespon terhadap ancaman yang tidak jelas dan non spesifik.( Lynda Juall Carpenito, 2001)

2.2.2. Etiologi Cemas
Etiologi kecemasan berasal dari sumber internal atau eksternal yang dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu :
2.2.2.1. Ancaman terhadap integritas fisik
Yaitu ketidakmampuan fisiologisnya atau menurunya   kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

2.2.2.2. Ancaman terhadap self system
Sesuatu yang dapat membahayakan identitas, harga diri dan       fungsi sosial.

2.2.3.    Tingkatan Kecemasan
2.2.3.1.  Cemas ringan
Cemas ringan berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari-hari. Pada tingkat persepsi melebar dan individu akan berhati-hati dan waspada. Individu terdorong untuk belajar yang akan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.
2.2.3.2.   Cemas sedang
Pada tahap ini persepsi terhadap masalah menurun Individu lebih mengfokuskan pada hal-hal penting saat itu dan mengesampingkan hal lain.
2.2.3.3.   Cemas berat
Pada cemas berat, lahan persepsi sangat sempit, seorang cenderung hanya memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang lain. Seseorang tidak mampu berfikir berat lagi dan membutuhkan lebih banyak pengarahan / tuntunan.



2.2.3.4.  Panik
Pada tahap ini lahan persepsi telah terganggu sehingga individu tidak dapat mengendalikan diri lagi dan dapat melakukan apa-apa walaupun telah diberikan pengarahan.

2.2.4.   Faktor Predisposisi
2.2.4.1.  Teori psikoanalitik
Kecemasanan adalah konflik emosional yang terjadi diantara dua elemen kepribadian yaitu ia akan super ego. Ia akan mewakili dorongan insting dan impuls primitive seseorang, sedangkan super ego mencerminkan hati nurani. Ego berfungsi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan, dan fungsi kecemasan adalah meningkatkan ego bahwa ada bahaya.
2.2.4.2. Teori interpersonal
Kecemasan ini timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Kecemasan berhubungan dengan perkembangan trauma. Misalnya, perpisahan dan kehilangan sehingga timbul kelemahan fisik spesifik. Orang dengan harga diri rendah mengalami perkembangan kecemasan berat.
2.2.4.3.            Teori perilaku
Kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ahli tentang pembelajaran meyakini bahwa yang terbiasa dalam kehidupan dirinya dihadapkan pada ketakutan yang berlebihan lebih sering menunjukkan kecemasan pada kehidupan selanjutnya.
2.2.4.4. Teori keluarga
Menunjukkan bahwa gangguan kecemasan merupakan suatu hal yang biasa ditemukan dalam suatu keluarga.
2.2.4.5.            Teori biologis
Menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus yaitu benzodiazepines. Reseptor ini mungkin mengatur ansietas penghambat asam aminonutirik. Gamma nerorgerator (GABA) juga memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan ansietas. Selain itu telah dibuktikan bahwa kesehatan umum seseorang mempunyai akibat nyata sebagai presdisposisi terhadap ansietas. Ansietas mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stessor (Stuart, Sundeen 1888).

2.4.5.   Respon-respon Kecemasan
2.2.5.1.            Fisik
a.       Ketegangan motorik : gemetar, tegang, nyeri otot, letih, tidak dapat santai, kelopak mata bergetar, kening berkerut, muka tegang, gelisah, mudah terkejut.
b.      Hiperaktivitas saraf automatic :  berkeringat, jantung berdebar, denyut nadi cepat, tekanan darah naik, rasa dingin, sulit tidur, rasa mual, nafsu makan atau makan yang berlebihan.
2.2.5.2.            Emosional
Timbul rasa malu, merasa tidak berguna, sedih, memendam rasa marah, benci
2.2.5.3.            Sosial
Ingin mendapat perhatian orang lain, lebih banyak menuutut, membahayakan akan datangnya kemalangan terhadap dirinya.
2.2.5.4.            Spiritual
Merasa masa depanya suram dan tidak berarti, takut mati, merasa kehilangan kepercayaan.

