Senin, 11 April 2011

MENGIDENTIFIKASI MASALAH KEBIDANAN DI KOMUNITAS



Pergerakan sasaran agar Mau Menerima / mencapai Pelayanan KIA
v     Salah satu sasaran pembangunan kesehatan oleh penurunan AKI dan AKB
  • Kematian Aki di Indonesia adalah :    I : Karena perdarahan
                                                                      II : Karena eklamsia
                                                                      III : Infeksi
Pemicu keadaan tersebut antara lain persalinan pada umumnya terlalu muda, terlalu tua paritas tinggi, anemia, gizi buruk bumil
Upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut :
1.  Peningkatan fungsi pelayanan (standar pelayanan berubah 5 T menjadi 14 T)
2.  Peningkatan kemampuan petugas ( Memberi pelatihan pad petugas yang berhubungan dengan kasus-kasus yang ada)
3.  Pelatihan dukun bayi
4.  Penyuluhan Kepada masyarakat
Tujuan :
Umum    : Petugas kesehatan mau dan mampu melaksanakan KIE pada bumil, bulin, bufas dan BBL
Khusus   :
  • Petugas memahmi program KIA
3 B   : - Bersih diri
                 - Bersih alat
                 - Bersih tempat
  • Petugas mengetahui strategi dalam pelayanan KIA
  • Petugas mengetahui dan mampu melaksanakan manajemen (pemeriksaan standard an penyuluhan) bumil, bulin, bufas, dan BBL
Sasaran penyuluhan
  • Bumil, melahirkan, nifas
  • Suami / keluarga terdekat
v     Pesan yang harus disampaikan
a.       Pemberian dukungan moril, materil kepada ibu hamil, bersalin dan nifas
b.      Landasan agama yang menunjang penyuluhan mengenai proses reproduksi wanita serta kewajiban suami dan keluarga
c.       Mengenal tanda RT bumil, bulin, bufas dan BBL
d.      Menghilangkan anggapan yang keliru bahwa kehamilan merupakan keadaan alami sehingga bumil tidak samasekali perlu memeriksakan kehamilannya.
e.       Memberikan pengetahuan kepada bumil tentang pemeliharaan kesehatan terhadap dirinya periksa teratur
f.        Menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kesehatan untuk memeproleh persalinan yang aman dan selamat
g.       Bumil makan makanan yang bergizi.
2.1.2 KEHAMILAN PADA REMAJA
Masyarakat menghadapi kenyataan bahwa kehamilan pada remaja makin meningkat dan menjadi masalah. Terdapat dua faktor yang mendasari perilaku seks pada remaja. Pertama, harapan untuk kawin dalam usia yang relatif muda (20 tahun) dan kedua, makin derasnya arus informasi yang dapat menimbulkan rangsangan seksual remaja terutama remaja di daerah perkotaan yang mendorong remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah di mana pada akhirnya memberikan dampak  pada terjadinya penyakit hubungan seks dan kehamilan di luar perkawinan pada remaja.
Pada akhirnya, masalah kehamilan remaja mempengaruhi diri remaja itu sendiri, dari masyarakat mereka mendapat cap telah berperilaku di luar norma dan nilai-nilai yang wajar, sehingga memberikan konflik bagi mereka seperti masalah putus sekolah,psikologis, ekonomi, dan maslah dengan keluarga serta masyarakat disekitarnya.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang masalah di atas, berikut akan diuraikan secara rinci faktor-faktor yang perlu mendapatkan perhatian.
1.             Masalah kesehatan reproduksi.
Kesehatan reproduksi merupakan masalah penting untuk mendapatkan perhatian terutama di kalangan remaja. Remaja yang kelak akan menikah dan menjadi orang tua sebaiknya mempunyai kesehatan reproduksi yang prima, sehingga dapat menurunkan generasi sehat. Di kalangan remaja telah terjadi semacam revolusi hubungan seksual yang menjurus ke arah liberalisasi yang dapat berakibat timbulnya berbagai penyakit hubungan seks yang merugikan alat reproduksi. Bila pada saatnya diperlukan untuk hamil normal, besar kemungkinan kesehatan reproduksi sudah tidak optimal dan dapat menimbulkan berbagai akibat samping kehamilan. Dengan demikian dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatannya sehingga dapat mempersiapkan diri untuk hamil dalam keadaan optimal.
2.             Masalah psikologis pada kehamilan remaja.
Remaja yang hamil di luar nikah menghadapi berbagai masalah psikologis, yaitu rasa takut, kecewa, menyesal dan rendah diri terhadap kehamilannya sehingga terjadi usaha untuk menghilangkan dengan jalan gugur kanduk. Gugur kandung mempunyai kerugian yang paling kecil bila dibandingkan dengan melanjutkan kehamilan. Syukur bila kehamilannya terjadi menjelang perkawinan sehingga segera dilanjutkan dengan pernikahan. Keadaan akan makin rumit bila pemuda atau laki-laki yang menghamili malah tidak bertanggung jawab sehingga derita hanya ditanggung sendiri dan keluarga. Keluarga pun menghadapi masalah yang sulit di tengah masyarakat seolah-olah tidak mampu memberikan pendidikan moral kepada anak gadisnya.
Kehamilan di luar nikah masih tetap merupakan masalah besar di Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Masyarakat belum dapat menerima anak yang orang tuanya belum jelas, sehingga dianggap anak haram atau hasil perzinahan. Walaupun misalnya perkawinan dapat dilangsungkan tetapi kemungkinan besar perkawinan tersebut tidak dapat bertahan lama karena dilakukan dalam keadaan kesiapan mental dan jiwa yang belum matang.
3.      Masalah sosial dan ekonomi keluarga.
Perkawinan yang dianggap dapat menyelesaikan masalah kehamilan remaja tidak lepas dari kemelut seperti :
Ø      Penghasilan yang terbatas sehingga kelangsungan hamilnya dapat menimbulkan berbagai masalah kebidanan
Ø      Putus sekolah, sehingga pendidikan terlantar
Ø      Putus kerja, karena berbagai alasan sehingga menambah sulitnya masalah sosial ekonomi
Ø      Ketergantungan sosial ekonomi pada keluarga menimbulkan stres (tekanan batin)
Ø      Nilai gizi yang relatif rendah dapat menimbulkan berbagai masalah kebidanan.
Bila remaja memilih untuk mengasuh anaknya sendiri, masyarakat belum siap menerima kelahiran tanpa pernikahan. Berbeda halnya dengan negara maju seperti Amerika, masyarakatnya sudah dapat menerima kelahiran sebagai hasil hidup bersama.
4.      Dampak kebidanan kehamilan remaja.
          Penyulit pada kehamilan remaja , lebih tinggi dibandingkan ‘kurun waktu reproduksi sehat’ antara umur 20 sampai 30 tahun. Keadaan ini disebabkan belum matangnya alat reproduksi untuk hamil, sehingga dapat merugikan kesehatan ibu maupun perkembangan dan pertumbuhan janin.Keadaan tersebut akan makin menyulitkan bila ditambah dengan tekanan (stres) psikologis, sosial, ekonomi, sehingga memudahkan terjadi :


