Jumat, 18 Maret 2011

Akhlak-akhlak Terpuji Dalam Kehidupan Sehari-hari


KATA PENGANTAR


            Segala Puji Syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmad dan Nikmat-Nya Kepada saya sehingga dapat menyelesaikan penulis tugas makalah dari mata Kuliah Pendidikan Agama Islam.
            Tugas ini kami susun sebagai bentuk implementasi terhadap apa yang telah saya dapat selama mendapatkan materi ini.
            Penyelesaian tugas ini berkat upaya dan partisipasi dari berbagai pihak. Untuk itu dengan segala kerendahan hati kami sampaikan terima kasih kepada yang terhormat :
1        Bapak Dosen Pendidik Agama Islam, Bapak Drs. H. Masroni,N.M,Pdi
2        Teman-teman yang telah memberikan doa dan dukunganya yang besar
3        Semua pihak baik secara langsung atau tidak langsung yang telah membantu mempercepat selesainya tugas makalah ini, dan masih banyak lagi pihak-pihak terkait yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
Saya menyadari bahwa tugas ini masih ada kekuarangan, baik dalam Penulisan, tata bahasa maupun isinya, sehingga kami mengharapkan kritik dan saran. Semoga tugas ini bermanfaat bagi mahasiswa Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang Prodi Kebidanan Kediri Khususnya bagi Pembaca pada umunya.




Kediri,         September 2010



Penyusun








DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................................
KATA PENGANTAR................................................................................................
DAFTAR ISI..............................................................................................................
BAB IPENDAHULUAN............................................................................................
1.1  Latar Belakang..........................................................................................
1.2  Rumusan Masalah......................................................................................
1.3  Tujuan.......................................................................................................
BAB II  PEMBAHASAN...........................................................................................
2.1 Akhlak-akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari.....................................
2.1.1 Sabar...............................................................................................
2.1.2 Wara’...............................................................................................
2.1.3 Qana’ah...........................................................................................
2.1.4 Toleransi...........................................................................................
2.1.5 Berpikir positif dan percaya diri.........................................................
2.1.6 Taat..................................................................................................
2.1.7 Tawadhu..........................................................................................
2.1.8 Rajin.................................................................................................
2.1.9 Hemat..............................................................................................
2.1.10 Dermawan......................................................................................
2.1.11 Jujur...............................................................................................
2.1.12 Pemaaf...........................................................................................
2.2 Akhlak-akhlak Terpuji menurut syaikh Abdurrahman Sidiq al Banjari..........
2.2.1 Tafakur dan Taubah..........................................................................
2.2.2 Al – Zauh.........................................................................................
2.2.3 Tawakal...........................................................................................
2.2.3 Sabar...............................................................................................
2.2.5 Ikhlas dan Menjauhi Riya..................................................................
2.2.6 Tawadhu dan Menjauhi Takabur.......................................................
2.2.7  Syukur dan Ridha............................................................................
2.2.8 Shidiq...............................................................................................
2.2.9 Mahabbah........................................................................................
2.2.10 Zikir al –maut..................................................................................
2.3 Akhlak kepada Pencipta............................................................................
2.3 Manfaat memafkan bagi kesehatan.............................................................

BAB III  PENUTUP...................................................................................................
            Kesimpulan............................................................................................................
            Saran.....................................................................................................................
DFTAR PUSTAKA....................................................................................................

































BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya Timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dan tidak memerlukan pertimbangan akal pikiran lebih dahulu. Akhlak terpuji umuya disama artikan dengan akhlakul karimah. Dimana setiap kesempatan dan situsional orang berbicara tentang akhlak terpeju. Memang ini menarik untuk dibicarakan, akan tetapi sulit untuk dipraktekan. Banyak hal yang dapat di lakukan untuk mewujudkan akhlak atau perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari. Selain akhlak terpuji yang perlu kita tanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain akhlak terpuji yang perlu kita tanamkan dalan diri kita adalah akhlak kepada pencipta, dimana itu berhubungan langsung dengan ketaatan dan ketaqwaan kepada Pencipta yaitu Allah SWT.
Karena semakin majunya zaman banyak generasi muda yang jauh dari ilmu agama, dan sering menyimpang dari akhlak terpuji, perihak, negara kita perlu adanya generasi muda yang beradaban tinggi dan berakhlak terpuji agar menjadi negara yang maju, makmur, dan berbudi pekerti luhur, selain itu ternyata menerapkan perilaku terpuji juga baik untuk kesehatan, baik kesehatan jasmani maupun rohani, oleh sebab itu, saya mengangkat tema akhlak terpuji dan akhlak kepada Pencipta dalam kehidupan sehari-hari.
1.2  Rumusan Masalah
1        Apa sajakah yang termasuk akhlak-akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari?
2        Apa sajakah akhlak-akhlak terpuji menurut syeikh Abdurrahman siddiq al bajari ?
3        Apakah pengertian akhlak kepada pencipta ?
4        Apakah hubungan antar akhlak terpuji pemaaf dengan kesehatan ?
1.3  Tujuan
1        Untuk mengetahui dan memahami akhlak-akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari.
2        Untuk mengetahui dan memahami akhlak-akhlak terpuji menurut pendapat Syeih Abdurrahman Shiddiq al banjari
3        Untuk mengetahui dan memahami pengertian akhlak kepada pencipta.
4        Untuk mengetahui dan memahami hubungan antara akhlak terpuji pemaaf dengan kesehatan.


BAB II
PEMBAHASANA

2.1 Akhlak- Akhlak Terpuji dalam kehidupan sehari- hari
2.1.1 Sabar
Pengertian Sabar
Sabar artinya tahan uji dan siap menanggung segala derita didalam menjalankan dimul islam. Seseorang juga dapat dikatakan sabar kecuali sesudah diuji dengan berbagai macam ujian. Sabar juga dapat diartikan. Tabah dan sanggup, menderita dalam menghadapi cobaan atau sesuatu yang disenangi dengan sikap rida, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah s.w.t. orang yang tabah tidak pernah mengeluh dan tanpa ada rasa putus asa, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah.
Nabi Muhammad saw dalam menyiarkan agama islam selalu mengalami cobaan dan rintangan yang banyak sekali,. Beliau dicaci maki, bahkan mendapat perlakuan kasar dengan dilempari batu dan kotoran binatang ketika sedang mengerjakan sholat. Namun demikian beliau tetap sabar dan dengan lapang dada serta hati yang bersih tetap menjalankan tugasnya mengajak umat untuk masuk agama islam
Adakalanya orang tidak sabar ketika diuji dengan kekayaan, dia merasa seluruh kekeyaan itu berasal dari hasil kerja kerasnya siang malam tanpa kenal lelah. Dia melupakan Allah sebagai pemberi Rezeki, dia menjadi sombong dan takabur dengan kekayaanya.
Sebagai firman Allah dalam surat AL- Fajr Ayat 15 :



Artinya :
“ Adapun manusia apabila tuhanya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-nya kesenangan, maka dia berkata : “ Tuhanku telah memuliakanku ”. ( Qs. AL- Fajr : 15 )
Adapula manusia yang ketika diuji dengan kemiskinan dia tidak sabar. Dia merasa dihinakan oleh Allah. Dia berputus asa dari rahmad Allah, sembari melontarkan kata-kata makian kepada-nya.



Sebagai firman Allah dalam surat AL- Fajr ayat 16 :


Artinya :
“ Dan adapun bila tuhanya mengujinaya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata : “ Tuhanku menghinaku ”. ( Qs. Al- Fajr : 16 )
Baik orang yang gagal ketika diuji dengan kekayaan maupun orang yang gagal tatkala diuji dengan kemiskinan tidak termauk golongan orang-orang yang sabar. Orang yang sabar adalah orang yang tetap menjalankan perintah Allah dan menjahui laranganya diwaktu kaya maupun diwaktu miskin, diwaktu senang maupundiwaktu susah, diwaktu longgar maupun diwaktu sempit. Mereka inilah yang disebut sebagai orang-orang yang bertaqwa dan akan mendapatkan ampunan dan surga dari Allah.
Macam- macam sabar :
  1. Sabar dalam menjauhi maksiat
Seorang muslim harus bersabar untuk menjauhi maksiat. Walaupun keindahan maksiat menggodanya namun dia haruslah tabah dan teguh meninggalkanya.
Rasullulah saw bersabda sebagai berikut :
“ Surga dikelilingi kebencian-kebencian hawa nafsu, sedangkan neraka dikellingi oleh kesenagan-kesenangan hawa nafsu ” (HR. Muslim )
  1. Sabar dalam menjalani ketaatan
Sabar disini merupakan sikap menahan diri dari berbagai kesulitan dan rasa berat dalam melaksanakan ketaatan.
Kesabaran dalam hal ini maknanya adalah senantiasa mentaati Allah dalam keadaan bagaimanapun juga, sabar dalam taat ini juga mencakup kesabaran didalam beribadah, berzikir, beramal sholeh dan lainya.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Thaha Ayat 132 :