2.3.  Konsep Dasar Sectio Caesarea
2.3.1.    Pengertian
Suatu persalinan buatan/pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim (Mansjoer 2001 : 344)
Sectio caesarea adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melaui suatu insisi pada dinding rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diats 500 gram (Hanifa Winkjosastro, 2000).
Sectio caesarea adalah persalinan melalui sayatan pada dinding abdomen dan uterus yang masih utuh dengan berat janin > 100 gram atau umur kehamilan > 28 minggu ( Manuaba, 1999).
Sectio caesarea adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat > 500 gram, melalui sayatan pada dinding uterus yang masih (utuh intact) (Syaifudin,2002)
Sectio caesarea adalah proses persalinan yang di lakukan dengan cara mengiris perut hingga rahim seorang ibu untuk mengeluarkan bayi (www.litbang.depkes.2008).
Pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus. (Sarwono Prawirohardjo, 2002 : 863).
Proses medis yang membantu kelahiran dengan menyayat dinding perut (abdomen) dan dinding rahim (uterus). (http://www.conectique.com/tips_solutions/pregnanc/baby_delivery/article?article_id=5083).
Seksio sesarea adalah lahirnya janin, plasenta dan selaput ketuban melalui irisan yang dibuat pada dinding perut dan rahim. (http://medlinux.blogspot.com/2007/09/penatalaksanaan-anestesi-pada-sc-html).
Bedah Caesar (bahasa Inggris : caesarean section atau caesarean section dalam Inggris-America), disebut juga dengan c-section (disingkat dengan CS) adalah proses persalinan dengan melalui pembedahan dimana irisan dilakukan di perut (laparatomi) dan rahim (histerotomi) untuk mengeluarkan bayi. Bedah caesar  umunya dilakukan ketika proses persalinan normal melalui vagina tidak memungkinkan karena beresiko kepada komplikasi medis lainya. Sebuah prosedur persalinan dengan pembedahan umumnya dilakukan oleh tim dokter yang beranggotakan spesialis kandungan spesialis anak, spesialis anastesi, serta bidan (http://id.wikipedia.org/wiki/Operasi_caesar.)
Gambar 2.1
Bedah Caesar Teknik Vertikal
2.3.2.    Jenis-jenis Sectio Caesarea
Ada beberapa jenis sectio caesarea (SC):
1.      Jenis klasik yaitu dengan melakukan sayatan vertikal sehingga memungkinkan ruangan yang lebih besar untuk jalan keluar bayi. Akan tetapi jenis ini sudah sangat jarang dilakukan hari ini karena sangat beresiko terhadap terjadinya komplikasi.
2.      Sayatan mendatar di bagian atas dari kandung kemih sangat umum dilakukan pada masa sekarang ini. Metode ini meminimalkan resiko perdarahan dan cepat penyembuhannya.
3.      Histerektomi caesar yaitu bedah caesar yaitu bedah caesar diikuti dengan pengangkatan rahim. Hal ini dilakukan dalam kasus-kasus dimana perdarahan yang sulit tertangani atau ketika plasenta tidak dapat dipisahkan dari rahim.
4.      Bentuk lain dari bedah caesar seperti extraperitonetal SC atau Porro SC.
5.      Bedah caesar berulang dilakukan ketika pasien sebelumnya telah pernah menjalani bedah caesar. Umumnya sayatan dilakukan pada bekas luka operasi sebelumnya.
Gambar 2.2
Sebuah Operasi Caesar Sedang Dalam Proses