2.1.3 Unsafe Abortion
2.1      Pengertian
Aborsi    : è Berhentinya (mati) dan dikeluarkannya kehamilan sebelum 20 minggu (dihitung dari haid terakhir) atau berat janin kurang dari 500 gram atau panjang janin kurang dari 25 cm. pada umumnya abortus terjadi sebelum kehamilan 3 bulan.
                      (Maria Ulfah Anshor, dkk. 2002 : 3)
                è Upaya terminasi kehamilan yang dilakukan sebelum janin mampu hidup di luar kandungan.
                      (http://www.tempointeraktif.id.com)
                è Ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
                      (Arif Mansjoer. 2001 : 260)
                è Gugurnya janin sebelum janin tersebut bertahan hidup di dalam rahim.
                      (Robert M. Yongson: 1998 : 1)
                è Pengeluaran Hasil Konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Dibawah ini dikemukakan beberapa definisi para ahli tentang abortus.
EASTMAN : Abortus adalah mkeadaan terputusnya suatu kehmilan dimana fetus belum sanggup hidup sendiri diluar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 400 – 1000 gram, atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu.
JEFFCOAT : Abortus adalah pengeluaran dari hasil konsepsi sebelum usia kehamilan 28 minggu, yaitu fetus belum viable by law.
HOLMER    : Abortus adalah terputusnya kehamilan sebelum minggu ke 16 dimana proses plasentasi belum selesai.
(Rustam Mochtar, 1998 : 209)
Unsafe Abortion (Aborsi yang tidak aman) :
Aborsi yang dilakukan dengan menggunakan metode yang beresiko tinggi, bahkan fatal, dilakukan oleh orang yang tidak terlatih atau tidak terampil serta komplikasinya merupakan penyebab langsung kematian wanita usia reproduksi.
2.2      Metode Aborsi yang tidak Aman
Metode aborsi yang tidak aman yang umumnya digunakan di berbagai negara bervariasi, dari metode teknik medis lanjut yang digunakan oleh dokter sampai teknik tradisional berbahaya yang digunakan oleh dukun, teman, atau tetangga yang menolong atau oleh wanita hamil itu sendiri.
Metode yang paling sering digunakon oleh dokter dan perawat adalah mengeluarkan isi kandungun dengan menggunakan alat, terutama dengan dilatasi dan kuretase. Saat ini, metode kuretase bedah secara sangat progresif diganti oleh metode kuretase penghisapan, yang salah satunya adalah induksi haid. Cara lain adalah histerotomi yaitu pengeluaran isi rahim dengan pembedahan besar yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Di negara maju, cara ini telah ditinggalkan. Di India, cara ini masih dilakukan, yang biasanya diikuti dengan sterilisasi pembedahan.
Prosedur lain yang digunakan secara legal di rumah sakit selama trimester kedua kehamilan adalah perangsangan kontraksi rahim dengan memasukkan larutan garam atau prostaglandin. Prosedur ini memakan waktu 36 - 72 jam. Prosedur ini tidak selalu efektif.
Untuk para pelaku abortus yang tidak profesional, upaya yang dilakukan antara lain adalah memasukkan cairan ke dalam uterus. Cairan yang digunakan bervariasi, mulai dan air sabun sampai disinfektan rumah tangga yang dimasukkan melalui semprotan ataupun alat suntik. Di beberapa negara juga menggunakan pasta yang bersifat abortif yang mengandung zat iritatif.
Sediaan jamu dan obat-obatan per oral juga sering digunakan. Berbagai jamu dan obat yang diduga bersifat abortif dapat ditemukan di pasaran bebas di negara-negara berkembang. Di Bangladesh obat-obat tersebut kemungkinan mengandung kimia, permanganat, ergot, dan air raksa. Di Malaysia, ditemukan pil timah oksida dan minyak zaitun.
Metode lain yang relatif lebih berbahaya adalah memasukkan alat atau benda asing ke dalam rongga rahim. Di India digunakan pucuk wortel yang telah dikeringkan; di Philipin alat tesebut adalah pisang atau daun tumbuh-tumbuhan lokal kalachulchi. Di Ghana digunakan_ranting pohon comelina yang jika dimasukkan ke dalam rahim akan menyerap air dan mengembang membuka leher rahim serta menyebabkan abortus. Jenis lain adalah tanaman Jatropha yang mengandung bahan kimia korosif yang dapat menyebabkan abortus.
Di Amerika latin, upaya abortus dilakukan dengan memasukkan ujung kateter yang lentur ke dalam rongga rahim. Ujung yang lain diikatkan di pangkal paha. Wanita tersebut kemudian disuruh berjalan sehingga ujung  kateter yang berada di dalam rongga rahim bergoyang-goyang menggangu isi rahim dan merangsang abortus. Ada pula yang menggunakan cairan. kina yang toksik pada bayi dan si ibu. Ada juga para wanita yang melakukan sendiri dengan memasukkan, plastik berongga ke dalam rongga rahim kemudian memasukan alat atau kawat melalui plastik tersebut untuk mengorek rongga rahim. (http://www.tempointeraktif.id.com)
Tindakan Unsafe Abortion dilakukan oleh :
a.  Tindakan sendiri
Mencoba menggugurkan kandungannya dengan cara minum obat-obatan atau jamu-jamuan/ ramuan tertentu yang diketahuinya justru tidak diperbolehkan bagi orang hamil, biasanya banyak dan klien yang sebelumnya telah mencoba cara sendiri seperti minum jamu, pil atau kapsul, makan nanas muda, minum minuman yang mengandung alkohol atau soda, dan sebagainya.
b.  Tindakan dukun
Pertolongan aborsi secara tradisional dilakukan dengan cara yang bervariasi. Cara yang paling banyak diterapkan adalah dengan mengurut perut dengan tangan (ada yang dengan sekali) secara berulang-ulang (sering tidak cukup sekali, beberapa perlu diulang hingga 2 sampai 3 kali), dengan rasa sakit yang luar biasa. Memasukkan batang daun pepaya yang diolesi dengan getah tumbuhan tertentu ke dalam rahim, memberikan ramuan tertentu kepada klien untuk diminum sebelum diakhiri dengan pijatan Umumnya penanganan pasca aborsi dilakukan dengan meminum jamu dan anti biotik.
Salah seorang dukun di wilayah Selatan, memberi pertolongan dengan cara memberikan pil jodkali, yaitu pil yang dijual bebas, dikenal sebagai pil pembersih darah, dan dapat juga menghilangkan penyakit rematik maupun pegal-pegal. Aturan minumnya pun bervariasi menurut umur kehamilannya. Semakin lama umur kehamilan, semakin banyak jumlah pH yang harus ditelan setiap harinya. Dalam waktu kurang lebih tiga hari, keterlambatan haidnya tersebut dapat luntur, yaitu berupa pendarahan. Baru setelah haidnya turun, pasen disuruh datang lagi untuk diurut, dan kemudian diberi ramuan tradisional untuk membersihkan perut, yang juga berupa pil PO, ramuan kopi, dan kuning telur.
(Maria Ulfah Anshor. 2002 : 194 – 195)

2.3      Karakteristik Wanita Yang Mencari Pelayanan Unsafe Abortion
Ada berbagai alasan dan kondisi individual yang memungkinkan wanita melakukan aborsi. Di berbagai daerah, pola itu bergeser secara konstan mengikuti perubahan sosial, peraturan perundang-undagan dan moral yang berlaku. Meskipun demikian, beberapa karakteristik umum dapat diindentifikasi.
Status sosial ekonomi
Pertolongan abortus yang tidak aman lebih banyak dialami oleh kelompok masyarakat yang miskin, karena ketidaktahuan dan ketidak mampuan mereka untuk membiayai jasa pertolongan profesional. Sebaliknya, kelompok masyarakat yang kaya yang dikatakan relatif lebih layak yang melakukan aborsi, mempunyal risiko lebih kecil untuk mendapat pertolongan aborsi yang tidak aman.
Pendidikan
Aborsi lebih sering di lakukan oleh para wanita yang berpendidikan rendah daripada yang berpendidikan tinggi.
Tiaggal di daerah perkotaan
Pengguguran kandungan lebih banyak terjadi di daerah perkotaan jika dibandingkan dengan daerah pedesaan. Di Malaysia dan Mesir, rasio abortus di perkotaan dan di pedesaan berkisar antara 3-4 kali. Akan tetapi, karena fasilitas pelayanan kesehatan yang berkualitas lebih banyak berada di daerah perkotaan maka angka kematian akibat abortus relatif lebih jarang karena komplikasi abortus dapat ditangani dengan baik. Sebaliknya, di daerah pedesaan kasus abortus dan fasilitas pelayanannya relatif lebih rendah.
Status perkawinan
Umumnya yang melakukan aborsi adalah para wanita yang belum menikah. Survei yang dilakukan di sembilan negara Amerika Latin menemukan 18% komplikasi abortus terjadi pada kelompok yang belum menikah. Di Korea dan Thailand, insiden aborsi di kalangan yang tidak menikah sangat tinggi, umumnya terjadi di kalangan mahasiswa dan wanita pekerja. Di Subsahara Afrika, abortus lebih sering dilakukan di kalangan wanita yang tidak menikah. Sebaliknya, di India abortus umumnya dilakukan oleb para wanita yang telah menikah. Masalah yang sangat memprihatinkan, bahwa hampir di semua negara program keluarga berencana hanya diperuntukkan bagi wanita yang telah menikah.
Umur
Penelitian yang dilakukan di Asuncion Bogota Lima Panama, dan Boenos Aires, Amerika Latin, memperlihatkan bahwa angka aborsi di kalangan remaja relatif paling rendah. Akan tetapi, memperlihatkan kecenderungan yang meningkat pesat dibandingkan dengan kelompok umur yang lain. Angka tertinggi justru ditemukan di kalangan wanita berusia lebih dari 35 tahun.
Paritas
Dari survei yang dilakukan di India, diketahui bahwa 20% wanita yang melakukan aborsi mempunyai satu atau dua anak, sekitar 32% mempunyai 3-4 anak dan 41% telah mempunyai lebih dari lima anak. Di Cina justru aborsi digunakan untuk mengendalikan tingkat kesuburan. (http://www.tempointeratif.id.com)

2.4      Fakta Mengenai Unsafe Abortion
Angka kematian Ibu (AKI) sampai saat ini 375 per 100.000 kelahiran hidup, (Survey rumah tangga Kesehatan Nasional Departemen Kesehatan RI). Sedangkan angka kelahiran adalah 25% pertahun, berarti satu tahun ada 5.500.000 kelahiran, sehingga dalam setahun ada 20.625 perempuan meninggal karena kehamilan persalinan dan nifas. Dimana hampir setengahnya disebabkan karena unsafed (Aborsi tidak aman).
v     WHO memperkirakan di seluruh dunia setiap tahun terjadi 20 juta kejadian aborsi yang tidak aman (unsafe abortion) (WHO, 1998). Sekitar 13 % dari jumlah total kematian ibu di seluruh dunia diakibatkan oleh komplikasi abortus yang tidak aman. 95 % (19 dari 20 tindak aborsi tidak aman) diantaranya terjadi di negara-negara berkembang (safe Motherhood 200; 28 (1))
v     Di ASIA Tenggara, WHO memperkirakan 4,2 juta aborsi dilakukan setiap tahunnya dan sekitar 750.000 sampai 1,5 juta terjadi di Indonesia. Dimana 2500 diantaranya berakhir dengan kematian (Wijono, 2000).
v     Resiko kematian akibat aborsi yang tidak aman diwilayah Asia diperkirakan 1 berbanding 3700 (Wijono, 2000).
v     Data dari departemen kesehatan (profil kesehatan Indonesia tahun 1998) menunjukkan tingkat keguguran Indonesia sekitar 17,8% di 27 Propinsi (Gunawan, 2000).
v     Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1995 menyebutkan bahwa aborsi berkontribusi 11,1% terhadap kematian ibu di Indonesia, sedangkan menurut Rosenfield dan Fathlla (1990) sebesar 10% (Wijono, 2000)
(Soetjiningsih, 2004 : 143)




Aborsi yang tidak aman: Perkiraan per Wilayah, pertahun
Wilayah
Jumlah aborsi yang tidak aman
Jumlah kematian akibat aborsi yang tidak aman
% kematian ibu akibat aborsi yang tidak aman
Dunia
20.000.000
78.000
1
Negara berkembang
19.000.000
77.500
1
Asia*
9.900.000
38.500
1
Asia Tenggara
2.800.000
8.100
1
Negara maju
900.000
500
1