Artinya :
“ Dan pertahankanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakanya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat ( yang baik ) itu adalah bagi orang yang bertakwa . ” ( Qs. Thaha : 132 )


  1. Sabar dalam menghadapi musibah
Seorang muslim adalah orang yang bersabar manakala ditimpa musibah, Rasullullah saw. Menegaskan bahwa sabar harus di lakukan pada saat-saat permulaan datangnya musibah. Apabila di kali pertama itu dia mengeluh, meratap atau menghujat orang lain, maka dia dianggap tidak bersabar


Artinya :
” Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hak yang diwajibkan ( Oleh Allah ).” ( Qs Lukman : 17 )
Sabar dapat diwujudkan dalam :
·        Sabar dalam menuntut Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, ” Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekuarangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghidari pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.
Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, ” Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan .”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubunganya jauh darinya, hanya karena kegiatanya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugrah kegiatan dari allah. ” ( Taisirul wushul, hal.12-13 )
·        Sabar dalam Mengamalkan Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, ” Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar menghadapi gangguan yang ada di hadapanya. Apabila dia melaksanakanya ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida” wal ahwaa” yang menghalagi di hadapanya, demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka.
Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan kadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan kedu-duanya. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong ” ( Taisiril wushul, hal.13 )
·        Sabar dalam Berdakwah
Syaikh Nu’man mengatakan, ” Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya,karena disaat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rosul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu ”alaihi wa sallam, ” Tidaklah ada seorangpun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang .”
Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da’i pengajak kesyirikan tegak di hadapanya, begitu pula para pengikut dan orang-orang yang menyenangkan perut mereka dengan cara itu. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As sunnah maka akan ditemuinya para pembela bi’ah dan hawa nafsu. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan diteminya para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka.
Mereka semua akan berusa mnghalang-halangi dakwahnya karena dia telah menghalagi mereka dari kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni.” (Taisirul wushul, hal.13-14 )s
·        Sabar dalam kemenangan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin rahimahullah berkata, "Allah ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya, "Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami." (QS. Al An'aam [6]: 34).
Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da'i) masih hidup saja sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da'i mi meskipun dia sudah mati.
Maka wajib bagi para da'i untuk bersabar dalam melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Hendaknya dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya. Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu 'alaihim. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.
Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Demikianlah, tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan, 'Dia adalah tukang sihir atau orang gila'." (QS. Adz Dzariyaat [51]: 52). Begitu juga Allah 'azza wa jalla berfirman, "Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan orang-orang pendosa." (QS. Al Furqaan [25]: 31). Namun, hendaknya para da'i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua..." (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal- 24)
  •  Sabar di atas Islam
Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu 4anhu yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus merasakan siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang panas (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122). Ingatlah bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya. Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara yang sangat keji sehingga mati sebagai muslimah pertama yang syahid di jalan Allah. (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122-123)
Lihatlah keteguhan Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu yang dipaksa oleh ibunya untuk meninggalkan Islam sampai-sampai ibunya bersumpah mogok makan dan minum bahkan tidak mau mengajaknya bicara sampai mati. Namun dengan tegas Sa'ad bin Abi Waqqash mengatakan, "Wahai lbu, demi Allah, andaikata ibu memiliki seratus nyawa kemudian satu persatu keluar, sedetikpun ananda tidak akan meninggalkan agama ini..." (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 133) Inilah akidah, inilah kekuatan iman, yang sanggup bertahan dan kokoh menjulang walaupun diterpa oleh berbagai badai dan topan kehidupan.
Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya cobaan yang menimpa kita pada hari ini, baik yang berupa kehilangan harta, kehilangan jiwa dari saudara yang tercinta, kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan makanan, itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan yang dialami oleh salafush shalih dan para ulama pembela dakwah tauhid di masa silam.
Mereka disakiti, diperangi, didustakan, dituduh yang bukan-bukan, bahkan ada juga yang dikucilkan. Ada yang tertimpa kemiskinan harta, bahkan ada juga yang sampai meninggal di dalam penjara, namun sama sekali itu semua tidaklah menggoyahkan pilar keimanan mereka.
Ingatlah firman Allah ta'ala yang artinya, "Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim." (QS. Ali 'Imran [3] : 102).
Ingatlah juga janji Allah yang artinya, "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka." (QS. Ath Thalaq [65] :23).
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keluar. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan." (HR. Abdu bin Humaid di dalam Musnadnya [636] (Lihat Durrah Salafiyah, hai. 148) dan Al Haakim dalam Mustadrak 'ala Shahihain, III/624). (Syarh Arba'in Ibnu 'Utsaimin, hal. 200)
  •  Sabar Menjauhi Maksiat
Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, "Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah "azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur'an.
Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan, ada pula yang binasa karena disambar petir, ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur, dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi, dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk)."
Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan, "Syaikh memberikan isyarat terhadap sebuah ayat, "Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (QS. Al 'Ankabuut [29] : 40).
"Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Allah tabaaraka wa ta'ala. Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. Janganlah mendekatinya.
Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan. Sebagaimana difirmankan Allah 'azza wa jalla, "Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-kejelekan." (QS. Huud [11] : 114). Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya." (HR. Ahmad, dll, dihasankan Al Albani dalam Misykatul Mashaabih 5043)..." (Thariqul wushul, hal. 15-17)
  • Sabar Menerima Takdir
Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, "Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adaiah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta..." (Thariqul wushul,hal. 15-17)
  •  Sabar dan Tauhid
Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta'ala membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul, "Bab Minal iman billah, ash-shabru 'ala aqdarillah" (Bab Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk cabang keimanan kepada Allah)
Syaikh Shalih bin Abdul 'Aziz Alusy Syaikh hafizhahullahu ta'ala mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini, "Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). la termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. la menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran.
Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari'at (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syari'at (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.
Hakikat penghambaan adaiah tunduk melaksanakan perintah syari'at serta menjauhi larangan syari'at dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa 'ala untuk menempa hamba-hamba-Nya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir.
Adapun ujian dengan dibebani ajaran-ajaran agama adaiah sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa 'ala kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari 'lyaadh bin Hamaar. Dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda "Allah ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu'."
Maka hakikat pengutusan Nabi 'alaihish shalaatu was salaam adaiah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.
Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan) tentu juga diperlukan bekal kesabaran. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan, "Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan."
Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun membuat sebuah bab tersendiri, semoga Allah merahmati beliau. Hal itu beliau lakukan dalam rangka menjelaskan bahwasanya sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah.
Ungkapan rasa tanarah dan tak mau sabar itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditirapakannya musibah. Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini, untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa menyakitkan. Dengan hal itu beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan hukumnya juga wajib.
Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab mengatakan, "Qutila fulan shabran" (artitiya si polan dibunuh dalam keadaan "shabr") yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh, tanpa ada perlawanan atau peperangan. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar'i.
la disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek kain dan semacamnya. Maka menurut istilah syari'at sabar artinya: Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.
Imam Ahmad rahimahullah berkata, "Di dalam al-Qur'an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan"
Perkataan beliau "Bab Minal imaan, ash shabru 'ala aqdaarillah" artinya: salah satu ciri karakteristik iman kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah, Keimanan itu mempunyai cabang-cabang. Sebagaimana kekufuran juga bercabang-cabang.
Maka dengan perkataan "Minal imaan ash shabru" beliau ingin memberikan penegasa bahwa sabar termasuk salah satu cabang keimanan. Beliau juga memberikan penegasan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yangmenunjukkanbahwaniyaahah (meratapi mayit) itu juga termasuk salah satu cabang kekufuran . sehingga setiap cabang kekafiran itu harus dihadapi dengan cabang keimanan. Meratapi mayit adalah sebuahcabang kekafiran maka dia hams dihadapi dengan sebuah cabang keimanan yaitu bersabar terhadap takdir Allah yang terasa menyakitkan" (At Tamhiid, hal.389-391)       
2.1.2         Wara’
a.  Pengertian Wara’
Wara’adalah meninggalkan sesuatu yang meragukan atau meninggalkan segala subhat. Wara’adalah permulaan zuhud, seperti halnya merasa cukup dengan pemberian allah adalah permulaan rida. Wara’adalah patuh, taat kepada alloh, serta menjauhkan diri dari dosa maksiat dan subhat. Orang yang bersikap wara’adalah seseorang yang tidak mau memakan makanan yang belum diketahui secara pasti cara pembuatan dan bahan bakunya, padahal makanan itu disajikan kepadanya pada saat dia lapar dan tidak sedang berpuasa.
Orang yang bersikap wara’adalah seorang yang meninggalkan apa saja yang tidak bermanfaat bagi dirinya, walaupun menyenangkan secara jasmani dan sesuai dengan kehendak nafsunya. Nabi saw telah bersabda yang artinya sebagai berikut : ” Termasuk kebaikan islam seseorang dalam sikapnya yang meninggalkan apa yang tidak berguna baginya ”.
b.      Ciri-ciri seorang wira’i
Dalam kitab minhajul ibad, Imam ghazali mengatakan bahwa wara’ itu pokok dari ibadah dan pokok dari wara’adalah teliti dalam segala hal.orang yang berhati-hati dalam melakukan hukum, menghindari barang subhat, takut mendekati haram dapat disebut wira’i. Adapun ciri-ciri seseorang wira’i antara lain adalah sebagai berikut :
§         Tidak mudah berburuk sangka
§         Memelihara lisan tidak sampai menggunjing
§         Tidak meremehkan orang lain
§         Memelihara dari sesuatu yang mendekati haram
§         Berbicara dengan benar
§         Mengingat nikmat allah supaya tidak sombong
§         Menggunakan harta dalam kebenaran
§         Dalam kedudukan tidak ambisi
§         Menjaga waktu shalat
§         Tetap teguh menjaga sunnah rasul