2.3.3.   Indikasi
Gambar 2.3
Seorang Bayi Ketika Dilahirkan Melalui Bedah Caesar
Dokter spesialis kebidanan akan menyarankan bedah caesar ketika proses kelahiran melalui vagina kemungkinan akan menyebabkan resiko kepada sang ibu atau si bayi.
Hal-hal lainya yang dapat menjadi pertimbangan disarankan bedah caesar antara lain :
1.       Proses persalinan normal yang lama atau kegagalan proses persalinan normal (dystosia).
2.       Detak jantung Janin Melambat (fetal distress).
3.       Adanya kelelahan persalinan.
4.       Komplikasi pre-eklamsia.
5.       Sang ibu menderita herpes.
6.       Putusnya tali pusar.
7.       Resiko luka parah pada rahim.
8.       Persalinan kembar (masih dalam kontrofersi).
9.       Sang bayi dalam posisi sungsang atau menyamping.
10.   Kegagalan persalinan dengan induksi.
11.   Kegagalan persalinan dengan alat bantu (forcep atau ventouse).
12.   Bayi besar (makrosomia-berat badan lahir lebih dari 4,2 Kg).
13.   Masalah plasenta seperti plasenta previa (ari-ari menutupi jalan lahir), placental abruption placenta accreta).
14.   Kontraksi pada pinggul.
15.   Sebelumnya pernah menjalani bedah caesar (masih dalam kontroversi).
16.   Sebelumnya pernah mengalami masalah pada penyembuhan perinium (oleh proses persalinan sebelumnya atau penyakit Crohn).
17.   Angka d-dimer tinggi bagi ibu hamil yang menderita sindrom antibodi antifoslipid.
18.   CPD atau cephalo pelvic disproportion (proporsi panggul dan kepala bayi yang tidak pas, sehingga persalinan terhambat).
19.   Kepala bayi jauh lebih besar dari ukuran normal (hidrosefalus).
20.   Ibu menderita hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi).










2.3.4.   Resiko Bedah Caesar
Gambar 2.4
Metode Sayatan Mendatar
Resiko operasi caesar :
Pada ibu :
1.      Resiko kematian 4 x lebih besar dibandingkan dengan persalinan normal.
2.      Darah yang dikeluarkan 2 x lipat dibanding persalinan normal.
3.      Rasa nyeri dan penyembuhan luka lebih lama pasca operasi dibandingkan persalinan normal.
4.      Jahitan bekas operasi beresiko terkena infeksi, sebab jahitan itu berlapis-lapis dan proses keringnya juga tidak merata.
5.      Perlengkapan organ bagian dalam karena noda darah tidak bersih.
6.      Kehamilan dibatasi 2 tahun setelah operasi.
7.      Harus di caesar lagi saat melahirkan kedua dan seterusnya.
8.      Pembuluh darah dan kandung kemih tersayat pisau bedah.
9.      Air ketuban masuk pembuluh darah yang mengakibatkan kematian mendadak saat mencapai paru-paru dan jantung.
Pada bayi :
1.      Resiko kematian 2-3 x lebih besar dibandingkan dengan bayi yang lahir melalui proses persalinan biasa.
2.      Cenderung mengalami sesak nafas karena cairan dalam paru-parunya tidak keluar, pada bayi yang lahir normal cairan itu keluar saat terjadi tekanan.
3.      Sering mengantuk dikarenakan obat penangkal nyeri yang di berikan pada sang ibu juga mengenai bayi.
Sumber : RSHS, RS Dr. Sardjito, Parent’s Guide.

2.3.5.   Prevalensi
Badan kesehatan Dunia memperkirakan bahwa angka persalinan dengan bedan caesar adalah sekitar 10 % sampai 15% dari semua proses persalinan di negara-negara berkembang di bandingkan dengan 20% di Britania Raya dan 23% di Amerika Serikat. Kanada pada 2003 memiliki angka 21%.
Berbagai pertimbangan mengemuka akhir-akhir ini mengingat proses bedah caesar yang seringkali di lakukan bukan karena alasan medis. Berbagai kritik pula mengemuka karena bedah caesar yang disebut-sebut lebih mengutungkan rumah sakit atau karena bedah caesar lebih mundah dan lebih singkat waktu prosesnya oleh dokter spesialis kandungan. Kritik lainya diberikan terhadap mereka yang meminta proses bedan caesar karena tidak ingin mengalami nyeri waktu persalinan normal.

2.3.6.   Anastesi
Gambar 2.5
Sang Ibu Tetap Dalam Keadaan Sadar Waktu Bayinya Dilahirkan
Sang ibu umumnya akan diberikan anastesi local (spinal atau epidural), yang memungkinkan sang ibu untuk tetap sadar selama proses pembedahan dan untuk menghindari si bayi dari pembiusan.
Pada masa sekarang ini, anastesi umum untuk bedah caesar menjadi semakin jarang di lakukan karena pembiusan lokal lebih menguntungkan bagi sang ibu dan si bayi. Pembiusan umum di lakukan apabila terjadi kasus-kasus berisiko tinggi atau kasus darurat.