Catatan :
*Tidak termasuk Jepang, Australia dan selandia Baru
Sumber WHO, 1998
 Sebuah penelitian yang menggunakan data survei demog kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997 pada 1.563 perempuan subur dengan status menikah sebagai sampelnya, ditemukan kehamilan yang tidak diinginkan paling banyak terjadi pada kelompok 15 – 19 tahun (50,9%). Sebanyak 11,9% diantaranya berupaya mengakhiri kehamilannya, baik dengan cara tradisional maupun medis. Pengguguran denga melakukan sendiri / famili 119 (ketidak berhasilan 97,5%), dukun 20 orang (ketidak berhasilan 95%), 25 orang (ketidakberhasilan 88%), dan cara pengguguran yang banyak adalah minum jamu atau ramuan (49,4%), Pil (27,5%), pijat (8,9%), suntik (7,9%), dan kuret (2,8%). Temuan ini sama polanya dengn studi yang dilakukan di Klnik Raden Saleh Jakarta 1988 sampai 1991, 61% responden melakukan upaya dengan minum jamu sebelum meminta pertolongan induksi haid. proporsi kegagalan cara pengguguran berkisar antara 86-98%, kecuali upaya yang dilakukan dengan kuret (tidak ada kegalalan) (Pradono, 2001).
2.5      Komplikasi Utama yang diakibatkan Unsafe Abortion
Komplikasi utama
Komplikasi dini dan yang paling sering adalah sepsis yang disebabkan oleh aborsi yang tidak lengkap yang sebagian atau seluruh produk pembuahan masih tersisa di dalam rahim. Sepsis merupakan salah satu komplikasi aborsi yang paling fatal, lnfeksi yang paling serius yang jarang ditemukan adalah infeksi bakteri anaerub yang menyebabkan gasgangrin dan tetanus. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh penggunaan peralatan yang tidak bersih.
Penyebab kematian kedua yang paling penting adalah perdarahan. Pendrahan dapat disebabkan oleh aborsi yang tidak lengkap atau cedera organ panggul atau usus. Kematian biasanya disebabkan oleh tidak tersedianya darah atau fasilitas transfusi rumah sakit.
Komplikasi abortus lain yang secara potensial fatal adalah bendungan sistem pembuluh darah oleh bekuan darah gelembung udara, atau cairan. Yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah gangguan bekuan darah berat yang disebabkan oleh infeksi berat serta keracunan obat-obatan abortif yang menyebabkan gagal ginjal.
Komplikasl lain yang tidak kalah pentingnya adalah kemandulan sebagai akibat infeksi yang berakibat dengan penutupan tuba falopi. Dikatakan bahwa kerusakan tuba merupakan penyebab utama kemandulan di negara berkembang. Penyebab lain dari penyumbatan tuba adalah peradangan panggul yang berhubungan dengan penyakit hubungan seksual.
komplikasi yang sangat serius,  perforasi uterus (tertembusnya peranakan) sisa-sisa plasenta yang tertinggal, perdarahan banyak robekan mulut rahim, infeksi hebat, keracunan, shock, dan gangrene (membusuk).
Di seluruh dunia, di negara-negara dimana pengakhiran kehamilan masih ilegal, pengakhiran kehamilan merupakan penyebab utama kematian ibu.
(Maria Ulfa Ansor, dkk. 2003 : 15)









DAFTAR PUSTAKA

Ansyor Maria Ulfah. 2002. Aborsi Dalam Perspektif Figh Kontemporer. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Mansjoer Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Jakarta : Fakultas Kedokteran UI.
Manuaba Ida Bagus. 2001. Konsep Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia. Jakarta : EGC
Mochtar Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid 1. Jakarta : EGC
Soetjiningsih. 2004. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta : Sagung Seto.
Wijaya Andik. 2004. 55 Masalah Sexual yang Ingin Anda ketahui Tapi Tabu Untuk ditanyakan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Youngson Robert. 2002. Kesehatan Wanita A-Z. Jakarta : Arcan





2.1.4 BERAT BADAN LAHIR RENDAH (PREMATUR)

I.    DEFINISI

Ø      BBLR yaitu bayi dengan berat lahir < 2500 gram yang tidak selalu disebabkan karena premaur (Sinopsis Obstetri, jilid 1, hal : 448).
Ø      BBLR suatu istilah pengganti prematuritas karena terdapat 2 bentuk penyebab bayi dengan BB < 2600 gram yaitu karena umur hamil kurang dari 37 minggu, BB lebih rendah dari semestinya sekalipun cukup umur, atau karena kombinasi keduanya (Ilmu Kebidanan Penyakitnya Kandungan & KB, hal : 324).
Ø      BBLR suatu keadaan dimana bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram yang disebabkan oleh masa kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat sesuai, bayi small for gestational age (SGA), bayi yang beratnya kurang dari semestinya menurut masa kehamilannya (Ilmu Kebidanan, hal. 771)

 

II.            ETIOLOGI

·        Faktor genetik/kromosom
·        Infeksi
·        Bahan toksik
·        Radiasi
·        Insufisensi/disfungsi placenta
·        Faktor nutrisi
·        Faktor lain : merokok, peminum alkohol, bekerja berak masa hamil, plasenta previa gemelli, obat, dsb (Sinopsis Obstetri jilid I hal. : 449)
Ø      Faktor ibu :
-         Gizi masa hamil kurang
-         Umur < 20 tahun / > 35 tahun
-         Jarak hamil menahun ibu : HT, jantung, gangguan pembuluh darah (perokok)
-         Faktor pekerja yang terlalu berat
Ø      Faktor kehamilan
-         Hamil dengan hidramnion
-         Gemelli
-         Perdarahan anterpartum
-         Komplikasi hamil PE/E, KPD

Ø      Faktor janin
-         Cacat bawaan
-         Infeksi dalam rahim
Ø      Faktor yang masih belum diketahui
(Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & KB untuk Pendidikan Bidan, hal : 327)

Dengan mengetahui berbagai faktor penyebab persalinan preterm dapat dipertimbangkan langkah untuk menghindari persalinan preterm dengan jalan :
-         Melakukan pengawasan hamil dengan seksama dan teratur
-         Melakukan konsultasi terhadap penyakit yang dapat menyebabkan kehamilan dan persalinan preterm
-         Memberikan nasehat tentang : gizi saat kehamilan
-         Meningkatkan keadaan sosio-ekonomi keluarga dan kesehatan lingkungan

Menghadapi bayi preterm harus memperhatikan masalah sbb :
1.      Suhu Tubuh
-         Pusat mengatur panas badan masih belum sempurna
-         Luas badan bayi relatif besar sehingga cepat kehilangan panas badan
-         Otot bayi masih lemah
-         Lemak kulit dan lemak coklat kurang, sehingga cepat kehilangan panas badan.
-         Kemampuan metabolisme panas masih rendah, sehingga bayi dengan berat badan lahir rendah perlu diperhatikan agar tidak terlalu banyak kehilangan panas badan dan dapat diperahankan sekitar 360 sampai 370C
2        Pernapasan
-         Pusat pengatur pernafasan belum sempurna
-         Sertakan paru-paru masih kurang, sehingga perkembangannya tidak sempurna
-         Otot pernapasan dan tulang iga lemah
-         Dapat disertai penyakit : penyakit hialin membran, mudah infeksi paru-paru, gagal pernapasan.
3        Alat Pencernaan
-         Belum berfungsi sempurna sehingga penyerapan makanan dengan banyak lemak/kurang baik
-         Aktifitas otot pencernaan makanan masih belum sempurna, sehingga pengosongan lambung berkurang
-         Mudah terjadi regurgitasi isi lambung dan dapat menimbulkan aspirasi pneumonia
4        Hepar yang belum matang (immatur)
-         Mudah menimbulkan gangguan pemecahan bilirubin, sehingga mudah terjadi hiperbilirunemia (kuning) sampai kaern ikterus
5        Ginjal masih belum matang (immatur)
-         Kemampuan mengatur pembangunan sisa metabolisme dan air masih beluh sempurna sehingga mudah terjadi edema.
6        Perdarahan dalam otak
-         Pembuluh darah bayi prematur masih rapuh, dan mudah pecah
-         Sering mengalami gangguan pernapasan sehingga memudahkan terjadi perdarahan dalam otak
-         Perdarahan dalam otak memperburuk keadaan dan menyebabkan kematian janin
-         Pemberian O2 belum mampu diatur sehingga mempermudah terjadi perdarahan dan nekrosis
GAMBAR BAYI PRETERM :
-         Berat kurang dari 2500 gram
-         Panjang kurang dari 45 cm
-         Lingkaran dada kurang dari 30 cm
-         Lingkaran kepala kurang dari 33 cm
-         Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
-         Kepala relatif lebih besar
-         Kulit : tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kulit kurang
-         Otot hipotonik-lemah
-         Pernapasan  tak teratur dapat terjadi apnea (gagal napas)
-         Ekstremitas : paha abduksi, sendi lutut/kaki fleksi-lurus
-         Kepala tidak mampu tegak
-         Pernapasan sekitar 45 sampai 50 kali per menit
-         Frekuensi nadi 100 sampai 140 kali per menit
-         Kuku panjang belum melewati ujung jari
-         Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas
-         Tulang rawan dan telinga belum sempurna pertumbuhannya, sehingga tidak teraba tulang rawan daun telinga
-         Rambut lanugo masih banyak
-         Tumir mengkilap, telapak kaki halus
-         Alat kelamin pada bayi laki-laki pnogmentasi dan rugat skrotum kurang, testis belum turun ke dalam skrotum, untuk bayi perempuan klitoris menonjol, labia minora belum tertutup labia minora
-         Fungi saraf yang belum/kurang matang mengakibatkan reflek hisap, menelan dan batuk yang masih  lemah dan tangisnya lemah.
-         Jaringan kelenjar mammae masih kurang
 

III.        Patofisiologi

Alat tubuh bayi BBLR belum berfungsi seperti bayi matur, oleh sebab itu, ia mengalami lebih banyak kesulitan untuk hidup di luar uterus ibunya. Makin pendek masa kehamilannya makin kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya, dengan akibat makin mudahnya terjadi komplikasi dan makin tingginya angka kematian. Bersangkutan dengan kurang sempurnannya alat-alat dalam tubuh baik anatomik/fisiologik maka mudah timbul kelainan-kelainan, imaturitas ini juga akan menghalangi adaptasi kehidupan ekstrauterine yang harus dilakukan bayi.