2.1.3        Qana’ah
a.  Pengertian Qana’ah
Qana’ah secara bahasa berarti cukup. Secara istilah Qana’ah artinya rela menerima segala ketetapan Allah swt dan merasa cukup dengan apa yang telah di perolehnya. Sifat Qana’ah merupakan salah satu sifat apa yang telah diperolehnya. Sifat Qana’ah merupakan salah satu sifat yang terpuji. Seseorang yang bersifat Qana’ah selalu ikhlas menerima hasil usahanya karena yakin bahwa apa yang diperolehnya merupakan kehendak Allah semata. Ia senantiasa dan bersyukur sekalipun hasil usahanya kurang memuaskan.
Sifat Qan’ah bukan berarti malas bekerja dan berusaha. Namun sebaliknya, sifat Qana’ah mendorong seseorang giat bekerja danberusaha untuk memperoleh hasil yang sebanyak-banyaknya dari hasil yang diterimahnya disyukuri dengan penuh kerelaan, tidak pernah kesal dan jengkel. Dengan cara yang benar dan penuh harap kepada Allah swt, ia akan mencurahkan segenap kemampuanya untuk mencapai tujuan hidupnya. Orang yang memiliki sifat Qana’ah akan selalu merasa tentram dan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Dia meyakini bahwa pada hakikatnya kekayaan atau kemiskinan tidak diukkur dengan banyak atau sedikitnya harta, akan tetapi terletak pada klepangan hatinya dalam menerima dan mensyukuri segala anugrah yang di berikan oleh Rasulullah saw. Bersabda yang artinya sebagai berikut, “ kekayaan itu bukanlah diasarkan atas banyaknya harta benda, akan tetapi Qana’ah meliputi lima perkara, yaitu sebagai berikut :
§         Menerima dengan rela apa yang ada
§         Memohon kepada Allah tambahan rizki yang layak dan diiringi dengan ihtiar
§         Menerima dengan sabar semua ketentuan Allah
§         Bertawakal kepada Allah swt
§         Tidak tertarik dengan semua tipu muslihat duniawi
Sifat Qana’ah merupakan bagian dari sikap mental yang penting dan sangat dibutuhkan bagi pengembangan kepribadian seseorang. Oleh karena itu, sifat Qana’ah perlu dibiasakan dan ditanamkan pada diri seseorang sedini mungkin agar dapat menjadi bagian dari sikap hidupnya dan tidak terjerumus ke dalam sifat kserakahan, ketamakan yang sangat dibenci oleh islam. Sikap Qana’ah ini juga menghindarkan diri dari sifat-sifat yang dapat merendahkan martabat seperti labo dan tamak, yang cirinya antara lain suka meminta-minta kepada orang lain seolah-olah masih kurang puas dengan apa yang telah dianugrahkan Allah kepadanya.
Rasulullah saw bersabda :


Artinya : “ Qana’ah itu adalah simpanan yang tidak akan pernah lenyap.” ( HR.Thabrani )
b.      Fungsi Qana’ah
Sifat Qana’ah memiliki peranan yang sangat penting bagi pembentukan kepribadian seseorang, dan diantaranya sebagai berikut :
1        Stabilisator, yaitu sebagai pengendali dari sifat serakah, tamak, dan rakus. Sifat-sifat itu akan mendorong seorang menghalalkan segala cara demi pemenuhan hasrat duniawi, misalnya korupsi, dan merampok. Orang-orang yang bersifat Qana’ah akan terlepas dari sifat-sifat tersebut.sebaliknya akan merasa kaya, berkecukupan, tenang, tentram, lapang dada, dan sabar.
2        Dinamisator, yaitu kebutuhan batin yang mendorong seseorang untuk memperoleh kemajuan-kemajuan hidupnya, baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat.
3        Reflektor, yaitu pencerminan akan kedekatan diri kepada Allah swt dengan perasaan takut dan penuh harap, perasaan cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasulnya. Cintanya kepada Allah dan Rasul-nya melebihi cintanya kepada orang lain.
2.1.4        Toleransi
a.       Pengertian Toleransi
Toleransi adalah sikap membiarkan pendirian orang lain yang berbeda akan bertentangan dengan pendirian diri sendiri. Dalam hal ini, toleransi diartikan memberi kesempatan orang lain untuk melaksanakan ajaran agamanya tanpa paksaan sedikitpun.
Membiarkan orang lain berbeda agama sebenarnya selaras dengan jaminan kebiasaan beragama yang telah tercantum dalam pasal 29 ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945, yang berbunyi : “ Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaan itu” . ini berarti bahwa masyarakat indonesia harus memberi toleransi epada orang lain yang seagamanya maupun yang berbeda agama.
Sesama umat muslim, kita harus saling membantu dalam melakukan hal yang baik. Dengan demikian akan tercipta kerukunan hidup dan memperkuat persaudaraan antar umat islam ( Ukhuwah Islamiah ). Kepada orang yang berbeda agama , kita juga harus saling membantu dalah hal kebaikan. Selama bukan urusan akidah dan ibadah, kita harus memiliki toleransi kepada umat agama lain agar tercipta kerukunan hidup antar umat beragama.
Di dalam menjalin hubungan baik antar pemeluk agama, kta dilarang memaksakan orang lain untuk memasuki agama islam. Sebagai mana firman-nya dalam surat Al- Kafirun :


Artinya : Untukmu Agamamu, dan untukkulah Agamaku.” ( Qs. Al- Kafirun : 6 )
b.      Fungsi Toleransi
Toleransi antar umat islam maupun antar umat beragama dapat berfungsi sebagai berikut :
1.      Toleransi antar umat islam akan memperkuat ukhuwah islamiyah sehingga hubungan persaudaraan semakin erat, bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.
2.      Toleransi antar umat islam memudahkan kita dalam memecahkan persoalan umat islam sehingga mengurangi beban mental yang di hadapi umat islam
3.      Toleransi antar umat beragama memudahkan kita dalam menghadapi persoalan umat secara luas sehingga mengurangi beban mental yang dihadapi masyarakat pada umumnya.
4.      Toleransi antar umat beragama dapat menghindari tindak kejahatan yang disebabkan fanatisme berlebihan dalam beragama.
5.      Toleransi antar umat beragama menumbuhkan sikap dan perilaku yang saling menghormatia antar pemeluk agama sehingga dapat mewujudkan suasana harmonis, hidup rukun, aman dan tentram
2.15    Berpikir positif dan percaya diri
a.       Berfikir Positif
positif secara bahasa adalah menggunakan akal pikiran secara positif secara istilah berfikir positif adalah menggunakan akal pikiran atau memikirkan sesuatu secara istilah berfikir positif adalah menggunakan akal pikiran atau memikirkan sesuatu dengan pertimbangan yang membawa manfaat terhadap nikmat atau anugrah yang diberikan oleh Allah terhadap kita. Orang yang bberfikir positif akan memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
§         Bersyukur terhadap nikmat yang diterimanya dengan menggunakan nikmat itu sebaik-baiknya.
§         Sabar apabila ditimpa suatu cobaan
§         Merasa cukup dengan apa yang dimilikinya
§         Besar harapan untuk berlapang dada (optimis _
§         Jika sedang menderita atau menghadapi ujian selalu tabah dan tidak putus asa
§         Giat berusaha
§         Husnuzan
§         Bertanggung jawab
b.      Percaya diri
Percaya diri yaitu mengakui tentang kebenaran, kemampuan pada dirinya dalam menghadapi suatu tugas. Percaya diri termasuk akhlak mulia, karena dengan percaya diri, orang akan selalu berfikir dan berbuat secara kreatif dan dinamis sesuai dengan kekuatan yang ada pada dirinya, serta memiliki semangat dan sikap optimis menjalani hidupnya.
Sebagai firman Allah swt dalam surat Yusuf Ayat 87 :