2.3.7.   Persalinan Normal Setelah Bedan Caesar
Persalinan normal setelah bedah caesar adalah umum di lakukan pada masa sekarang ini. Di waktu lalu, bedah caesar di lakukan dengan sayatan vertikal sehingga memotong otot-otot rahim. Bedah caesar sekarang ini umumnya melalui sayatan mendatar pada otot rahim sehingga rahim lebih terjaga kekuatanya dan dapat menghadapi kontraksi kuat pada persalinan normal berikutnya. Luka bekas sayatan pada bedan caesar sekarang ini adalah terletak di bawah “ garis bikini”

2.3.8.   Sejarah
Gambar 2.6
Bedah Caesar Dilakukan Di Kahura, Uganda
Sebagaimana Diamati Oleh R.W. Felkin Tahun 1879
Pada 1316, Robert II dari Skotlandia di lahirkan dengan bedah caesar, ibunya Marjorite Bruce, kemudian meninggal. Bukti pertama mengenai ibu yang selamat dari bedah caesar adalah di Siegershausen, Swiss tahun 1500 : Jacob Nufer, seorang pedagang babi, harus membedah istrinya setelah proses persalinan yang lama. Prosedur bedah caear di waktu lampau mempunyai angka kematian yang tinggi. Di Britania Raya dan Irlandia, angka kematian akibat bedah caesar pada 1865 adalah 85%. Beberapa penemuan yang membantu menurunkan angka kematian antara lain :
1.       Pengembangan prinsip-prinsip asepsis.
Pengenalan prosedur penjahitan rahim oleh Max Sanger pada 1882
2.       Exstraperitoneal SC dilanjutkan dengan sayatan mendatar rendah (Kroning,1912).
3.       Perkembangan teknik anestesi.
4.       Tranfusi darah.
5.       Antibiotik.
Pada 5 Maret 2000, Indes Ramirez melakukan bedah caesar pada dirinya sendiri dan berhasil mempertahankan nyawanya dan juga bayinya, Orlando Ruiz Ramirez. Ia dipercaya sebagai satu-satunya wanita yang melakukan bedah caesar pada dirinya sendiri.

2.3.9.   Masalah Pada Pasien Post SC
1.      Timbulnya Rasa Nyeri.
Setelah melahirkan, memang kadang-kadang masih timbul rasa sakit di bagian perut. Terjadinya kontraksi dan pengerutan rahim serta penyembuhan jaringan sekitar vagina kadang-kadang menimbulkan rasa sakit selama beberapa hari. Untuk itu, kadang-kadang pasien membutuhkan obat-obatan antibiotik rasa sakit selama 4-5 ( Kasdu,2003).

2.      Perdarahan
Luka akibat tercerabutnya pembuluh darah plasenta dari dinding rahim pada waktu persalinan, membutuhkan penyembuhan segera. Penyembuhan luka ini terjadi secara alamiah dengan proses mengerutnya rahim tersebut dengan cara rahim yang berkontraksi selama beberapa minggu setelah persalinan. Apabila rahim tidak dapat berkontraksi, dikhawatirkan dapat terjadi perdarahan yang dapat membahayakan ibu. Dalam keadaan seperti ini, biasanya dokter akan memberikan suntikan agar rahim dapat berkontraksi (Kasdu,2003).
3.      Infeksi
Infeksi yang mungkin terjadi adalah akibat operasi. Infeksi ini menyebabkan suhu tubuh meningkat. Umumnya, keadaan ini sering terjadi pada hari pertama selesai operasi, suhu tubuh tidak juga turun. Biasanya, demam ini baru muncul, pada hari ketiga atau keempat setelah persalinan. (Kasdu 2003).