IV. Diagnosa Kebidanan
Neonatus dengan berat badan lahir rendah (prematur)


















2.1.5 Tingkat Kesuburan
            Selama masa kehidupannya wanita melalui beberapa tahap kehidupan di antaranya masa bayi dan anak-anak, masa pubertas, masa reproduksi, klimakterium, dan menopause.
  1. Pra pubertas
v     Bayi wanita
Folikel primordial (bakal telur) di kedua ovarium telah lengkap, yakni sebanyak 750.000 butir dan tidak bertambah lagi paad kehidupan selanjutnya. Alat kelamin luar dan dalam sudah terbentuk. Pada minggu pertama dan kedua, bayi masih mengalami pengaruh estrogen dari ibunya.
v     Masa kanak-kanak
Pertumbuhan alat-alat kelamin tidak memperlihatkan pertumbuhan yang berarti sampai masa pubertas. Kadar hormon estrogen dan hormon gonadotropin lainnya sangat rendah.
  1. Pubertas
Pubertas merupakan masa peralihan antar masa kanak-kanak dan masa dewasa. Pubertas mulai dengan awal berfungsinya ovarium dan berakhir pada saat ovarium sudah berfungsi mantap dan teratur. Pubertas pada wanita mulai kira-kira pada umur 8-14 tahun. Kejadian penting pada masa ini adalah pertumbuhan badan yang cepat, tibul ciri-ciri kelamin sekunder, menarche, dan perubahan fisik. Perkembangan ini tertutama disebabkan oleh estrogen. Masa npubertas ini masih tumpang tindih dengan tahun terakhir masa kanak-kanak dan setengah lagi tumpang tindih dengan masa remaja. Dalam masa inilah seorang anak seringkali dinamakan sedang berada dalam masa tanggung, kariena untuk disebut sebagai seorang anak sudah terlalu besar, tetapi untuk disebut sebagai seorang remaja betul masih terlalu kanak-kanak.
  1. Remaja
Setelah organ kelamin atau perkembangbiakan matang maka dapat dikatakan bahwa masa kanak-kanak telah berakhir dan tahap remaja dimulai. Setelah terjadi menarche timbullah perubahan lain, dan perubahan yang sebelumnya telah terjadi semakin disempurnakan. Perubahan yang mengiringi tahap ini akan berakhir sepenuhnya pada usia 18-20 tahun.
  1. Masa Reproduksi
Pada masa ini tingkat kesuburan seorang wanita mencapai puncaknya dan secara seksualitas sudah siap memiliki keturunan. Haid pada masa ini paling teratur dan bermakna untuk kemungkinan kehamilan. Puncak kesuburan ada pada rentang usia 20-30 tahun. Pada kesempatan ini wanita memiliki kesempatan 95% untuk hamil. Lamanya masa reproduksi sangat tergantung pada cadangan folikel yang masih tersedia dalam ovarium. Pada masa ini terjadi ovulasi kurang lebih 450 kali, setelah 40 tahun kesuburan seorang wanita akan menurun.
  1. Masa Klimakterium Termasuk Menopause dan Pasca Menopause
v     Klimakterium merupakan  masa peralihan antara masa reproduksi dan masa senium, yang merupakan suatu keadaan patologik, melainkan suatu peralihan yang normal. Masa ini berlangsung sebelum dan beberapa tahun sesudh menopause, Masa premenopause,menopause dan pasca menopause dikenal sebagai masa klimakterium. Keluhan-keluhan ini dapat bersifat psikis seperti mudah tersinggung,depresi , kelelahan, semangat kurang dan susuh tidur. Gangguan neurovegetatif dapat berupa hot flashes, keringat banyak, rasa kedinginan, sakit kepala dan lain-lain.
v     Menopause adalah haid terakhir atau saat terjadinya haid terakhir ang disebabkan menurunannya fungsi ovarium. Diagnosa dibuat setelah terdapat amenorhea (tidak haid) sekurang-kurangnya satu tahun. Berhentinya haid dapat didahului siklus yang lebih panjang dengan perdarahan yang berkurang. Umumnya batas terendah terjadinya menopause adalah umur 44 tahun. Menopause dapat terjadi secara artificial karena operasi atau radiasi yang umumnya menimbulkan keluhan yang lebih banyak dibandingkan menopause alamiah.
  1. Masa Senile
Pada masa ini telah tercapai keseimbangan hormonal yang hormonal sehimgga tidak tidak ada lagi gangguan vegetatif maupun psikis. Yang mencolok pada masa ini adalah kemunduran alat-alat tubuh dan kemapuan fisik sebagai proses menjadi tua. Dalam mas ini pula osteoporosis terjadi pada wanita dengan intensitas yang berbeda. Walaupun sebab-sebabnya belum jelas betul, namun berkurangnya hormon steroid dan berkurangnya aktifitas osteoblast memegang peranan dalam hal ini. Gangguan-gangguan lain yang dapat timbul antara lain  vagina menjadi kering sehiungga timbul rasa nyeri pada waktu bersetubuh, nyeri pada waktu berkemih dan terasa ingin terus buang  air kecil.
2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesuburan Wanita
a)      Usia
Kemapuan produksi indung telur untuk menghasilkan telur dan fungsi alat-alat reproduksi akan menurun seiring dengan bertambahnya  usia wanita. Menurut penelitian potensi wanita hamil menurun setelah usia 25 tahun dan menurun drastis pada usia 38 tahun, oleh karena itu sangat penting bagi perempuan yang mendekati umur 35 tahun  dan belum pernah hamil untuk segera mencari perhatian medis. Usia ideal untuk hamil dan melahirkan adalah 20-30 tahun.
b)      Gizi
Kekurangan nutrisi pad aseseorang akan berdampak pada penurunan fungsi reproduksi. Penelitian menunjukkan bahwa seeorang wanita yang sejak masa anak-anak  remaja dan dewasa serta selama hamil  selalu mengkonsumsi makanan bergizi  mempunyai kemungkinan lebih  besar untuk hamil dan melahirkan bayi yang sehat tanpa komplikasi dibandingkan wanita dengan keadaan gizi yang kurang baik atau berlebih (gemuk)
c)      Berat Badan
Menurut suatu penelitian di Amerika Serikat tubuh yang terlampau gemuk atau terlalu kurus kemungkinan besar mengalami kesukaran hamil. Dalam keadaan berat tubuh yang berlebih terjadi peningkatan hormon estrogen yang akan berpengaruh pada siklus haid misalnya haid tidak teratur. Sebalik nya bagi yang terlalu kurus tidak mempunyai sel lemak untuk memproduksi estrogen yang dibutuhkan wanita  untuk mengalami haid.
d)      Gaya Hidup
Gaya hidup berperan dalm mengurangi kesuburan, gaya hidup tersebut antara lain:
v     Olahraga
Olahraga dapat memperlancar peredaran darah yang dapat mempengaruhi kerja sistem organ reproduksi. Sebaliknya olahraga yang berlebihan tidak baik untuk tubuh. Karena selain membuat lemah otot-otot dan menambah beban berat otot-otot tubuh dan dikhawatirkan mengganggu kebugaran dan fungsi organ reproduksi.
v     Merokok
Sekitar  46% wanita perokok mengalami infertilitas  dibandingkan yang bukan perokok. Akibat merokok pada wanita:
·        Penurunan prroduksi sel telur
·        Menghambat perkembangan embrio dan implantasi
·        Meningkatkan kejadian keguguran
·        Resiko kelahiran prematur
v     Alkohol
Dapat menghambat tumbuh kembang janin terutama pada TM1. Resiko mengalami keguguran , janin cacat, lahir prematur sampai kematian janin
v     Kebiasaan begadang
Ketidakteraturan jadwal  tidur dapat berdampak pada keseimbangan hormon tubuh.
e)      Lingkungan
Banyak ahli mengungkapkan pengaruh pencemaran lingkungan terhadap ketidaksuburan, tetapi faktor ini bukan satu-satunya penyebab sampah industri, terutama timah putih (Pb) bahan kimia seperti zat besi, merkuri dan CO (carbon monoksida) yang melebihi ambang normal yang diserap tubuh dapat mempengaruhi kelenjar hipotalamus yang memproduksi sel telur.
f)        Torsh-KM
Torsh-KM ternyata memepengaruhi infertilitas pria dan wanita 70%. Cara untuk mengetahui apakah virus masih ada atau tidak dalam tubuh , masih aktif atau tidak adalah dengan pemeriksaan darah.
g)      Psikologis
Kecemasan dan ketegangan cenderung mengacaukan kadar LH. Sementara kesedihan dan murung meningkatkan prolaktin. Kadar prolaktin yang tinggi dapat mengganggu pengeluaran LH. Sedangkan peningkatan kadar LH mempengaruhi terjadinya ovulasi.
(Dini Kasdu.2002:63-71
2.4  Mengenal Periode Subur
   Seorang istri dikatakan sedang subur, jika ia melepaskan sel telur yang telah matang agar dapat dibuahi sel sperma. Masa subur wanita hanya berlangsung kurang dari 1 hari (kira-kira 23 jam). Masa subur mudah ditentukan apabila wanita tersebut memiliki siklus haid teratur. Masa subur bisa diperkirakan berdasarkan beberapa hal berikut ini :
v     Siklus Haid
Perkiraan masa subur ini dapat diketahui dengan mengurangi siklus haid dengan 14 hari. Sebagai contoh interval siklus haid seorang ibu adalah 30 hari, maka perkiraan masa subur jatuh pada 30 – 14 = 16 hari dari hari pertama haid atauhari ke- 16. Agar terjadi pembuahan, senggama yang dianjurkan dilakukan pada hari ke 12,14,16 dan 18. Senggama setiap hari tidak dianjurkan karena sperma yangkeluar adalah sperma muda yang kemampuannya untuk membuahi sangat kecil. Hanya sperma matang dan normal yang akan mampu membuahi sel telur.
v     Suhu Basal Tubuh.
Perkiraan masa subur dapat dilihat dengan mengukur suhu basal tubuh setiap pagi setelah bangun tidur edan sebelum melakukan aktifitas. Tidur yang dianjurkan minimal selama 6 jam. Biasanya akan meneybabkan kenaikan suhu badan wanita antara 0,3 – 0,5 0 C.
v     Lendir Serviks
Perkiraan masa subur yang ditandai dengan keluarnya lendir berwarna bening yang dapat membenang, vagina terasa lebih basah, ada peningkatan dorongan seksual dan kadang-kadang ada sedikit rasa nyeri di perut bagian bawah pada saat telur pecah.
(Judi Januadi Endjun.2002:22-24)
v     Bercak Darah
Beberapa wanita mengeluarkan bercak darah pada saat ovulasi. Keadaan ini akan merangsang selaput perut yang melapisi permukaan dalam dinsing rongga perut (peritoneum) di panggul sehingga timbul rasa sakit yang disebut intermenstrual pain (Mittelschamerz).
v     Pemeriksaan USG
Perkiraan masa subur dapat diamati melalui perkembangan ukuran folikel pada dinding telur dan ketebalan selaput rahim dengan USG transvaginal. Pada proses pemeriksaan saat ovulasi akan terlihat gembaran endometrium menebal dan gambaran triple lines seperti cincin.
v     Kadar hormon
Pengukuran kadar estrogen dan LH dapat meramalkna terjadinya akan ovulasi. Sedangkan pemeriksaan kadar progesteron dapat menentukan apakah telah terjadi ovulasi. Pemeriksaan ini tidak selalu yang terbaik dan biasanya mahal.
v     Alat Tes Kesuburan
Alat ini bisa dibeli di apotek. Alat ini cukup akurat bahkan bisa memantau terjadinya ovulasi dari hari ke hari, bahkan dalam setengah hari dengan melihat kadar LH sebagai tanda terjadinya ovulasi dalm 24-36 jam. Cara penggunaannya dengan mencelupkan ke dalam urine.