Artinya :
“ Hai anak-anakku, pergilah, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat alloh, melainkan kaum yang kafir.” ( Qs Yusuf : 87 )
Orang-orang yang memiliki sifat percaya diri didalamnya akan menyertai sifat –sifat terpuji lainya, diantaranya sebagai berikut :
§         Isiqomah, tetap teguh pendirian, dan tegak lurus
§         Seja’ah atau sabar dalam menghadapi penderitaan
§         Tabah hati atau sabar dalam menghadapi kesulitan
§         Jauhdun atau rajin dan tekun dalam menjalankan sesuatu
§         Perwira yaitu giat bekerja keras
§         Memiliki landasan yang benar
Adapun hikmah memenuhi sifat percaya diri adalah sebagai berikut :
§         Disenangi orang lain
§         Mengetahui kemampuan yang ada pada dirinya
§         Akan kembali ke jalan yang benar
c.       Manfaat Berfikir positif dan percaya diri
Seseorang yang memiliki sifat berfikir positif dan percaya diri akan mendapatkan hal-hal dibawah ini, diantaranya adalah sebagai berikut ;
§         Mendapatkan keindahan Allah swt
Dengan berfikir positif dan memiliki rasa percaya diri seorang muslim akan dapat meraih rida Allah swt. Muslim yang pesimis tidak akan berani berbuat, tidak akan mampu beramal, akhirnya dia tidak mampu menggapai keindahan Allah swt.
§         Terpenuhi kebutuhan hidupnya
Dengan memiliki rasa percaya diri yang tinggi seseorang akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanpa rasa percaya diri, dia tidak akan dapat bekerja dengan baik dan sempurna. Hal itu akan berakibat buruknya kualitas kerja sehingga kebutuhan hidup tidak bias terpenuhi.
§         Terpenuhi nafkah keluarga
Seseorang yang selalu berfikir positif tidak akan mudah putus asa kegagalan dalam mencari nafkah tidak menjadikan frustasi. Dia terus berusaha semaksimal mungkin mencari nafkah yang halal, yang akhirnya diapun akan mendapatkanya.
§         Terpenuhi kebutuhan sosialnya
Orang yang memiliki pemikiran positif, dapat berderma atau bersedekah dia berfikir bahwa harta yang kekal adalah harta yang dia sedekahkan dijalan Allah. Pemikiran positif ini menghantarkanya menjadi seorang dermawan yang dicintai oleh Allah swt.
§         Terpenuhi keperluan beribadah
Seseorang yang memiliki rasa percaya diri dan berpikiran positif akan mampu memenuhi kebutuhan peribadatanya. Dia akan mengalokasikan sebagian hasil kerjanya untuk mendukung ibadahnya, sebab dia yakin bahwa ibadah itulah yang akan menjadikanya mulia dihadapan Rabbnya.
§         Mampu menolak kemungkaran
Dengan pemikiran positif dan percaya diri, seorang muslim dapat menolak atau menepis kemungkaran yang ada disekitarnya. Bila dia tidak memiliki rasa percaya diri, mustahil dia berani mengubah kemungkaran yang meraja lela di sekitarnya.
2.16    Taat
Beribadah secara Lillahitaalla (ikhlas) selalu taat, merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri dan sangat disukai oleh Allah dan Rasul-Nya. Taat secara bahasa adalah senantiasa tunduk dan patuh, baik terhadap Allah, Rasul maupun ulil amri. Hal ini sudah tertuang didalam Qs An Nisa ayat 59
" Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat lentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (At Quran) dan Rasul ( Sunahnya), jika kamu benar-henar beriman kepada Allah dan hari kemudian yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya ".
Berpedoman pada sepotong firman Allah diatas yang memerintahkan orang-orang yang beriman supaya selalu memurnikan ketaatan hanya kepada Allah, Rasul maupun ulil amri. Soal pemimpin yang bagaimana yang harus ditaati tsb ? tentu pemimpin yang juga taat kepada Allah dan Rasulnya, lalu masih adakah pemimpin yang memiliki sifat seperti yang di uraikan diatas ? yang lebih mengutamakan kepentingan umum & rakyat badarai diatas kepentingan pribadi dan keluarganya ?.
Taat pada Allah tidak hanya asal taat, didalam pelaksanaan teknisnya harus benar dan sungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, dan dengan tampa alasan apapun menghentikan segala larangan-Nya. Sebenarnya apa-apa yang menjadi perintah Allah Taalla sudah tidak diragukan lagi pasti tersimpan segaia kemaslahatan (kebaikan), sedangkan apa-apa yang menjadi larangan-Nya sudah tertulis akan segala kemudharatanya (keburukan). Kemudharatan (bencana alam dimana-mana) yang sering terjadi akhir-akhir ini merupakan imbas dari tidak menghiraukan segala larangan Allah dan Rasul-Nya. Qs AH lmran ayat 32 memperjelasnya :
Katakanla, taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir ".
Begitu   juga   ketaatan   kepada   Rasul,   yaitu   Rasulullah   Saw   dengan   selalu meimplementasikan yang terdapat  dalam  hadis  beliau.   Sebagai utusan Allah Nabi Muhammad Saw mempunyai tugas menyampaikan amanah kepada umat martusia tampa memandang status, jabatan, suku dsb. Oleh karena itu bagi setiap muslim yang taat kepada Allah Swt harus melengkapinya dengan mentaati segala perintah Rasullah saw sebagai utusan-nya. Sebagaimana yang difirmankan Qs At Taqabunan ayat 12
' Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul kami hanyalah menyampaikan (amanah Allah) dengan terang ".
Allah Swt adalah adalah khalik, pencipta alam semesta beserta isinya ini. Rasulullah Saw adalah utusan-Nya untuk seluruh umat manusia bahkan kelahiran dari beliau Saw alam semesta ini mendapat rahmat yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu siapapun yang telah berikrar (bersyahadad) maka dengan sendirinya lahirlah suatu kewajiban dalam bentuk ketaatan kepada keduanya dalam situasi dan kondisi apapun. Namun jenis ketaatan seperti yang disebutkan diatas akan lebih sempurna kalau diiringi dengan ketaatan dan kepatuhan kepada ulil amri atau pemimpin. Ketaatan tersebut dalam artian harus selalu taat dan mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditelurkan secara bersama, tentu selam peraturan itu masih diatas nilai-nilai kemanusiaan dan tidak menyimpang dari aturan agama Islam. Ketaatan itu bukan hanya harus diimplementasikan pada pemimpin dalam artian luas saja dalam artian sempitpun harus menjadi keseharian kita, seperti kepada orang-orang yang memiliki kuasa dan kedudukan yang lebih tinggi. Seorang anak harus taat dan patuh pada kedua orang tuanya, murid kepada gurunya, istri kepada suaminya agar kasus-kasus perceraian yang marak terjadi belakangan ini dan dengan berbagai macam penyebabnya dapat diminimalisir Dari Tbnu Umar Ra. Nabi Muhammad Saw bersabda:
' Wajib bagi seorang muslim mendengarkan dan taat sesuai dengan yang disukai dan apabila diperintah untuk menjalankan maksiat jangan dengarkan dan jangan taati ". (Hr. Muslim).
Ketatatan yang kita lakukan kepada Allah, Rasul dan ulil amri merupakan ketaatan yang akan berakibat baik terhadap amal ibadah kita selama ketatan tersebut tidak diselimuti oleh berbagai bentuk kebohongan, penyakit hati, kemunafikan,  Malah Islam sangat memuliakan umatnya yang memiliki sifat tawaduk dengan selalu merendahkan hati baik terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia. Kita sebagai muslim harus menyadari bertawaduk merupakan bagian dari akhlakul karimah yang melahirkan manusia-manusia yang berprilaku baik, dengan memunculkan suatu kesadaran akan hakikat kejadian dirinya dan tidak pernah mempunyai alasan untuk merasa lebih baik, lebih pintar, lebih kaya, lebih ganteng, lebih cantik maupun lebih-Iebih lainya antara dirinya dengan orang lain. " Dan hamba-hamba tuhan yang maha penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka.mereka mengucapkan kata-kata yang baik '. ( Qs Al Furqan-63 ).
Adapun cirri-iri orang yang taat kepada Allah yaitu :
§         Selalu banyak belajar
§         Bersikap sabar
§         Menerima dengan ihtiar
§         Merasa cukup apa yang didapat
2.17    Tawadhu
Tawadhu adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerinya dari siapapun datangnya baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Artinya janganlah kamu memandang dirimu berada diatas semua orang, atau engkau menganggap semua orang membutuhkan dirimu.
Lawan dari sifat tawadhu adalah takabbur (sombong), sifat yang sangat dibenci Allah dan Rasul-nya. Rasulullah mendefinisikan sombong dengan sabdanya : “ Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.” (sahuh HR. muslim no-91 dari hadist Abdullah bin mas’udz )
Orang rendah hati akan mendapatkan kemuliaan dari Allah swt dan juga dari manusia disekitarnya. Sebaliknya orang yang takabur, sombong akan dibenci dan dijauhi serta dikucilkan oleh orang-orang disekitarnya. Bahkan orang sombong tidak akan masuk surge, sebagaimana sabda Rasulullah saw :
“ Tidak akan masuk surge orang yang terdapat dalam hatinya sifat takabur (sombong ) walau hanya seberat atom yang sangat halus sekalipun.” ( HR. Muslim )
Jika anda mengangkat kepala dihadapan kebenaran baik dalam rangka menolaknya atau mengingkarinya berarti anda belum tawadhu dan anda memiliki benih sifat sombong.
Tahukah anda apa yang diperbuat Allah subhanahu wa ta'ala terhadap Iblis yang terkutuk? Dan apa yang diperbuat Allah kepada Fir'aun dan tentara-tentaranya? Kepada Qarun dengan semua anak buah dan hartanya? Dan kepada seluruh penentang para Rasul Allah? Mereka semua dibinasakan Allah subhanahu wa ta'ala karena tidak memiliki sikap tawadhu' dan sebaliknya justru menyombongkan dirinya.
Tawadhu' di Hadapan Kebenaran
Menerima dan tunduk di hadapan kebenaran sebagai perwujudan tawadhu' adalah sifat terpuji yang akan mengangkat derajat seseorang bahkan mengangkat derajat suatu kaum dan akan menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
"Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa. " (Al-Qashash: 83)
Fudhail bin Iyadh t (seorang ulama generasi tabiin) ditanya tentang tawadhu', beliau menjawab: "Ketundukan kepada kebenaran dan memasrahkan diri kepadanya serta menerima dari siapapun yang mengucapkannya. " (Madarijus Salikin, 2/329).
Rasulullah shallallu ‘alaihi wassalam bersabda :
"Tidak akan berkurang harta yang dishadaqahkan dan Allah tidak akan menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan akan Allah angkat derajatnya. " (Shahih, HR. Muslim no. 556 dari shahabat Abu Hurairahz)
Ibnul Qayyim t dalam kitab Madarijus Salikin (2/333) berkata:
Barangsiapa yang angkuh untuk tunduk kepada kebenaran walaupun datang dari anak kecil atau orang yang dimarahinya atau yang dimusuhinya maka kesomhongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Allah karena Allah adalah Al-Haq, ucapannya haq, agamanya hag. Al-Haq datangnya dari Allah dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri untuk menerima kebenaran berarti dia menolak segala yang datang dari Allah dan menyombongkan diri di hadapan-Nya. "
Perintah untuk Tawadhu'
Dalam pembahasan masalah akhlak, kita selalu terkait dan bersandar kepada firman Allah subhanahu wa ta'ala:
"Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasul teladan yang baik." (Al-Ahzab: 21)
Dalam hal ini banyak ayat yang memerintahkan kepada beliau untuk tawadhu', tentu juga perintah tersebut untuk umatnya dalam rangka meneladani beliau. Allah subhanahu wa ta’la berfirman :
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu yaitu orang-orang yang beriman.” ( Asy- Syu’ara : 215 )
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
"Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berbuat zhalim atasyang lain. " (Shahih, HR Muslim no. 2588).
Demikianlah Rasulullah shallalJahu 'alaihi wasallam mengingatkan kepada kita bahwa tawadhu' itu sebagai sebab tersebarnya persatuan dan persamaan derajat keadilan dan
Kebaikan ditengah-tengah manusia sebagaimana sifat sombong akan melahirkan keangkuhan yang mengakibatkan memperlakukan orang lain dengan kesombongan.
Macam-macam Tawadhu
Telah dibahas oleh para Ulama sifat tawadhu ibi dalam karya-karya mereka baik dalam bentuk penggabungan dengan pembahasan yang lain atau ,menyendirikan pembahasanya. Diantara mereka ada yang membagi Tawadhu menjadi dua :
1.      Tawadhu yang terpuji yaitu ke-tawadhu-an seseorang kepada Allah dan tidak mengangkat diri dihadapan hamba-hamba Allah.
2.      Tawadhu yang dibenci yaitu tawadhu-nya sseorang kepada pemilik dunia karena menginginkan dunia yang ada disinya. ( Bahjatun Nazrin,1 / 657 ).
2.18    Rajin
Rajin adalah suka giat bekerja (belajar dan sebagainya ). Hanya orang-orang yang rajinlah yang dapat memperoleh bekal. Janganlah menunda-nunda kesempatan yang ada kerjakan, apa yang dapat kita kerjakan hari ini dan janganlah menunggu hari esok.
Setiap orang ingin agar hidupnya sukses dan bahagia. Seorang karyawan (pegawai) misalnya ingin karirnya naik (dapat menduduki ) suatu jabatan penting (tinggi) dikantornya. Pedagang inigin daganganya laku dan mendapatkan keuntungan yang besar. Demikian pula seorang pelajar (Mahasiswa ingin jadi anak (siswa) yang pandai dan berprestasi. Keinginan itu tentu saja tidak akan dating dengan sendirinya, tetapi harus ada usaha maksimum menuju kearah cita-cita. Salah satu usaha itu yaitu kita miliki, Rajin dapat diartikan pandai, hemat pangkal kaya. Artinya kalau kita ingin menjadi orang pandai kita harus rajin belajar (menuntut ilmu ) dan jangan lupa berdoa ). Karena pada hakikatnya keberhasilan seseorang itu adalah karena adanya perkenalan Allah swt, dan untuk mendapatkan perkenaan-nya kita harus berdoa
“ Ya allah, ajarilah akau akan segala hal yang bermanfaat semua pengetahuan yang telah aku pelajari, sungguh engkau dzat yang maha mengetahui dan maha bijaksana.”
2.19    Hemat
Hemat artinya menggunakan uang atau barang atau harta sesuai dengan kebutuhan dan pendapata, juga menggunakan waktu sebaik mungkin sehingga tidak ada waktu yang disia-siakan. Kebalikan dari hemat adalah boros (menghambur-hamburkan uang tanpa perhitungan ). Orang yang hemat tidak mau menghamburkan harta dan uang untuk keperluan yang tidak penting. Sedangkan orang boros teman syaitan, sesuai firman Allah swt :
“sesungguhnya pemborosan itu adalah saudara-saudara syaitan “. (Qs. Al isra : 27 )
Hidup tidak ditentukan oleh banyak sedikitnya harta (penghasilan ), tetapi ditentukan oleh bagaimana cara memanfaatkan dan membelajakanya. Agar kita selalu hemat, maka hendaknya selalu diusahakan langkah-langkah sebagai berikut :
  • Memperhitungkan penggunaan uang dengan secermat-cermatanya
  • Memperhitungkan antara pengeluaran uang dengan secermat-cermatnya
  • Memperhitungkan antara pengeluaran dan pendapatan
  • Mendahulukan kebutuhan lebih pokok
  • Suka menabung untuk hari  depan
Peranan Hemat dalam kehidupan
      Berlaku hemat mempunyai peranan dalam kehidupan seorang. Berhemat merupakan salah satu ciri hidup sederhana dan berencana. Hemat dan sederhana adalah dua sifat yang tidak dapat dipisahkan, karena hemat itu artinya sederhana dalam membelanjakan harta.
      Pengertian hemat berbeda dengan pelit. Hemat berarti membelanjakan harta seperlunya, dapat menyisihkan sebagian dari penghasilanya, dan dapat menyesuaikan antara pengeluaran dan penghasilan.
2.1.10  Dermawan
Dermawan adalah suka menolong (sodaqoh ) dengan iklas, kepada siapa saja yang memerlukan dengan tidak mengharapkan balasan kecuali dari Allah swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw :

2.1.11  Jujur
  • Ajaran Islam tentang kejujuran
Jujur merupakan salah satu sikap yang terpuji (akhlakul karimah ) yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Allah swt, memerintahkan orang yang beriman untuk selalu berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu mampu membawa kepada keselamatan dan kebahagiaan. Kejujuran dapat berbentuk perkataan dan perbuatan. Jujur dalam berkata artinya tidak berdusta, dan jujur dalam perbuatan sesuatu dengan sebenarnya.
Dalam sepanjang sejarah, tidak seorang nabi dan rasul yang diangkat oleh Allah swt, itu tidak memiliki sifat jujur, sebab salah satu sifat yang harus ada dan dimiliki seorang utusan Allah, yaitu siddiq yang artinya jujur. Jujur akan membawa seseorang menjadi terpecaya atau dapat dipercaya oleh orang lain. Nabi Muhammad saw, ketika masih muda mendapat gelar Al- Amin dari kaum Quraisy tidak lain karena kejujuranya. Beliau tidak pernah berdusta, bohong, atau tidak  jujur sehingga orang lain selalu mempercayainya. Gelar terpuji yang beliau sandang tidak dating dari sahabat-sahabatnya saja, bahkan dari orang –orang kafir yang selalu memusuhi dan mengancam akan membunuhnya. Hal ini karena,Nabi Muhammad saw, senantiasa berkata benar, berlaku jujur, dan menunjukkan manusia kejalan yang lurus.
Maka jelas dan pastilah bahwa kejujuran dan menghantarkan seseorang mencapai kebahagiaan  hidup di akhirat dimasukkan neraka. Dalam kehidupan bermasyarakat, maka sikap dusta itu akan menjelma menjadi bentuk tindakan kezaliman, kekerasan, dan kejahatan .
  • Peranan kejujuran dalam kehidupan
Kejujuran mempunyai peran yang sangat penting dan mendasar dalam menciptakan kehidupan yang damai, tentram, dan sejahtera, baik pada tataran individu, keluarga, masyarakat, maupun sampai tataran kehidupan berbangsa dan bernegara sekalipun. Seseorang akan merasakan kedamaian, ketentraman, dan kesejahteraan dalam hidupnya apabila para pejabat selalu menunjukkan sikap jujur dalam memimpin, karena tidak akan timbul rasa saling mencurigai (prasangka buruk) di antara pengatur dan pemegang pemerintahan. Negara juga akan menjadi makmur apabila pejabat-pejabatnya berlaku jujur, karena tidak ada yang berani bertindak menyeleweng, seperti korupsi, manipulasi, kolusi, dan lain sebagainya.
Sabda Nabi Muhammad saw :