2.3.10.  Prinsip Perawatan Pasca Operasi
2.3.10.1.     Perawatan awal
a.       Letakkan pasien dalam posisi untuk pemulihan
1)      Tidur miring dengan kepala agak ekstensi untuk membebaskan jalan nafas.
2)      Letakkan lengan atas di muka tubuh agar mudah.
3)      Tungkai bawah agak tertekuk, bagian atas lebih tertekuk daripada bagian bawah untuk menjaga keseimbangan.
b.      Segera setelah selesai pembedahan periksa kondisi pasien.
1)      Check tanda vital dan suhu tubuh setiap 15 menit selama 1 jam pertama kemudian setiap 30 menit pada jam selanjutnya.
2)      Periksa tingkat kesadaran setiap 15 menit sampai sadar.
c.       Yakinkan bahwa jalan udara bersih dan cukup ventilasi.
d.      Tranfusi bila di perlukan.
e.       Jika tanda vital tidak stabil dan hematokrit turun walau diberikan tranfusi, segera kembalikan ke kamar bedah karena kemungkinan terjadinya perdarahan pasca bedah.
2.3.10.2.    Fungsi Gastrointstinal
Fungsi gastrointestinal pada pasien obstetri yang tindakanya tidak terlalu berat akan kembali normal dalam waktu 12 jam.
a.       Jika tindakan bedah tidak berat, berikan pasien diet cair.
b.      Jika ada tanda infeksi atau jika sectio caesarea karena partus macet atau ruptura uteri, tunggu sampai bising usus timbul.
c.       Jika pasien bisa flatus, mulai berikan makanan padat.
d.      Pemberian infus diberikan samapai pasien bisa minum dengan baik.
e.       Jika pemberian infus melebihi 48 jam berikan cairan elektrolit untuk balance (misalnya kalium klorida 40 mEq dalam 1 liter cairan infus).
f.        Sebelum keluar dari rumah sakit pasien sudah harus bisa makan makanan biasa.
2.3.10.3.  Pembalutan dan Perawatan luka
Penutup atau pembalut luka berfungsi sebagai penghalang dan pelindung terhadap infeksi selama proses penyembuhan yang di kenal dengan repitalisasi. Pertahankan penutup luka ini selama hari pertama setelah pembedahan untuk mencegah infeksi selama proses repitalisasi berlangsung.
a.       Jika ada pembalut luka terjadi perdarahan atau keluar cairan tidak terlalu banyak, jangan mengganti pembalut.
1)      Perkuat pembalutnya.
2)      Pantau keluarnya cairan dan darah.
3)      Jika perdarahan tetap bertambah atau sudah membasahi setengah atau lebih dari pembalutnya, buka pembalut, inspeksi luka, atasi penyebabnya, dan ganti dengan pembalut baru.
b.      Jika pembalut agak kendor, jangan ganti pembalut tetapi berikan plester untuk mengencangkan.
c.       Ganti pembalut dengan cara yang steril.
d.      Luka harus di jaga agar tetap kering dan bersih tidak boleh terdapat bukti infeksi (seroma) sampai ibu diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
2.3.10.4.  Analgesia
a.       Pemberian analgesik sesudah bedah sangat penting
b.      Pemberian sedasi yang berlebihan akan menghambat mobilitas yang di perlukan waktu pasca bedah.
2.3.10.5.  Perawatan fungsi kandung kemih
Pemakaian kateter dibutuhkan pada prosedur bedah. Semakin cepat melepas kateter akan lebih baik mencegah kemungkinan infeksi dan membuat wanita lebih cepat mobilisasi.
a.       Jika urine jernih, kateter dilepas 8 jam setelah bedah (sesudah semalam )
b.      Jika urine tidak jernih, biarkan kateter dipasang sampai urine jernih
c.       Kateter dipasang 48 jam pada kasus :
1)      Bedah karena ruptura uteri
2)      Partus lama atau partus macet.
3)      Oedema perinium yang luas.
4)      Sepsis puerpuralis atau pelvio peritonitis.
d.      Jika terjadi perlukaan pada kandung kemih, pasang kateter sampai minimum 7 hari atau urine jernih.
e.       Jika sudah tidak memakai antibiotika, berikan nitrofurantoin 100 mg per oral per hari sampai kateter di lepas (untuk mencegah sistitis)
2.3.10.6.  Antibiotika
Jika ada infeksi atau pasien demam berikan antibiotika sampai bebas demam selama 48 jam.
2.3.10.7.  Mengambil Jahitan
a.       Jahitan fasia merupakan hal utama pada bedah abdomen.
b.      Melepas jahitan kulit 5 hari setelah hari bedah
2.3.10.8.  Demam
a.       Suhu yang melebihi 380◦ C atau lebih pasca pembedahan harus dicari penyebabnya.
b.      Yakinkan pasien tidak panas minimum 24 jam sebelum keluar dari rumah sakit.