DAFTAR PUSTAKA

Endjun,dkk.2002.Mempersiapkan Kehamilan Sehat.Jakarta:Puspa Swara.
Hacker, Neville F.2001.Esensial Obstetri dan Ginekologi.Jakarta: Hipokrates.
Henderson,Christine.2005.Buku Ajar Konsep Kebidanan.Jakarta:EGC.
Kasdu,Dini.2002.Kiat Sukses Memperoleh Keturunan.Jakarta:Puspa Swara.
Llewellyn-Jones,Derek.2001.Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi.Jakarta:Hipokrates.
Paath, Francin, dkk.2004.Gizi dalam Kesehatan Reproduksi.Jakarta:EGC.
Rose-Neil, Wendy.2004.Panduan Lengkap Perawatn Kehamilan. Jakarta: Dian Rakyat.
Http://www.astaga.com (Accessed on Wednesday.7th March 2007 : 02.15 p.m)
http:///www.detik.com (Accessed on Wednesday.7th March 2007 : 02.30 p.m)
http://www.papuawbom (Accessed on Wednesday.7th March 2007 : 02.50 p.m)
http://www.suarapembaruan.com (Accessed on Wednesday.7th March 2007 : 03.40 p.m)
http://www.id.wikipedia.org (Accessed on Wednesday.7th March 2007 : 03.50 p.m)
http://www.mediasehat.com (Accessed on Wednesday.27h March 2007 : 04.30 p.m)
http://www.medicastore.com (Accessed on Wednesday.27h March 2007 : 04.45 p.m)
           

.















2.1.7 PMS

2.1. 7 DEFINISI PMS
·   PMS adalah penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan kelamin atau kontak intim.
( Jan Tambayong,2000:195)
·  Seksually transmitted disease are relatifely common during pregnancy especially indigent, urban population by drug and prostituition.
“Penyakit menular seksual sering terjadi selama kehamilan, khususnya dalam masyarakat kota karena penyalahgunaan obat dan prostitusi.
( Gari F Cunningham, 2001 : 1486)

2.2. ANGKA-ANGKA KEJADIAN PMS
·         Angka kesakitan sifillis pada tahun 1996 adalah 4,71 per 100.000 penduduk.
·         Gonokokus pada tahun 1996 tahun 1996, angka kesakitannya 11,1 per 100.000 penduduk
·         AIDS :
o       Laki-laki : 64,6 %
o       Perempuan : 31,9 %
o       Lain-lain : 3,5 %
o       Usia 20-29 thn : 45,74 %
o       Usia 30-39 thn : 27,71 %
o       Usia 40-49 thn : 9,35 %
o       Usia < 1 thn : 0,33 %
o       Usia 1-4 thn : 0,33 %

2.3. CIRI-CIRI PMS
a.       Penularan penyakit tidak selalu harus melalui hubungan kelamin.
b.       Penyakit dapat terjadi pada orang-orang yang belum pernah melakukan hubungan kelamin
c.       Sebagian penderita adalah akibat korban keadaan diluar kemampuan mereka, dalam arti mereka sudah berusaha sepenuhnya untuk tidak mendapat penyakit, tetapi kenyataan masih juga terjangkit.
(Adhi Jduanda, 2007 : 361)

2.4. EPIDEMIOLOGI PMS
a.       Banyak kasus yang tidak dilaporkan, karena belum ada UU yang mengharuskan melaporkan setiap kasus baru PMS yang ditemukan.
b.      Bila ada laporan, sistem pelaporan yang berlaku belum seragam.
c.       Fasilitas diagnostik yang ada sekarang ini kurang sempurna sehingga seringkali terjadi salah diagnostic dan penanganannya.
d.      Banyak kasus yang asimtomatik (tanpa gejala yang khas) terutama penderita wanita.
e.       Pengontrolan terhadap PMS  ini belum berjalan baik.
(Adhi Jduanda, 2007 : 361)

2.5. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MENINGKATNYA PMS
a.       Perubahan demografik secara luar biasa
o       Peledakan jumlah penduduk
o       Pergerakan masyarakat yang bertambah, dengan berbagai alasan, misalnya: pekerjaan, liburan, pariwisata, rapat, kongres atau seminar
o       Kemajuan sosial ekonomi
b.      Perubahan sikap dan tindakan akibat perubahan-perubahan demografi diatas, terutama dalam bidang agraris dan moral.
c.       Kelalaian beberapa negara dalam pemberian kesehatan dan pendidikan seks khususnya
d.      Perasaan aman pada penderita karena pemakaian obat antibiotik dan kontrasepsi
e.       Akibat pemakaian obat antibiotik tanpa petunjukyang sebenarnya
f.        Fasilitas kesehatan yang kurang memadai, terutama fasilitas laboratorium dan klinik pengobatan
(Adhi Jduanda, 2007 : 361)

2.6. MACAM PENYEBAB PMS
PMS dapat disebabkan oleh beberapa organisme penyebab, diantaranya yaitu :
1.      Infeksi bakteri
o       Neisseria gonorroeae (gonore)
o       Chlamidia trachomatis (limfogranuloma venerum)
o       Treponema pallidum (sifillis, kondilo malatum)
o       Ureaplasma urealyticum (infeksi mikoplasma)
o       Haemophillus ducrei (chancroid)
o       Calymmatobacterium granulomatis (granuloma inguinale)
o       Spesies shigella
o       Gardanela vaginalis (vaginitis)
2.      Infeksi virus
o       Virusherper simpleks (HSV)
o       Hepatitis A, B, C
o       Sitomegalovirus (infeksi CMV)
o       Human papilomavirus (kulit genital, kondiloma akuminata)
o       Moloskum kontangiosum
o       Human immunodeficiency virus (HIV)
3.      Infeksi protozoa
o       Trichomonas vaginalis
o       Entamoba histolyca
o       Giardia lambia

4.      Parasit
o       Phthirus pubis (kutu kepiting)
o       Sarcoples scabies (tungau scabies)
(M William Schwartz, 2004 : 700)


















2.7. MACAM-MACAM PMS
Penyakit menular seksual yang sering terjadi di lingkungan masyarakat, dintaranya yaitu :
1.      GONORRHOE
a.       Pengertian
Gonore adalah penyakit seksual yang paling sering terjadi disebabkan oleh bakteri Neisseria Gonorrhoeae, kokus gram negative kecil berbentuk ginjal yang tersusun berpasangan.
(Anna Glaiser, 2005 : 303)
b.      Tanda dan gejala
·  Pada Pria
Gejala terlihat dalam waktu 2-10 hari setelah hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi, gejala-gejala tersebut, antara lain :
o       Disuria dan rabas uretra mukopurulen dalam jumlah besar.
(Anna Glasier,2005 : 306)
o       Uretritis
o       Keluar nanah di uretra
o       Rasa gatal, panas atau sakit di ujung meatus terutama sewaktu berkemih.
(Jan Tambayong, 2000: 196)
o       Gonore faring akibat kontak seksual urogenital umumnya asimtomatik tetapi kadang-kadang pasien mengeluh nyeri tenggorokan
o       Infeksi rectum diperoleh melalui hubungan seksual anus pada homoseksual, sering asimtomatik tetapi mungkin dijumpai gambaran proktitis (rabas anus,nyeri perdarahan, tenesmus)
(Anna Glasier, 2005 :306)
·  Pada wanita
o       Sebagian besar (80%) dengan gonore non / complikata tidak memperlihatkan gejala, namun beberapa mungkin mengeluh peningkatan rabas vagina dan disuria
o       Eksudat mukopurulen dari os serviks
o       Infeksi pada kelenjar pada uretra
(Anna Glasier, 2005 :306)
c.       Komplikasi
·   pada laki-laki dewasa
o       hidronekrosis
o       epididimis
o       arthritis
o       endokarditis bakteri
o       meningitis
o       konjungtivitis
(Jan Tambayong, 2000 : 197)
o       epididimorchitis
(Anna Glasier,2005 : 306)
o       uretritis
o       prostatitis
(M. William Schwarts, 2004 : 701)
·   pada perempuan dewasa
o       penyakit radang panggul
o       bartholinitis
o       vulvovaginitis
(Anna Glasier, 2005 : 196)
o       pembengkakan dan nyeri pada labia
o       perihepatitis dan sindrom fitz-hug-curtis
(M. William Schwarts, 2004 : 701)
d.      Dampak pada kehamilan dan bayi
Gonore mempunyai dampak yang buruk terhadap kehamilan. Ibu hamil yang menderita gonore dapat menularkan infeksi tersebut melalui plasenta. Dampak tersebut antara lain :
o       Aborsi spontan septic
o       Preterm
o       Premature
o       Korioamnionitis
o       Infeksi post partum
(M. William Schwarts, 2004 : 700)
Pada 25-50 % kasus gonore ditularkan ke janin pada kelahiran jika ibu dibiarkan tidak diterapi, sehingga dapat menyebabkan efek negative terhadapjanin / bayi antara lain :
o       Neonatal gonococal arthritis
o       Septicemia
o       Meningitis
o       Vaginitis
o       Abses pada kulit kepala
(Bobak, 2004 : 887-888)
o       Oftalmiagonorea
(William Rayburn, 2001: 111)
e.       Terapi / pengobatan
· pada dewasa
o       pennisilline
o       cefriaxone ( untuk gonore tanpa komplikasi pada ibu hamil) IM 125 mg atau oral cefixime (400 mg)
o       spectinomycin dengan eritromicyn (untuk wanita yang alergi terhadap penisilin atau antibiotic beta-laktam) 2 gram/12jam.
Dipantau selama 24-48jam. Jika ada kemajusn diteruskan dengan :
o       Cefixime 400 mg /2 kali sehari
o       Ciprofloxacin (tidak hamil)
Untuk gonore dengan endokarditis terapi selama 4 minggu
Untuk gonore meningitis selama 10-14 hari
· pada neonatus
o        cefriaxone 25-50mg/kg IV/IM
(F. Gary Cunningham,2001 : 1492)
o        terapimata eritromisin pada saat kelahiran
o        karioamnitis → ampisilin/seftriaxone
(Neville F.Hacker,2001: 201)