Artinya :
” Tinggalkan apa yang meragukan kamu, dan beralihlah kepada orang yang
Tidak meragukanmu. Sesungguhnya kebenaran (kejujuran) itu membawa ketenagan, sedang kedustaan (kebohongan ) itu menimbulkan keragu-raguan”. (HR.Ahmad Turmuzi, dan Ibnu hibban )
Setiap orang pasti tidak akan merasa tenang dan tentram setelah melakukan kebohongan , berdusta, atau kecurangan. Sebaliknya ia akan merasa was-was, gelisah, dan dihantui rasa berdosa (bersalah ), sehingga hidupnya menjadi tidak tenang, kecuali bagi orang yang-orang yang memang hatinya sudah bebal dan tidak mampu lagi mendengar dan mengenal kebenaran karena sudah sering dan kerap kali berbuat dusta, curang dan bohong dalam hidup dan kehidupan seseorang. Orang yang jujur pasti dipercaya dan disukai banyak orang. Sehingga dia mendapat kemudahan-kemudahan dalam hidupnya.orang yang jujur dalam urusan keduniawian pun dia tidak banyak menemui kendala (hambatan ). Sebaliknya, orang yang berdusta, berkhianat, dan berlaku curang akan dijauhi dan ditinggalkan orang lain, sehingga hidupnya menemui banyak kesulitan. Orang lain yang sudah mengetahui tabiat, watak dan perilakunya yang tidak dapat dipercaya pasti akan segera menjauhinya.
Kejujuran harus selalu kita kedepankan dan terapkan dalam semua segi kehidupan karena kejujuran tidak hanya membuat kita bahagia di akhirat kelak, tetapi juga akan mendatangkan berbagai kemudahan, ketentraman, dan kegagalan hidup didunia ini.
Sebab kejujuran merupakan salah satu kunci dari pembuka pintu rahmat serta berkah Allah.
2.1.12  Pemaaf
§    Ajaran Islam tentang maf-memafkan
Manusia ingin hidup rukun, aman, damai, dan sejahtera. Terapi seringkali malah terjadi perselisihan, pertengkaran, dan permusuhan antara satu orang dengan orang lain. Banyak permasalahan (persoalan ) yang menyebabkan timbulnya rasa permusuhan itu. Pada umunya timbul karena tidak ada kecocokan (klop) antara kepentingan satu orang dengan yang lainya.
Islam mengajarkan pada umat manusia agar saling memafkan kesalahan satu dengan yang lainya, karena manusia itu sesungguhnya tidak dapat luput dari salah dan dosa. Apabila kita mempunyai kesalahan kepada seseorang, segera minta maaf agar tidak berkepanjangan dan tidak menimbulkan rasa dendam dan permusuhan.
Dalam ajaran Islam, permusuhan merupakan suatu perbuatan yang di larang. Islam mengajarkan rasa persaudaraan, persahabatan, dan persatuan. Islam yang artinya selamat, sejahtera, dan damai menginginkan hidup dan kehidupan yang aman, damai, tentram, dan sejahtera baik lahir maupun batin.
Namun terkadang terjadi pula perselisihan dan perbedaan yang akan menimbulkan permusuhan hendaknya masing-masing pihak mau dan mampu menahan diri. Perselisihan dan perbedaan yang terjadi segera dicarikan jalan pemecahanya sehingga perkelahian dan tindak anarki dapat dicegah. Pihak  yang merasa bersalah segera minta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi kembali, dan kondusif dalam kehidupan bermasyarakat. Dan pihak yang dirugikan hendaknya dengan senang hati mau menerima permintaan maaf itu.
Dalam prakteknya menyelesaikan perselisihan dengan cara yang baik seperti itu memang sangat sulit. Orang yang merasa dirugikan biasanya merasa tersinggung dan terinjak-injak harga dirinya sehingga menjadi mudah marah dan menaruh dendam sebaliknya orang yang berbuat kerugian terhadap orang lain adakalanya merasa enggan dan tidak mau mengakui dan menyadari kesalahan yang dikerjakan.
            Wahyu Allah SWT, Surat Al, A’raf ayat 199 :