2.3.10.9.  Ambulasi atau mobilisasi
a.       Ambulasi menyebabkan perbaikan sirkulasi, membuat nafas jalan, dan menstimulasi kembali fungsi gastrointestinal normal.
b.      Dorong untuk menggerakkan kaki dan tungkai bawah sesegera mungkin, biasanya dalam waktu 24 jam.
( Saifuddin,2002 : U 40 – U 42 )

2.3.11.  Komplikasi
1.      Infeksi Puerperal (nifas)
a.       Ringan, dengan kenaikan beberapa hari saja.
b.      Sedang, dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi, disertai dengan dehidrasi, dan perut sedikit kembung
c.       Berat, dengan peritonitas sepsis dan ileus paralitik. Hal ini sering dijumpai pada partum lama, sebelumnya terjadi infeksi, karena ketuban yang telah pecah terlalu lama.
2.     Perdarahan
Disebabkan karena :
a.       Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka
b.      Atonia uteri
3.      Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih.
4.      Kemungkinan reptura uteri spontan pada kehamilan yang lalu.


2.3.12.  Nasehat pada Klien Post Operatif
1.      Dianjurkan melakukan perawatan payudara dan personal hygiene
2.      Dianjurkan cukup istirahat dan makan makanan yang bergizi.
3.      Kehamilan berikutnya hendaknya dengan antenatal yang baik.
4.      Anjurkan jangan hamil selama kurang lebih 2 tahun, dengan memakai kontrasepsi yang tidak menekan produksi ASI seperti IUD.


BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

            Kerangka Konsepsual
Kerangka konseptual adalah kerangka hubungan antara konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan di laksanakan.
(Notoatmodjo,2005)


 



Pendidikan Kesehatan
 
               






Cemas
 

Cemas
Berkurang/menurun
 

 



Keterangan :
                    : Diteliti
                    : Tidak diteliti
Gambar 3.1    Kerangka konseptual pengaruh pemberian pendidikan                   kesehatan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada                   pasien operasi sectio caesarea.









Penjelasan :
Pendidikan kesehatan diberikan pada pasien pre operasi sectio caesarea, kebanyakan pasien pre operasi akan mengalami kecemasan karena pasien belum tau secara jelas apa yang akan di lakukan pada dirinya. Hanya sebagian kecil pasien saja yang mengerti tentang operasi tersebut, yang memang sejak awal mereka sudah siap untuk dilakukan operasi. Untuk itu Pendidikan kesehatan sangat penting diberikan pada pasien yang akan dilakukan operasi apapun khususnya dalam hal ini adalah operasi sectio caesarea, dimana tenaga kesehatan harus menjelaskan pada pasien secara jelas tentang apa yang akan dilakukan pada pasien tersebut melalui pendidikan kesehatan sehingga keadaan cemas pada pasien pre operasional akan berkurang/ menurun.

            Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau pertanyaan penelitian (Nursalam,2003)
Ho   :   tidak ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap                   penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi sectio                  caesarea.
Ha    :   ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap                    penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi sectio                   caesarea.

BAB IV
METODE PENELITIAN

          Desain Penenlitian
Desain penelitian adalah sesuatu yang vital dalam penelitian yang memungkinkan memaksimalkan suatu kontrol beberapa faktor yang bisa mempengaruhi validitas suatu hasil. Desain riset sebagai petunjuk peneliti dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian untuk mencapai suatu tujuan atau menjawab suatu pertanyaan (Nursalam, 2003).
Dalam penelitian ini menggunakan desain “perlakuan” ulang. Rancangan “perlakuan” ulang, disebut juga one group pre and post test design, ialah rancangan penelitian yang hanya menggunakan satu kelompok subyek serta melakukan pengukuran sebelum dan sesudah perlakuan pada subyek. Perbedaan kedua hasil pengukuran tersebut dianggap sebagai efek perlakuan.
Desain Penelitian :
O1    P → O2
Keterangan :
P         : Perlakuan
O1      : Subyek sebelum perlakuan
O2      : Subyek sesudah perlakuan