2.   KLAMIDIA TRACHOMATIS
Clamidia trachomatis merupakan penyakit menular seksual yang paling sering dijumpai pada orang dewasa dan remaja, paling sering dijumpai pada wanita yang aktif secara seksual diantara usia 12 dan 19tahun.
(Jan Tambayong, 2000 : 196)
a.       Tanda dan gejala
· Pada pria
o        Timbul rabas uretra mukoid atau mukopurulen
o        Disuria
· Pada wanita
o       Sebagian besar wanita dengan infeksi klamidia di servik tidak memperlihatkan gejala tetapi sebagian kecil mengeluh rabas vagina dan disuria
o       Mungkin tidak terdapat tanda-tanda spesifik, servik mungkin tampak normal / mungkin terjadi endoservitis disertai pengeluaran mukopus dari os.
o       Nyeri tekanan adneksa yang ringan
(Anna Glasier, 2005 : 309 – 310)
b.       Faktor resiko
· usia muda
o       pasangan seksual yang banyak
o       penggunaan kontrasepsi oral
o       ras (angka pravalensi lebih tinggi pada Afro Amerika)
c.       Komplikasi
· Pada pria
o       Uretritis
o       Epidedimitis
o       Proktitis
o       Sindromreiter (konjungtivitis, dermatitis, uretritis dan arthritis)
· Pada wanita
o       Servisitis
o       Uretritis
o       Penyakit peradangan pelvis
o       Terjadi perinerpatitis, timbul nyeri akut di hipokondrium kanan semakin terasa apabila pasien menarik napas dalam-dalam, mual, anoreksia dan demam ringan.
(Anna Glasier, 2005 : 310)
d.       Penegakan diagnosis
o       Biakan pada sikloheksamid untuk sel Mc. Coy, akan tetapi cara ini mahal,lambat dan penyediaan terbatas.
o       Uji deteksi antigen yang cepat misalnya chlamidiozyme atau microtrek telah popular karena dapat dipercaya, tidakmahal dan cepat.
(Neville F. Hacker,2001: 203)
e.       Dampak clamidia trachomatis pada kehamilan
Ibu hamil yang terkenai nfeksi clamidia trachomatis mempunyai kemungkinan melahirkan anak dengan konjungtivitis dan pneumonitis.
f.         Terapi
o       Pemberian eritromisin dapat pada kehamilan dan pada neonatus kalau terjadi pneumonia atau otitis media
o       Kontak seksual harus dilacak dan diterapi secara empirik.
(Neville F. Hacker,2001: 203)
o       Golongan tetrasiklin dan makrolid
(Anna Glasier, 2005 : 311)

3.   HERPES SIMPLEKS / GENITALIS
a.       Pengertian
o       Virus herpes simpleks adalah anggota dari keluarga virus herpes DNA dan ditularkan lewat kontak mukokutaneus yang intim.
(Neville F. Hacker , 2001: 199)
o       Herpes simpleks adalah infeksi akut oleh virus herpes simplek ( V. Herpes Hominls) tipe I atau tipe II yang ditandai dengan adanya vesikel berkelompok di atas kulit yang eritematosa di daerah muka kutan.
(Arif Mansjoer jilid II, 2000 : 151)

o       Virus herpes genitalia adalah virus herpes simpleks tipe I dan II
(M. William Schwarts, 2004 : 701)
b.      Gejala klinis
Masa inkubasi : 3-7 hari
1. infeksi primer
Berlangsung kira-kira 3 mgg dan sering disertai gejala sistemik, misalnya :
o        Demam
o        Malaise
o        Anoreksia
o        Pembengkakan kelenjar getah bening regional
o        Vesikel berkelompok diatas kulit yang sembab dan eritematosa, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seropurulen → ulserasi dangkal
2. fase laten
o       Tidak ditemukan gejala klinis tetapi VHS dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis.
o       Penularan dapat terjadi pada fase ini,akibat pelepasan virus terus berlangsung meskipun dalam jumlah sedikit.
3. infeksi rekuren
reaktivitas VHS pada ganglion dorsalis mencapai kulit sehingga menimbulkan gejala klinis yang dapat dipacu oleh :
o       Trauma fisik  : - demam
: - infeksi
: - kurang tidur
: - hubungan seks
o       Trauma psikis           : gangguan emosional
o       Obat-obatan             : - kortikoseteroid
: - imuno supresif
o       Menstruasi
o       Makan dan minuman yang merangsang
(Arif Mansjoer jilid II,2000: 151 -152)
gejala klinis herpes genitalis
o       Vesikel tunggal atau multiple
o       Vesikel pecah spontan setelah 24-72 jam
o       Ulkus merah
o       Nyeri, tetapi sembuh sendiri
o       Lesi pada preputium, glans penis, bokong dan pada paha bagian dalam
o       Disuria
o       Demam
o       Edema
o       Limfadenopati bilateral
(Jan Tambayong, 2000 : 199)
c.       Dampak pada kehamilan
Herpes genitalia primer
Pasien yang terkena herpes primer pada kehamilan menghadapi peningkatan resiko komplikasi obstetric dan neonatal, antara lain :
1. aborsi spontan
2. IUGR
3. persalinankurang bulan
(Neville F.Hacker,2001: 199)
sedangkan kelainan yang timbul pada bayi dapat berupa :
1. ensefalopati
2. keratokonjungtivitis
3. hepatitis
4. lesipadakulit
(Arif Mansjoer, 2000 : 152)
d.      Pemeriksaan penunjang
Percobaan Tzantk dengan pewarnaan Gremsa dari bahan vesikel dapat ditemukan sel datia berinti banyak dan bahan inklusi intranuklear.
(Arif Mansjoer, 2000 : 152)
e.       Diagnosa banding
o       Impetigo vesikobulasa
o       Ulkusdurum
o       Ulkus mole
o       Ulkus mikstum
f.    Penatalaksanaan
medikamentosa
* belum ada terapi radikal
* pada episode pertama, berikan :
o       Asiklovir 200 mg peroral 5 x/hr selama 7 hr atau
o       Asiklovir 5 mg/kgBB. IV tiap 8jam selama7 hr atau
o       Preparat isoprinosin sebagai imunomudular atau
o       Asiklovir parenteral atau preparat adenine orabinosid → berat → komplikasi pada alat dalam.
* pada episode rekurensi → tidak perlu diobati → karena bisa membalik → tapi dapat diobati dengan krim asiklovir.
(Arif Mansjoer, 2000 : 152)

4.   SIFILLIS       
a.       Pengertian
o       Sifilis adalah suatu penyakit sistemik yang disebabkan oleh treponema pallidum.
(M. William Schwarts, 2004 : 701)
b.       Tanda dan gejala
1. Sifilis primer (masa inkubasi 10hr-3bln)
a. pada laki-laki :
o    Timbul ulkus(Chancre) pada penis tapi tidak sakit, tepian timbul dan keras ( seperti kancing)
o    Mungkin ada pembesaran kelenjar limfe regional tapi tidak nyeri. Ulkus primer ini akan sembuh spontan, meninggalkan parut seumur hidup.
(Jan Tambayong, 2000 : 197)
b. pada perempuan :
o    Timbul ulkus (chancre) pada serviks
(F. Gary Cunningham,2001 : 1492)
2. Sifillis sekunder (4-10mgg)
o     Timbul kelainan kulit makulo-papuler → telapak tangan dan kaki
o     Pada genetalia → plak lebar agak meninggi → condilomaakuminata
o     Limfadenopati umum
o     Adenopati, demam, faringitis, malase
(M. William Schwarts, 2004 : 701)
3. Sifilis tersier
o     Semua organ dapat terserang, terutama otak (neurosifilis → dinensia dan perubahan perilaku) dan jantung
o     Interval dari infeksi menjadi neurosifilis  berkisar antara 20-30 tahun
o     Terjadi gumma (daerah nekrotis luas) di hati, tulang-tulang dan testes
(Jan Tambayong, 2000 : 197)
c.       Dampak pada kehamilan
Infeksi ibu dapat menyebabkan penularan transplasental ke janin pada setiap gestasi. Ibu dengan sifilis primer dan sekunder akan lebih mungkin menularkan infeksi dengan manifestasi lebuih berat yang terjadi pada janin.
Komponen infeksi sifilis bawaan dini antara lain :
o    Hidrops yang tidak imun
o    Hipatosplenomegali
o    Anemia
o    Trombositopenia yang hebat
o    Lesi kulit
o    Ruam
o    Ostertis
o    Periostitis
o    Pneumonia
o    Hepatitis
d.       Sifilis bawaan pada masa-masa akhir di diagnosa setelah umur 2 thn) merupakan penyakit multisistem yang ditandai dengan :
o    Kelainan gigi
Ø      Gigi-gigi Hutchinson,’mulberry molars’
Ø      Saber shine (tulang kering pedang)
o    Kerusakan pada septum nasal yang menyebabkan suatu hidung sadel : kerakitis, interstisial, tuli saraf delapan
o    Kegagalan pertumbuhan
(Neville F.Hacker,2001: 199)
e.       Penegakan diagnosa
Diagnosa serologic sifilis umumnya ditegakkan dengan melakukan 2 tipe pemeriksaan yaitu :
o       Pemeriksaan antibody non treponema → VDRL atau RPN dilakukan dengan pemeriksaan dilusi serum serial, hal ini penting karena terdapat lesi klinis yang berkaitan dengan peningkatan titer pada pemeriksaan nontreponema.
o       Pemeriksaan anti bodi treponema → FTA-ABS, MHA-TP
(M. William Schwarts, 2004 : 699-700)
f.         Terapi
o       Terapi sifilis pada kehamilan sama seperti terapi pada keadaan tidak hamil.
(terapi yang dipilih adalah penisilin G)
o       Pada pasien dengan sifilis primer, sekunder atau laten yang berlangsung < dari 12 bulan menggunakan terapi dosis tunggal benzatin penisilin : 2,4 juta unit yang dilakukan secara intramuscular (IM)
o       Pasien dengan sifilis laten yang lebih lama dari satu tahun diberi terapi mingguan ini selama 3 minggu.