            Artinya : ” Jadilah engkau seorang pemaaf ! serulah orang yang mengerjakan yang makruf dan abaikan orang-orang bodoh.”
                        Orang yang menahan amarahnya, suka memaafkan kesalahan dan minta maaf kepada orang lain sangat terpuji disisi allah. Orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang yang minta maaf kepadanya termasuk golongan orang yang suka merendahkan orang lain. Karena itu, ia termasuk juga orang yang suka merendahkan dan menghina orang lain yang berperilaku sombong ketika berjalan dimuka bumi.
§   Peran Maf-memaafkan dalam Hubungan Antar Manusia
Setiap orang pasti mengginginkan hidup damai, aman, tenteram, dan sejahtera untuk mencapai hal itu seseorang harus berbuat aturan-aturan agar jika terjadi perbedaan dan perselisihan tidak mudah menimbulkan kekerasan dan tindak kejahatan misalnya dalam suatu keluarga pasti ada aturan yang wajib ditaati, bagi seluruh anggota keluarga itu. Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa sangat diperlukan sekali peraturan-peraturan yang mampu menciptakan kehidupan yang aman, tentram dan sejahtera.
Namun bagitu, perselisihan dan permusuhan sering dan tetap terjadi. Penyebabnya sangat beraneka ragam, misalnya karena terjadi kesalah pahaman, kebodohan, ketidak adilan, karena keterpaksaan, bahkan ada yang memang disengaja,karena hanya menginginkan keutungan duniawiyah saja, dan lain sebagainya.
Ajaran islam telah mengatur dan manata hubungan antar sesame umat manusia dalam ehidupan ini. Hal ini untuk menjaga agar kehidupan mereka selalu harmonis dalam Islam memberikan tuntutan kepada manusia jika melakukan kesalahan terhadap orang lain agar segera minta maaf, sedang yang disalahi hendaknya bersedia memberikan maaf.
v     Adapun contoh yang telah diajarkan Nabi Muhammad saw, tentang tata cara meminta maf, atas kesalahan yang kita kerjakan diantaranya sebagai berikut
§         Datang sendiri menemui orang yang kita sakiti hatinya.
§         Meminta maaf atas kesalahan yang di lakukan dengan cara sopan
§         Lewat perantara orang lain, baik secara lisan maupun surat
§         Berjanji untuk tidak mengulangi lagi.
Sikap saling memaafkan mampu menjadi alat yang sangat canggih untuk membina hubungan yang erat dan harmonis. Jika kita rela atau ikhlas memafkan saudara atau teman yang berbuat kesalahan kepada kita berarti kita telah membnuh bibit-bibit penyakit hati yang sangat berbahaya, seperti dengki dan dendam. Dengan begitu, hati kita menjadi bersih. Memafkan orang lain juga tidak akan mendatangkan kerugian apa-apa, melainkan sebaliknya akan semakin dihormati, dihargai, dan dicintai oleh orang lain. Martabatnya akan semakin tinggi, baik dihadapan sesama manusia maupun terlebih disisi Allah swt.
v     Adapun pernah memaafkan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat, diantaranya berikut ini :
§         Menghilangkan atau menghapus penyait hati, seperti rasa dendam, iri, hasud, su’dzan, marah, dengki, fitnah dan lain sebagainya.
§         Mampu menyadarkan bahwa manusia itu tidak dapat lepas dan melepaskan diri dan salah serta dosa.
§         Suatu pelajaran bagi diri sendiri untuk tidak mengikuti dan melakukan perbuatan salah dan dosa seperti yang di lakukan oleh orang lain.
§         Merupakan latihan bagi diri kita untuk menahan hawa nafsu dari perbuatan salah dan dosa seperti di lakukan oleh orang lain.
§         Merupakan latihan bagi diri kita untuk menahan hawa nafsu dari perbuatan yang tidak terpuji seperti suka marah.
2.2 AKHLAK-AKHLAK TERPUJI MENURUT SYAIKH ABDURRAHMAN SHIDDIQ AL BANJARI
2.2.1  Tafakkur dan Taubah
Tafakkur adalah berpikir yang mengandung pengakuan dan penyesaJan terhadap kesalahan-kesalahan serta bertaubat dari segala dosa. Cara bertafakur menurut dia, adalah dengan membaca Dua Kalimah Syahadah secara perlahan-lahan dan menghayati maknanya. Selanjutnya melakukan tiga perkara dalam tafakku yaitu:
' Ibrah, yaitu mencari-cari kesalahan diri sendiri, menyesalinya, dan berjanji tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan itu lagi. Khawf, yaitu takut akan murka Allah dan siksa-Nya serta takut tidak diterima amalnya.
 Raja', yaitu berharap akan rahmat dan ampunan Allah serta berharap akan  diterima segala amalannya.
2.2.2  Al-Zuhd
  Kehidupan yang kekal adalah kehidupan di akhirat, sedangkan kehidupan di dunia harus dijadikan bekal ke akhirat. Selanjutnya dia peringatkan agar hidup jangan tertipu dan terpedaya dengan dunia.
2.2.3 Tawakkal
Tawakal adalah menyerahkan diri. Dalam lirik syairnya "menyerahkan diri jangan menyesal" dapat diartikan rela terhadap apa yang dikehendaki Allah SWT. Penjelasannya ini sejalan dengan pendapat Bisyr Al-Hafi yang dikutip Al-Qusyairi mengatakan "Saya bertawakal kepada Allah SWT., sedang orang Iain berbohong kepada-Nya. Seandainya dia bertawakal kepada Allah SWT., maka pasti dia rela terhadap apa yang dikerjakan (dikehendaki) oleh Allah SWT".
2.2.4  Shabar
Manusia perlu senantiasa bersabar, baik bersabar dalam menggunakan nikmat, bersabar melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, maupun bersabar dalam menerima cobaan atau hal-hal yang tidak diingini. Abdurrahman Shiddiq menganjurkan agar senantiasa dapat bersabar dan menahan marah, sebab sifat sabar mendatangkan banyak mamfaat Selanjutnya dijelaskannya, bahwa orang yang tidak mempunyai sifat sabar akan mudah dihinggapi sifat marah. Menurut dia, ada beberapa kerugian sebagai akibat dari sifat marah. Pertama, hilang akal dan keseimbangan jiwa, sehingga akan salah dalam mengambil sikap dan tindakan. Kedua, hilangnya atau berkurangnya iman seseorang. Ketiga, kehilangan sahabat.
2.2.5 Ikhlash dan menjauhi riya
Ikhlash adalah bersih amal kepada Allah, dan sifat ini merupakan syarat untuk mendapatkan pahala amal ibadah. Dia membagi ikhlash dalam dua macam, yaitu ikhlash al-abrar dan ikhlash al-muqarrabin. Ikhlash al-abrar adalah seseorang beramal karena semata-mata menjunjung perintah Allah SWT. tanpa mengharapkan apapun selain daripada Allah, termasuk tidak mengharapkan surga dan juga tidak memohon dijauhkan dari api neraka. Sedangkan ikhlash al-muqarrabin adalah seseorang beramal, tetapi tidak mengakui dan tidak merasa amalan-amalan itu sebagai usaha ikhtiarnya, bahkan dalam ma'rifatnya semuanya itu adalah semata-mata amalan Allah dan atas taufik-Nya. Ikhlash al-abrar disebut ikhlash li Allah (ikhlas karena Allah), sedangkan ikhlash al-muqarrabin disebut ikhlash bi Allah (ikhlas dengan pertolongan Allah). Ikhlash al-muqarrabin merupakan pengertian ikhlash menurut pandangan ulama tasawuf, di mana para sufi menyebutkan bahwa ikhlash adalah melepaskan diri dari pada daya dan upaya. Apabila keikhlasan seseorang bisa sampai pada peringkat kedua ini, maka ia akan terhindar dari pada sifat riya, 'ujub, dan sum ah Dalam kitabnya Risalah fi Aqaid al-Iman Abdurrahman Shiddiq membagi riya dalam dua macarn, yaitu riya jali (yang nyata) dan riya khafi (yang tersembunyi). Riya jali adalah seseorang beramal di hadapan orang lain, tetapi apabila ia sendirian amalan itu tidak dikerjakannya Sedangkan riya khafi ialah seseorang beramal baik di hauapan orang lain
ataupun tidak tetapi dia suka kalau mereka berada di hadapanya
Sum'ah, ialah seseorang beramal sendirian kemudian dia menghabarkannya kepada orang lain, supaya mereka membesarkannya atau supaya dia mendapat kebajikan dari mereka.
Adapun 'ujub adalah seseorang merasa heran atas kepandaian dan kehebatannya.
Misalnya, seorang 'abid merasa kagum dengan ibadahnya, atau seorang alim merasa kagum dengan ilmunya.
2.2.6 Tawadhu'dan menjauhi takabbur.
Sifat tawadhu menunjukkan adanya keluasan akal dan pandangan, dan sebaliknya sifat takabbur menunjukkan kepicikan akal pikiran. Dia menegaskan, bahwa sifat takabur sangat dilarang oleh Allah SWT.. Orang takabur dikatakannya sebagai seorang yang celaka, oleh karenanya akan dimasukkan ke dalam api neraka.