          Populasi, Sampel, dan Sampling
            Populasi
Populasi adalah objek penelitian atau objek yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2005). Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh klien sectio caesarea di Rumah Sakit Sumber Waras Kertosono.
            Sampel
Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Hidayat, 2003). Pada penelitian ini sampelnya adalah klien pre operasi sectio caesarea di Rumah Sakit Sumber Waras Kertosono yang sesuai dengan kriteria inklusi.
4.2.2.1      Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek penelitian dari suatu populasi target dan terjangkau yang akan diteliti (Nursalam dan Pariani, 2006 : 63).
Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah :
1)      Pasien pre operasi sectio caesarea
2)      Bersedia untuk diteliti
3)      Pasien sadar penuh
4.2.2.2      Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengkiaskan subyek yang memenuhi inklusi dari studi karena berbagai sebab (Nursalam dan Pariani, 2003 : 66).
Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah :
1)      Pasien pre operasi sectio caesarea cyto
2)      Tidak bersedia untuk diteliti
3)      Pasien tidak sadar
Sampel :
Keterangan :
n             =    Jumlah sampel
N            =    Jumlah populasi
d             =    Tingkat signifikan/ketetapan yang diinginan (0,05)
= 36,36 responden
= 36 responden




          Kerangka Kerja
Populasi

Pasien pre operasi SC pada Bulan April s/d Juni 2009 sebanyak 40 orang di RS Sumber Waras Kertosono

Sampel

Pasien pre operasi SC pada Bulan April s/d Juni 2009 sebanyak 40 orang di RS Sumber Waras Kertosono
Sampling

Metode Purposive Sampling
Cemas
Pendidikan Kesehatan
Cemas Berkurang/Menurun
Pengumpulan Data (Kuesioner)
Analisa Data
Hasil dan Pembahasan
Kesimpulan dan Saran

Gambar 4.1 :  Bagan Alur kerangka kerja pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap penurunan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi Seksio Caesarea.


          Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tetantang sesuatu konsep pengertian tertentu (Notoatmodjo, 2005).
            Variabel Independent (Variabel Bebas)
Variabel independent merupakan variabel yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat) (Hidayat, 2003). Variabel independen dalam penelitian ini adalah pemberian pendidikan kesehatan.
            Variabel Dependent (Variabel Terkait)
Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel bebas (Hidayat, 2003). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah penurunan tingkat kecemasan.

          Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik (variabel) yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut (Nursalam, 2003).






Tabel : 4.1  Definisi Operasional Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Sectio Caesarea

Variabel
Definisi
Operasional
Parameter
Alat Ukur
Skala
Skor
Variabel Independen : Pemberian pendidikan kesehatan
Pemberian informasi tentang prosedur sectio caesarea, persiapan caesarea, dan masalah yang dapat timbul saat SC.
Berapa persen (%) pasien pre operasi yang mengerti dan tidak mengerti.
Panduan pertanyaan tentang sectio caesarea
Ordinal
Menjawab > 50% = baik
Menjawab < 50% = sedang
Dependen :
Penurunan tingkat kecemasan
Tingkat kekhawatiran atau kegelisahan akan operasi sectio caesarea
Berapa persen (%) pasien yang tidak cemas, mengalami cemas ringan, sedang, berat, dan berat sekali.
Kuesioner
Ordinal
> 14     :  tidak ada kecemasan
14-20  :  kecemasan ringan
21-27  :  kecemasan sedang
28-46  :  kecemasan berat
42-56  :  kecemasan berat sekali


          Tempat dan Waktu Penelitian
            Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Sumber Waras Kertosono.
            Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Juli 2009.