5.   KANDIDOSIS VAGINAL
a.       Definisi
Kandidosis vaginal adalah penyakit jamur yang yang bersifatakut atau sub akut pada vagina danatau vulva dan disebabkan oleh kandida, biasanya oleh C. albicans.
(Arif Mansjoer, 2000 : 150)
b.      Faktor predisposisi
1.      factor endogen, yaitu :
o       perubahan fisiologik, seperti kehamilan, kegemukan, debilitas, endokrinopati dan penyakit kronik
o       umur, misalnya orang tua dan bayi lebih mudah terkena
o       imunologik / penyakit genetik
2.      factor eksogen, antara lain :
o       iklim, panas dan kelembaban menyebabkan perspirasi meningkat
o       kebersihan kulit
o       kontak dengan pasien
o       latrogenik, misaldengan penggunaan antibiotic jangka panjang
c.       Tanda dan gejala
·        Tanda
o       Radang
o       Disertai maserasi
o       Pseudomembran
o       Fisura
o       Lesi satelit papulopustular
·        Gejala
o       Gatal
o       Biasa disertai keputihan
o       Tidak berbau / berbau asam
o       Jumlah biasa banyak
o       Berwarna putih keju, seperti kepala susu / krim atau seperti susu pecah
o       Pada dinding vagina biasanya dijumpai gumpalan keju ( cottage cheeses) yang menenpel
d.      Dampak pada kehamilan
Infeksi pada bayi saat dilahirkan, seringkali terbatas pada bagian mulut dan daerah yang ditutupi popok.
1.      kandidosis oral ( sariawan / stomatitis )
tanda dan gejala :
o       plak putih pada mukosa oral, gusi dan lidah
o       tidak bisa dibersihkan
o       cenderung berdarah bila disentuh
o       kesulitan menelan
factor predisposisi :
o       bayi yang sakit, lemah / mendapat terapi antibiotic
o       bayi yang mengalami celah bibir / celah palatum, neoplasma dan hiper paratiroid
penanganan :
o       mengolesi lesi dengan larutan gentian violet cair ( 1% - 2%)
o       nistatin dimasukkan ke dalam mulut bayi dengan alat tetes yang sebelumnya dibersihkan dulu
2.      candidal diaper dermatitis
terlihat pada daerah perianal,lipatan inguinal dan di bagian abdomen yang lebih rendah.
Tanda dan gejala :
o       mengalami eritema hebat
o       dengan garis tajam
o       pinggir bergerigi
o       seringkali disertai berbagai lesi kecil yang meluasdiluar lesi yang lebih besar
Sumber infeksi :
o       melewati traktus gastrointestinal
Penanganan :
o       mengoles salep anti jamur (seperti nistantin) tiap ganti popok
e.       Pemeriksaan penunjang
Pada pemeriksaan mikroskopik secret vagina dengan sediaan basah KOH 10 % dapat terlihat adanya bentuk ragi (yeast form) : blastospora dan pseudohifa (seperti sosis panjang bersambung). Dengan pewarnaan gram dapat ditemukan pseudohifa yang bersifat gram positif dan blastospora.
f.        Diagnosis
Ditegakkan berdasar pada manifestasi klinis dan pemeriksaan mikroskopik.
g.       Penatalaksanaan
1. topical, gunakan :
o       Mikonazol /klotrimazol 200 mg intra vaginal/hari selama 3 hari
o       Klotrimazol 500mg intravaginal dosis tunggal
o       Nistatin 100.000 IU intravaginal / hari selama 14hari
o       Untuk vulva dapat diberikrim klotrimazol 1 % / mikonazol 2 % selama 7 – 14 hari atau salep tiokonazol 6,5 % sekali oles
o       Untuk wanita hamil hanya dapat diberikan preparat azol topical selama 7 hari
2. sistemik
o        Dapat digunakan ketokonazol denga dosis 2 x 200 mg selama 5 hari (untuk dewasa)
(Arif Mansjoer jilid 2,2000 : 150-151)

6.   AIDS
a.       Pengertian
AIDA (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodefisiency Virus (HIV)
(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 162)


b.      Etiologi
Lymphadenopaty associated virus (LAV), human T cell leukemia virus III (HTLV III), human T cell lympho tropic virus. Virus ini ditemukan pada monyet hijau di Afrika sekitar 70 %, tetapi tidak menimbulkan penyakit.
(Manuaba, 1999 : 44-45)
c.       Faktor risiko penularan HIV
o       Memiliki banyak pasangan seksual
o       Menyalahgunakan obat intravena
o       Memiliki pasangan seksual dari penyalahgunaan obat intravena
o       Memiliki pasangan seksual dari orang yang terinfeksi HIV
o       Pelacuran
o       Transfusi sebelum  1985
o       Memiliki riwayat penyakit yang ditularkan lewat kontak seksual (terutama ulseratif)
o       Lahir di atau pasangan seksualnya lahir di afrika atau karibia
(Neville F. Hacker, 2002 : 118)

d.      Epidemiologi
Di Indonesia kasus AIDS pertama kali ditemukan pada tanggal 5 April 1987 di Bali pada seorang wisata Belanda. Menurut Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Depkes RI, jumlah kumulatif kasus HIV / AIDS (+) per Januari 2000 adalah 1080 kasus yang terdiri dari 794 kasus HIV (+) dan  286 kasus AIDS.
(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 163)
e.       Patogenesis
Masuknya HIV ke dalam tubuh manusia terutama melalui darah, semen dan secret vagina serta transmisi dariibu ke anak.penularan HIV melalui 3 cara yaitu :
o       Hubungan seksual, baik secara vaginal,oral, maupun anal denag seorang pengidap. Cara ini paling umum terjadi, meliputi 80-90 % totalkasus sedunia.
o       Kontak langsung dengan darah, produk darah atau jarum suntik. Transfusi darah / produk darah yang tercemar mempunyai factor resiko sampai > 90 %. Ditemukan 3-5 % total kasus sedunia.
o       Transmisi secara vertical dari ibu hamil pengidap HIV kepada bayinya melalui plasenta. Resiko penularan 25-40 % dan terdapat < 0,1% total kasus sedunia.
(Arif Mansjoer jilid 2,2000 : 163)
f.        Manifestasi klinis
1. keganasan
o    Sarcoma Kaposi
o    Limfoma burkit
o    Limfoma imunoblastik
o    Limfoma primer pada otak
o    Kanker leher rahim invasive
o    Penurunan imunitas yang hebat
2. infeksi oportunistik
o    Kandidosis pada bronkus, trachea atau paru
o    Kandidosis pada esophagus
o    Kniptokokosis ekstrapulmoner
o    Koksidiodomikosis diseminata atau ekstrapulmoner
o    Kriptosporidiosis pada usus bersifat kronis (lebih dari 1 bulan)
o    Toksoplasmosis pada otak
o    Histoplasmosis (diseminata atau ekstrapulmoner )
(Arif Mansjoer jilid 2,2000 : 164)
g.       Pemeriksaan penunjsng
Diagnosislaboratorium dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
·        cara langsung
isolasi virus dari sample. Umumnya menggunakan mikroskop electron dan deteksi antigen virus. Salah satu cara deteksi antigen virus adalah dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Penggunaan PCR antara lain untuk :
o       tes HIV pada bayi karena zat anti dari ibu masih ada pada bayi sehingga menghambat pemeriksaan serologis
o       menetapkan status infeksi pada individu seronegatif
o       tes pada kelompok resiko tinggi sebelum terjadi serokonversi
o       tes konfirmasi untuk HIV-2 sebab sensitifitas ELISA untuk HIV-2 rendah
·        carat tidak langsung
o       ELISA sensitifitasnya tinggi (98,1-100 %). Biasanya memberikan hasil positif 2-3 bulan sesudah infeksi. Hasil positif, harus dikonfirmasikan dengan pemeriksaan Western Blot.
o       Western Blot, sensitifitasnya tinggi (99,6-100 %). Pemeriksaan ini cukup sulit, mahal dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Mutlak diperlukan untuk konfirmasi hasil pemeriksaan ELISA positif.
o       Immunofluorescent assay (IFA)
o       Radioimmunopraecipitation assay (RIPA)
(Arif Mansjoer jilid 2,2000 : 164)
h.       Perawatan dan penanganan wanita yang terinfeksi HIV sebelum dan selama persalinan
o       Persalinan di RS setempat yang mengetahui pasien
o       Penentuan tatacara persalinan yang diharapkan
o       Set partus untuk HIV selalu tersedia
o       Hindari tindakan infasif pada ibu dan janin jangan memasang elektroda kepada kepala dan jika mungkin jangan melakukan episiotomi atau persalinan pervaginam  secara operatif
o       Peralatan aspirasi oleh janin 
o       Perawatan khusus saat memotong tali pusat dan pelahiran plasenta : serologi pada daerah tali pusat dan menentukan adanya virus
o       Lakukan desinfektan secara cermat
(Thomas Rabe, 2002 : 118)

7.   ULKUS MOLE
a.       Pengertian
Ulkus mole adalah penyakit infeksi pada kelamin yang akut, setempat, disebabkan oleh haemopilus ducrey.
(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 158)
b.      Etiologi
Disebabkan oleh haemopilus ducrey
(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 158)
c.       Manifestasi klinis
Masa inkubasi berkisar diantara 1-14 hari, pada umumnya kurang dari 7 hari. Lesi kebanyakan multiple, biasanya di daerah genital. Mula-mula kelainan kulit berupa papul kemudian menjadi vesiko-pustul pada tempat inokulasi, cepat pecah menjadi ulkus.
Tanda dan gejala :
     Ulkus yang multiple4
     Nyeri pada tempat inokulasi
     Sering disertai penanahan kelenjar getah bening regional
Ulkus pada wanita tidak senyeri laki-laki, berupa :
     Disuria
     Nyeri pada waktu defekasi
     Dispareunia
     Atau duh tubuh vagina
d.      Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan sediaan apus diambil dari permukaan tepi ulkus yang bergaung, dengan pewarnaan gram, Unna-Pappenheim, Wright atau Giemsa ditemukan basil berkelompok atau berderet seperti rantai
Biakan kuman dengan bahan diambil dari pus bubo atau lesi, kemudian ditanam pada perbenihan / plat agar khusus, yaitu agar gonokok dan Muller Hinton.
Dapat pula dilakukan tes imunofluoresensi, biopsy, tes kulit ito-Reenstieina, dan autoinokulasi.
e.       Komplikasi
Dapat timbul mixed chancre, abses kelenjar inguinal, fimosis, parafimosis, fistula urethra dan infeksi campuran. Bila terjadi infeksi campuran dengan treponema pallidum disebut ulkus mikstum : mulanya menunjukkan gambaran ulkus mole tetapi semakin berkurang nyerinya dan lebih berindurasi.
f.        Diagnosis
Berdasarkan pada riwayat pasien, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium untuk menentukan agen penyebabnya. Harus juga dipikirkan kemungkinan infeksi campuran. Pemeriksaan serologic dapat dilakukan, untuk menyingkirkan sifillis.
g.       Penatalaksanaan
1.      Medikamentosa
Pengobatan sistemik dapat diberikan salah satu obat di bawah ini :
     Siprofoksasin * 500 mg per oral dosis tunggal
     Ofloksasin * 400 mg per oral dosis tunggal
     Azitromisin 1 gram per oral dosis tunggal
     Eritromisin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 7 hari
     Seftriakson 250 mg injeksi IM sebagai dosis tunggal
     Trimetropim – sulfametoksasol 80-400 mg, 2x2 tablet peroral selama 7 hari
(*) kontra indikasi untuk wanita hamil, menyusui dan anak kurang dari 12 tahun
Sebagai pengobatan likal dapat dilakukan kompres, rendam atau irigasi dengan larutan salin yang akan membantu menghilangkan debris nekrotik dan mempercepat penyembuhan ulkus
Antseptik local merupakan kontra indikasi karena dapat mengganggu pemeriksaan untuk diagnosis dini sifillis dengan mikroskop kepang gelap.
2.      Nonmedikamentosa
Menberikan pendidikan pada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut :
     Bahaya PMS dan komplikasinya
     Pentuingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
     Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya
     Hindari hubungan seksual sebelum sembuh dan memakai kondom jika tidak dapat menghindari lagi
     Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa datang
(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 158-160)