2.2.6. Syukur dan Ridha
Abdurrahman Shiddiq menganjurkan hamba Allah agar selalu ridha terhadap qadha Allah, dan selalu bersyukur atas nikmat-Nya dan bersabar atas cobaan-Nya. Syukur ialah menggimakan nikmat yang diperoleh pada jalan yang diridai Allah SWT . Manusia harus mensyukuri pemberian Allah, ridha terhadap ketentuan-Nya, serta bersabar menanggung cobaan, untuk itu seseorang harus husn al-zhan kepada Allah. Selanjutnya ia membagi husn al-zhan kepada empat bagian. Pertama, seseorang berprasangka bahwa Allah mengasihinya. Kedua, berprasangka bahwa Allah mengetahui akan segala kesalahannya. Ketiga, berprasangka bahwa Allah mengampuni segala dosanya. Dan keempat, berprasangka bahwa segala yang tersebut itu mudah bagi Allah SWT.
2.2.8. Shiddiq
Abdurrahman Shiddiq menekankan pentingnya shiddiq (benar) dalam berperilaku sehari-hari, selalu benar dalam segala ucapan dan perbuatan. ^.J. Mahabbah
Dalam kitabnya Asrar al-Shalat min 'Iddat Kutub al-Mu'tamadah menyebutkan; "Adapun syarat-syarat sah iman itu, di antaranya mencintai akan Allah SWT. dan mencintai Nabi." Mahabbah kepada Allah adalah orang yang senantiasa melakukan tafakkur dan zikrullah.
2.2.10 Zikral-Maut
Setiap orang perlu menyadari dan menginsyapi akan adanya kematian. Kesadaran akan datangnya maut, merupakan pendorong bagi seseorang untuk bekerja keras untuk melakukan hal-hal yang menguntungkan dan menghindari yang merugikannya di alam akhirat.
Dalam ajarannya tentang taubah, zuhud, tawakal, shabar, ridha, shidiq, mahabbah, zikr al-maut, dan sifat-sifat terpuji lainnya. Ajaran taubah dan lain-lainnya itu disebutnya sebagai tarekat (jalan) yang menyempurnakan syariat dan ta'alluq (bergantung) pada hati serta diimplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian, menurut Abdurrahman Siddiq; ajaran taubah, zuhud, tawakal, shabar, ridha, shidiq, mahabbah, zikr al-maut dan sifat-sifat terpuji lainnya merupakan nilai etika atau akhlak yang akan diperjuangkan dan diwujudkan oleh seorang hamba dalam merambah kesempurnaan spritual dalam praktik ibadah.



2.3   Akhlak Kepada Pencipta
Dalam hal ini akhlak kepada pencipta budi pekerti yang baik atau akhlakul karimah kepada allah.akhlakul karimah kepada alah itu dapat di generalisasikan dengan istilah taqwa kepada allah berarti dia berbuat baik kepadanya. Sebab ktiteria taqwa kepada allah itu meliputi :
  • Mematuhi perintah allah dapat diwujudkan laranganya :
1        Taat dalam bentuk amalan dan ucapan yang telah ditentukan syarat dan rukunya misalnya : shalat, zakat, puasa haji.
2        Taat dalam bentuk amalan dengan niat ikhlas semata mencari ridha allah swt misalnya : infak, menolong orang lain dan lain sebagainya.
3        Taat dalam bentuk ucapan dengan niat ikhlas semata mencari ridha allah swt misalnya : membaca al-qur’an, berdzikir, membaca salawat dan lain-lain.
  • Menjauhi larangan allah, antara allah :
1        Jangan berbuat musrik kepada allah
2        Jangan berbuat kerusakan dimuka bumi, yaitu berbuat kejahatan.
3        Jangan berbuat sesuatu yang bisa membuat orang lain sakit hati, seperti su’udzun, hasud, mengolok-olok, memanggil dengan gelar yang jelek dan lain sebagainya.
Sebagai orang yang beriman, kita juga wajib bersyukur kepada allah swt, karena jika kita bisa bersyukur, allah kan memberi hikmah kepada kita, selain itu, kita harus merasa kecil dihadapan allah, tidak butuh apapun dari kita, sebab allah itu maha kaya dan maha terpuji. Karena itu, kalau kita bisa bersyukur kepada allah, janganlah sekali-kali merasa berjasa kepada-nya. Oleh sebab itu setiap orang tua wajib mendidik putra-putrinya tentang ketauhidan, yaitu mengesahkan allah dan tidak mempersekutukan sesuatun dengan-nya.
Secara garis besar akhlak kepada pencipta ini dapat dilakukan dengan mencintai-nya, mensyukuri nikmat-nya, takut akan adzab-nya, malu kepadanya untuk berbuat maksiat, selalu bertaubat, bertawakal, dan senantiasa berharap untuk mendapatkan rahmat-nya.
2.4  Manfaat-Manfaat bagi kesehatan
Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur'an adalah sikap memaafkan seperti yang tercantum berikut ini: Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf. Serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur'an, 7:199)
Dalam ayat lain Allah berfirman: "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu lidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun. Maha Penyayang." (QS. An Nuur. 24:22)
Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:
... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)
Juga dinyatakan dalam Al Qur'an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43)
Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur'an, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. AH "Imraan, 3:134)
Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.
Pemahaman orang-orang beriman tentang sikap memaafkan sangatlah berbeda dari mereka yang tidak menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an. Meskipun banyak orang mungkin berkata mereka telah memaafkan seseorang yang menyakiti mereka, namun perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati mereka. Sikap mereka cenderung menampakkan rasa marah itu. Di lain pihak, sikap memaafkan orang-orang beriman adalah tulus. Karena mereka tahu bahwa manusia diuji di dunia ini, dan belajar dari kesalahan mereka, mereka berlapang dada dan bersifat pengasih. Lebih dari itu, orang-orang beriman juga mampu memaafkan walau sebenarnya mereka benar dan orang lain salah.
Ketika memaafkan, mereka tidak membedakan antara kesalahan besar dan kecil. Seseorang dapat saja sangat menyakiti mereka tanpa sengaja. Akan tetapi, orang-orang beriman tahu bahwa segala sesuatu terjadi menurut kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir tertentu, dan karena itu, mereka berserah diri dengan peristiwa ini. tidak pernah terbelenggu oleh amarah.
Menurut penelitian terakhir, para ilmuwan Amerika membuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat baik jiwa maupun raga. Orang-orang yang diteliti menyatakan bahwa penderitaan mereka berkurang setelah memafkan orang yang menyakiti mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang belajar memafkan
merasa lebih baik ,tidak hanya secara batiniyah namun juga jasmaniyah sebagai contoh telah dibuktikan bahwa berdasarkan penelitian, gejala-gejala pada kejiwaan dan tubuh seperti sakit punggung akibat stress [tekanan jiwa], susah tidur dan sakit perut sangatlah berkurang pada orang-orang ini.
Memaafkan, adalah salah satu perilaku yang membuat orang tetap sehat, dan sebuah sikap mulia yang seharusnya diamalkan setiap orang. Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri seseorang.
Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa : Permasalahan tentang kemarahan jangka panjang atau yang tak berkesudahan adalah kita telah melihatnya menyetel ulang sistem pengatur suhu di dalam tubuh. Ketika Anda terbiasa dengan kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, Anda tidak menyadari seperti apa normal itu. Hal tersebut menyebabkan semacam aliran adrenalin yang membuat orang terbiasa. Hal itu memhakar tubuh dan menjadikannya sulit berpikir jernih — memperburuk keadaan.
Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka.
Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.
Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan,  satu bagian  dari  akhlak terpuji,  yang menghilangkan  segala
dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara labir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan .sebagaimana segala sesuatu lainnya ,haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur'an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.
























BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Bisa disimpulkan bahwa yang termasuk akhlak terpuji atau akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari secara umu yaitu sabar, wara; Qana’ah, Toleransi; Pemaaf, sedangkan menurut Syaikh Abdurrahman shidiq al Banjari yaitu Tafakur dan taubah, Al-zuhd, tawakal, sabarr, ikhlas dan menjauhi riya, tawadhu dan menjauhi takabur, syukur dan ridha, shidiq, mahabbah, zikir, al-maut.
Sedangkan wujud dari akhlak kepada pencipta dengan cara taat dan taqwa kepada-nya yaitu menjalankan perintahnya dan menjauhi laranganya dan ternyata dari hasil penelitian menunjukkan bahwa memelihara akhlak terpuji dapat memelihara kesehatan, contohnya pemaaf. Dengan menjadi seorang pemaaf, kita merasa lebih baik tidak hanya batiniyah tapi juga jasmaniyah.
Setelah kita mengenal dan mempelajari tentang kajian akhlak-akhlak terpuji, ternyata betapa indah dan bermanfaatnya berperilaku terpuji bagi kehidupan dan bagi agama islam. Hidup yang berpedoman pada agama merupakan petunjuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, jasmani maupun rokhani.
3.2  Saran
Setelah membaca makalah ini diharapkan pembaca yang merasa dirinya beriman dapat lebih memahami pengertian dan manfaat akhlak terpuji dan akhlak kepada pencipta sekaligus bisa mewujudkan dalam kehidupan sehari hari.













DAFTAR PUSTAKA

Purwanto,Edi, Safuwoh, Siti, 2008. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SMP JILID 3 Jakarta : Piranti
LKS Pendidikan Agama Islam CERAH SMP
LKS Pendidikan Agama Islam PRESTISE SMA
LKS Pendidikan Agama Islam GRAND STAR SMP
MGP Pendidikan Agama SMP.2007 ARUM. Magetan :
MGMP / MKKS SMP. Kabupaten Magetan.