          Teknik Pengumpulan Data dan Pengolahan Data
4.7.1      Teknik Pengumpulan Data
Setelah mendapatkan ijin dari Akademik dan direktur Rumah Sakit Sumber Waras Kertosono, kemudian peneliti mengadakan pendekatan dengan responden untuk mendapatkan persetujuan dari responden sebagai subyek penelitian yaitu ibu pre operasi sectio caesarea yang ada di Rumah Sakit Sumber Waras Kertosono. Cara pengambilan data dengan menggunakan observasi dan kuesioner.
4.7.2      Pengolahan Data
Data yang telah dikumpulkan dalam bentuk susunan saat dikumpulkan disebut data mentah (ROW data). Pengolahan dapat dilakukan dengan cara :
1.      Tabulasi
Adalah data mentah yang dimasukkan kedalam tabel. Tabel dapat berupa beberapa kolom dan baris, tabel distribusi frekuensi dan dapat berupa tabel kontingensi. (Wibisono Soesanto, 2008 : 7)
2.      Coding
Adalah menggunakan kartu card (kartu kode) dimana data dimasukkan di dalam kartu yang telah disediakan. (Wibisono Soesanto, 2008 : 7).
3.      Editing
Adalah memilah-milah yang sama kemudian dikumpulkan. (Wibisono Soesanto, 2008 : 7).
Aspek cemas diukur dengan rumus :
Keterangan :
x          = Skor dalam persen
SP        = Skor dalam persen
SM      = Skor maksimum
Hasil penelitian total skor :
Kurang dari 14 : tidak ada kecemasan
14 – 20                        : kecemasan kurang
21 – 27                        : kecemasan sedang
28 – 41                        : kecemasan berat
42 – 56                        : kecemasan berat sekali




          Analisa Data
Analisa data merupakan suatu proses analisis yang dilakukan secara sistematis terhadap data yang telah dikumpulkan. Dalam penelitian ini analisis data dilakukan melaui tahap sebagai berikut :
1)      Data disajikan dalam bentuk diagram/tabel/grafik.
2)      Data yang berbentuk ordinal dan nominal diolah dan dianalisis dengan menggunakan uji statistik uji t. dengan menggunakan derajat kemaknaan ά < 0,05 artinya ada perbedaan antara dua variabel, maka H0 ditolak. Pertimbangan uji statistik tersebut adalah untuk menjelaskan perbedaan antara dua variabel independen dan variabel dependen dengan skala data ordinal.
Kemudian peneliti akan menggambarakan tingkat kecemasan sesuai kriteria, yaitu :
Kurang dari 14      : tidak ada kecemasan
14 – 20                 : kecemasan kurang
21 – 27                 : kecemasan sedang
28 – 41                 : kecemasan berat
42 – 56                 : kecemasan berat sekali
Rumus uji t adalah :
thitung          =
S1              = Variabel sampel ke-1
S2              = Variabel sampel ke-2
s1              = standar deviasi sampel ke-1
s2              = standar deviasi sampel ke-2

          Etika Penelitian
Masalah etika penelitian kebidanan merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian, mengingat penelitian kebidanan berhubungan langsung dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan. Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut :
            Informed consent
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Tujuan informed consent adalah agar subyek mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya. Beberapa informasi yang harus ada dalam informed consent tersebut antara lain : partisipasi pasien, tujuan dilakukannya tindakan, jenis data yang dibutuhkan, komitmen, prosedur pelaksanaan, potensial masalah yang akan terjadi, manfaat, kerahasiaan, informasi yang mudah dihubungi, dan lain-lain.
            Anonimity (tanpa nama)
Masalah etika kebidanan merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam penggunaan subyek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama Responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.
            Kerahasiaan (confidentiality)
Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.

            Keterbatasan
Keterbatasan merupakan kelemahan dan hambatan dalam penelitian, keterbatasan yang dialami peneliti adalah :
1)            Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan cara ini memungkinkan responden menjawab pertanyaan dengan tidak jujur, responden tidak mengerti maksud dan tujuan dari pertanyaan sehingga akan mempengaruhi hasil dari data.
2)            Kurangnya pengetahuan dan pengalaman peneliti sehingga kurang sempurna dalam pembuatan laporan penelitian.
3)            Pengumpulan data melalui kuesioner memiliki jawaban lebih banyak dipengaruhi oleh harapan-harapan pribadi yang bersifat subyektif sehingga hasilnya akan mewakili secara kualitatif.
4)            Adanya keterbatasan waktu menyebabkan referensi yang digunakan sebagai acuan sangat terbatas.