8.   KONDILOMA AKUMINATA
a.       Definisi
Kondiloma akuminata adalah vegetasi oleh virus papiloma humanus (VPH) tipe tertentu, bertangkai dan permukaannya berjonjot.
(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 157)
b.       Etiologi
Virus papiloma humanus (VPH), virus DNA yang tergolong dalam famili Papova. Tipe yang pernah ditemui adalah tipe 6, 11, 16, 18, 30, 31, 33, 35, 39, 41, 42, 44, 51, 52 dan 56. tipe 6 dan 11 tersering dijumpai pada kondiloma akuminatum dan neoplasia intraepithelial serviks ringan. Tipe 16 dan 18 mempunyai potensi keganasan yang tinggi dan sering dijumpai pada kanker serviks. Sampai saat ini sudah dapat diidentifikasikan 80 ntipe virus papioma humanus.
(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 157)



c.       Patogenesis
VPH masuk ke dalam tubuh melalui mikrolesi pada kulit sehingga kondiloma akuminatum sering timbul pada daerah yang mudah mengalami trauma pada saat berhubungan seksual.
(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 157)
d.       Manifestasi klinis
Masa inkubasi dan terjadinya lesi antara 1 sampai 3 bulan. Karakteristik lesi seperti kembang kol dan terletak pada introitus, vulva atau rectum.
(Jan Tambayong, 2000 : 200)
Masa inkubasi berlangsung antara 1-8 bulan (rata-rata 2-3 bulan). Terutama mengenai daerah yang lembab, misalnya daerah genetalia eksterna. Pada pria dapat mengenai perineum, sekitar anus, sulkus koronarius, glans penis. Muara uretra eksterna, korpus dan pangkal penis. Pada wanita di daerah vulva dan sekitarnya, introitus vagina, kadang-kadang pada portio uteri. Adanya fluor albus dan kehamilan dapat mempercepat pertumbuhan penyakit.
Kelainan yang baru berupa vegetasi bertangkai dan kemerahan lalu menjadi kehitaman , permukaan berjonjot (palilomatosa). Bila infeksi menjadi keabu-abuan
(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 157)
e.       Diagnosis banding
Veruka vulgaris, kondiloma latum dan karsinoma sel skuamosa.
(Arif Mansjoer jilid 2, 2000 : 157)
f.         Penatalaksanaan
Dapat dilakukan dengan kemoterapi, bedah listrik, bedah beku, bedah scalpel, laser CO2, interferon da

























2.1.8 Perilaku Dan Sosial Budaya Yang Berpengaruh pada Pelayanan Kebidanan Komunitas.
A. Konsep Kebidanan Komunitas
Konsep adalah kerangka ide yang mengandung suatu pengertian tertentu. Kebidanan berasal dari kata “Bidan” yang artinya adalah seseorang yang telah mengikuti pendidikan tersebut dan lulus serta terdaftar atau mendapat ijin melakukan praktek kebidanan.
Sedangkan kebidanan sendiri mencakup pengetahuan yang dimiliki bidan dan kegiatan pelayanan yang dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan bayi yang dilahirkan (J.H. Syahlan, 1996).
Komunitas adalah kelompok orang yang berada di suatu lokasi tertentu. Sarana kebidanan komunitas adalah ibu dan anak balita yang berada dalam keluarga dan masyarakat. Pelayanan kebidanan komunitas dilakukan diluar rumah sakit. Kebidanan komunitas dapat juga merupakan bagian atau kelanjutan pelayanan kebidanan yang diberikan di rumah sakit. Pelayanan kesehatan ibu dan anak di lingkungan keluarga merupakan kegiatan kebidanan komunitas.
Kelompok komunitas terkecil adalah keluarga individu yang dilayani adalah bagian dari keluarga atau komunitas. Oleh karena itu, bidan tidak memandang pasiennya dari sudut biologis. Akan tetapi juga sebagai unsur sosial yang memiliki budaya tertentu dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan lingkungan disekelilingnya.
Dapat ditemukan disini bahwa unsur-unsur yang tercakup didalam kebidanan komunitas adalah bidan, pelayanan kebidanan, sasaran pelayanan, lingkungan dan pengetahuan serta teknologi.
Asuhan kebidanan komunitas adalah merupakan bagian integral dari system pelayanan kesehatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu, anak dan Keluarga Berencana.
B. Manajemen Kebidanan Komunitas
Dalam memecahkan masalah pasiennya, bidan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan.
Manajemen kebidananan adalah metode yang digunakan oleh bidan dalam menentukan dan mencari langkah-langkah pemecahan masalah serta melakukan tindakan untuk menyelematkan pasiennya dari gangguan kesehatan.
Penerapan manajemen kebidanan melalui proses yang secara berurutan yaitu identifikasi masalah, analisis dan perumusan masalah, rencana dan tindakan pelaksanaan serta evaluasi hasil tindakan. Manajemen kebidanan juga digunakan oleh bidan dalam menangani kesehatan ibu, anak dan KB di komuniti, penerapan manajemen kebidanan komuniti (J.H. Syahlan, 1996).
1. Identifikasi masalah
Bidan yang berada di desa memberikan pelayanan KIA dan KB di masyarakat melalui identifikasi, ini untuk mengatasi keadaan dan masalah kesehatan di desanya terutama yang ditujukan pada kesehatan ibu dan anak. Untuk itu bidan melakukan pengumpulan data dilaksanakan sccara langsung ke masyarakat (data subyektif) dan data tidak langsung ke masyarkaat (data obyektif)
a. Data Subyektif
Data subyektif diperoleh dari informasi langsung yang diterima dai masyarakat. Pengumpulan data subyektif dilakukan melalui wawancara. Untuk mengetahui keadaan dan masalah kesehatan masyarakat dilakukan wawancara terhadap individu atau kelompok yang mewakili masyarakat.
b. Data Obyektif
Data obyektif adalah data yang diperoleh dari observasi pemeriksaan dan penelaahan catatan keluarga, masyarakat dan lingkungan. Kegiatan dilakukan oleh bidan dalam pengumpulan data obyektif ini ialah pengumpulan data atau catatan tentang keadaan kesehatan desa dan pencatatan data keluarga sebagai sasaran pemeriksaan.
2. Analisa dan perumusan masalah
Setelah data dikumpulkan dan dicatat maka dilakukan analisis. Hasil analisis tersebut dirumuskan sebagai syarat dapat ditetapkan masalah kesehatan ibu dan anak di komuniti.
Dari data yang dikumpulkan, dilakukan analisis yang dapat ditemukan jawaban tentang :
a. Hubungan antara penyakit atau status kesehatan dengan lingkungan keadaan sosial budaya atau perilaku, pelayanan kesehatan yang ada serta faktor-faktor keturunan yang berpengaruh terhadap kesehatan. (H.L. Blum).
b. Masalah-masalah kesehatan, termasuk penyakit ibu, anak dan balita
c. Masalah-masalah utama ibu dan anak serta penyebabnya
d. Faktor-faktor pendukung dan penghambat
Rumusan masalah dapat ditentukan berdasarkan hasil analisa yang mencakup masalah utama dan penyebabnya serta masalah potensial.
3. Diagnosa potensial
Diagnosa yang mungkin terjadi
4. Antisipasi penanganan segera
Penanganan segera masalah yang timbul
5. Rencana (intervensi)
Rencana untuk pemecahan masalah dibagi menjadi tujuan, rencana pelaksanaan dan evaluasi.
6. Tindakan (implementasi)
Kegiatan yang dilakukan bidan di komunitas mencakup rencana pelaksanaan yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
7. Evaluasi
Untuk mengetahui ketepatan atau kesempurnaan antara hasil yang dicapai dengan tujuan yang ditetapkan.
C. Konsep Dasar Keluarga
1. Pengertian keluarga
Keluarga adalah unit terkecil masyarakat, terdiri atas 2 orang atau lebih adanya ikatan perkawinan dan pertalian darah, hidup dalam satu rumah tangga dibawah asuhan seorang kepala rumah tangga berinteraksi diantara sesama anggota keluarga, setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing, menciptakan, mempertahankan suatu kebudayaan. (Depkes. RI. 1998 dan Salvicion G Bailon dan Aracelis Maglaya, 1989).
2. Struktur keluarga
a. Patrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara, seadarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.
b. Matrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
c. Matrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.
d. Patrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
e. Keluarga kawinan
Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.
3. Ciri-ciri struktur keluarga
a. Terorganisasi
b. Ada keterbatasan
c. Ada perbedaan dan kekhususan
4. Ciri-ciri keluarga
a. Diikat dalam suatu tali perkawinan
b. Ada hubungan darah
c. Ada ikatan batin
d. Ada tanggung jawab masing-masing anggotnya
e. Ada pengambilan keputusan
f. Kerjasama diantara anggota keluarga
g. Komunikasi interaksi antar anggota keluarga
h. Tinggal dalam satu rumah
5. Ciri-ciri keluarga Indonesia
a. Suami sebagai pengambil keputusan
b. Merupakan suatu kesatuan yang utuh
c. Berbentuk monogram
d. Bertanggung jawab
e. Pengambil keputusan
f. Meneruskan nilai-nilai budaya bangsa
g. Ikatan kekeluargaan sangat erat
h. Mempunyai semangat gotong royong
6. Tipe/bentuk keluarga
a. Keluarga inti (nuclear family)
Adalah keluarga terdiri dari satu ayah, ibu dan anak-anak.
b. Keluarga besar (exended family)
Adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
c. Keluarga berantai (sereal family)
Adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
d. Keluarga duda/ janda (single family)
Adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
e. Keluarga berkomposisi (composite)
Adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami yang hidup secara bersama.
f. Keluarga kabitas (cahabitation)
Adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.
Tipe keluarga Indonesia umumnya menganut tipe keluarga besar (extended family) karena masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku hidup dalam suatu komuniti dengan adat istiadat yang sangat kuat.
7. Perawatan kesehatan keluarga
Adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau satu kesatuan yang dirawat dengan sehat sebagai tujuan dan melalui perawatan sebagai sasaran.